“Muak dengan tagihan-tagihan rekening, termasuk tagihan untuk upacara pemakaman ayah, dan melihat diriku menatap hampa pada layer kaca yang kosong dan menangis, istriku minggat pada saat kondisiku baru saja akan membaik. Aku dihadapkan pada keadaan tanpa pilihan sama sekali kecuali melupakan ambisi menjadi sastrawan dan kembali pada pekerjaan lamaku di koran.”

(Javier Cercas, Prajurit-Prajurit Salamina, Serambi, 2005)

KURUNGBUKA.com – Usia menentukan pertaruhan nasib. Lelaki berumur 40 tahun mengetahui dirinya dalam nasib tak beruntung. Ia mengetahui segala kenyataan hidup yang seperti memaksanya untuk menyerah. Umur yang menjelaskan kedewasaan tapi kondisi sedang berantakan. Ia mesti menjawab masalah keuangan. Jawaban yang sulit untuk sampai benar. Yang diketahui adalah kebutuhan-kebutuhan yang besar tapi ketersediaan uang tidak mencukupi. Maka, hidup menjadi payah.

Apakah hidup hanya masalah uang? Ia menyadari kehormatan dirinya tidak terletak dalam uang. Namun, hari-harinya meminta jawaban berupa uang. Penundaan dan kegagalan makin membuatnya merana. Hidup yang belum mampu mendapat jawaban terbaik. Uang wajib dicari dan dikunpulkan, berlanjut dihabiskan untuk beragam kebutuhan. Artinya, uang bukan untuk dirinya sendiri.

Cerita yang disajikan Javier Cercas menjelaskan nasib lelaki yang mudah kalah gara-gara uang. Bagaimana ia mengartikan kalah yang memiliki susulan-susulan? Uang mungkin dapat segera dijawab melalui pekerjaan. Ada yang tidak lekas terpahami tapi meminta dipikirkan agar nasib tidak makin terpuruk. Lakon hidup lelaki yang menjauh dari keberuntungan-keberuntungan.

Kembali ke pekerjaan sebagai wartawan adalah usaha demi pemerolehan uang. Pilihan itu “terpaksa” tapi menumbuhkan kemauan terhindar dari kalah yang absolut. Ia menyadari bekerja sebagai wartawan menghasilkan uang yang tidak sekadar bayangan bila terus memenuhi hasrat menjadi sastrawan. Pada kondisi yang mendesak, ia mampu membedakan dua predikat, yang diukur menggunakan uang.

Jagat cerita dan berita berbeda dalam konsekuensi. Ia yang mengalami pernah serius menjadi sastrawan mengetahui persaingan yang sengit. Penulisan dan penerbitan novel tidak memastikan mendapat uang yang melimpah, tak ada jaminan terkenal. Yang terjadi adalah kepuasan dalam bersastra, bukan kepercayaan untuk hidup berdasarkan uang. Pada saat bekerja menjadi wartawan, ia mengetahui pekerjaan yang “menjemukan” tapi penghasilan uang dapat diharapkan.

Apakah urusannya selesai dengan pekerjaan dan uang? Yang tragis, ia ditinggalkan istrinya. Kita yang membaca cerita lekas mengerti bahwa istri tidak sanggup mengalami hidup yang tidak pasti. Suami yang terpikat sastra terbukti kesulitan dalam uang. Maka, pilihan meninggalkan itu lazim, yang mengesahkan bahwa kehidupan sastrawan terombang-ambing. Bahagia seperti kemustahilan bila terus hidup bersama obsesi kesusastraan.

Pada akhirnya, lelaki itu memihak kewarasan. Ia kembali bekerja dengan rasa malu dan harapan mendapakan gaji. Sastra dilupakan atau ditinggalkan sejenak. Padahal, saat bekerja sebagai wartawan, ia tetap saja berhubungan dengan sastra. Tugas wawancara atau liputan mengarahkannya dalam gejolak-gejolak sastra, yang menyeretnya ke sejarah di Spanyol. Jadi, usaha menampik sastra justru menmbuatnya berjalan ke sana.

Yang kita ingat, kondisinya selama dalam kenikmatan sastra tidak selaras dengan kehidupan nyata. Pada saat bersentuhan dengan sejarah Spanyol, ia mulai dibimbangkan: terus menjadi wartawan atau mengulang kemampuan dalam menggubah sastra. Pada umur yang bertambah, ia sadar tentang hidup yang sulit mapan. Pengalaman selama menjadi wartawan setidaknya memberikan bekal bertahan hidup tapi melupakan ambisi bersastra terasa sulit. Hidup pun bergelimang cerita bersamaan ia mengharuskan mampu menyodorkan berita-berita yang bertaut sejarah. Nasibnya tetap saja ditentukan sastra meski ada usaha-usaha agar tidak terjerat dan mengulangi kegagalan.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<