“Kupikir, aku akan gila. Ada yang terus menggelisahkan aku. Dan, aku sendiri tidak tahu itu apa. Itu mengerikan. Aku tak dapat tidur. Aku bisa menguasai diri hanya ketika keluar menghadiri perjamuan. Mimpiku macam-macam. Aku kehilangan nafsu makan. Aku hanya duduk dan memukul-mukul lantai selama berjam-jam, begitu saja pada siang yang panas.”

(Yasunari Kawabata, Daerah Salju, Gagas Media, 2009)

KURUNGBUKA.com – Manusia yang hidup dengan segala tanya berlatar abad XX memerlukan penjelasan, singkat atau panjang. Dulu, yang memberi jawaban bernama Freud, Jung, Fromm, dan lain-lain. Manusia yang tersiksa dengan beragam tanya disadarkan adanya tekanan-tekanan hidup. Yang menyadari risiko-risikonya berharap masih terus bertahan, berharap keselamatan meski tanpa jawaban yang lengkap. Abad XX, abad yang mulai menyingkap segala penderitaan manusia, yang diakibatkan perang, wabah, kemiskinan, bencana, dan lain-lain.

Yang mampu mengisahkan penderitaan manusia adalah sastra. Maka, yang membaca novel-novel perlahan mengetahui representasi manusia yang terjerat di arus rumit abad XX. Pembaca mengenali istilah-istilah yang dibahas para pakar, yang ingin mendefinisikan manusia dan mencari penyelesaian-penyelesaian. Keterasingan, kegilaan, bunuh diri, atau keterpecahan identitas menjadi tanda seru abad XX.

Novel-novel yang menguak dunia batin para tokohnya kadang mengajak pembaca ikut merasakan dan mengerti nasib manusia yang makin sulit bahagia. Yang menjadi momok dalam hidup ingin ditanggulangi tapi tidak cukup cuma obat dan khotbah. Di novel-novel yang terbit di pelbagai negara, kita membaca upaya-upaya manusia yang berhadapan absurditas dan kemustahilan-kemustahilan.

Di Jepang, Yasunari Kawabata bercerita sosok-sosok yang menanggung derita. Yang menjadi perhatian pembaca adalah geisha. Ia mengaku hampir mengalami kelemahan syaraf. Kita segera membayangkan situasi yang dialaminya ruwet. Hari-hari yang dialaminya membuat perjumpaan dengan tokoh dan kesadaran atas peristiwa menghasilkan makna-makna yang tidak semuanya memberi bahagia. Kehampaan dan kebingungan kadang menyergap.

Apakah gila adalah puncak dari kegagalan memberi jawaban atas daftar derita yang berkepanjangan? Pada abad XX, terjadi peningkatan terbitnya artikel dalam jurnal (internasional) dan buku-buku yang bertema kegilaan. Namun, yang sedang melawan banyak tekanan atau berusaha tidak jatuh dalam kegilaan belum tentu menjadi pembaca hasil-hasil penelitian yang memastikan kesialan abad XX. Mereka tetap berada dalam kehidupan yang tanpa disodori teori atau metodologi sedang menguasai ilmu pengetahuan secara global.

Di novel berjudul Daerah Salju, kita mengikuti para tokoh yang bergumul dengan perasaan-perasaan yang terang dan gelap. Gelisahnya tokoh itu keniscayaan. Ia menyadari tubuh, kota, pekerjaan, musim, dan lain-lain Gelisah tidak seharusnya menghancurkan tapi diusahakan mendapat penjelasan. Gelisah yang membuatnya susah tidur dan kehilangan nafsu makan menyatakan batas-batas kerapuhan manusiawi.

Yang mengalami gelisah sering tidak mampu mendefinisikan diri dan situasinya. Ia berharap bisa mengatasinya tapi derita tak mudah musnah. Yang menderita memerlukan “pertolongan”. Ia membutuhkan orang lain, obat, langit yang cerah, dan keajaiban.
Konon, segala derita yang dialami dapat diketahui melalui mimpi-mimpi yang ditafsirkan. Maka, abad XX mengenalkan teori-teori yang bersumber dari interpretasi mimpi, yang dianggap ilmiah. Dunia pernah gempar gara-gara mimpi. Pada perdebatan-perdebatan sengit, mimpi tidak boleh dibiarkan sekadar “bunga tidur”. Mimpi kadang dipercayai menyediakan alur penyebab, dugaan jawaban, dan pengendalian atas kondisi. Tokoh yang diceritakan Yasunari Kawabata sekadar menyatakan bermimpi macam-macam.

Pada akhirnya, tubuh adalah konsekuensi. Kegagalan dalam menguasai dan menenangkan diri adalah perbuatan-perbuatan yang mengisahkan penderitaan. Perbuatan menyakiti diri atau menghancurkan sesuatu itu sebenarnya menyadarkan kelemahan manusia dalam menjawab tumpukan masalah. Perbuatan yang bisa menambahi bobot kehancuran atau “mengembalikan” kemungkinan-kemungkinan percaya kewarasan.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<