KURUNGBUKA.com – Yang menulis buku bernama A Teeuw. Yang meresensi buku: Sapardi Djoko Damono. Resensi dimuat dalam majalah Tempo, 13 Agustus 1983. Semuanya sudah selesai. “Persekongkolan” yang berjanji memajukan sastra. Di hadapan tulisan itu kita adalah pihak yang merasa tidak kebagian apa-apa.
Pada masa 1980-an, A Teeuw masih (sangat) dibutuhkan dalam (kritik) sastra Indonesia. Mengapa orang asal Belanda itu memiliki pengaruh yang besar dan pesona yang tidak habis-habisnya. Ia telanjut mendapat pengakuan. Anggaplah A Teuuw dimanjakan di Indonesia. Yang memanjakan adalah universitas, penerbit, para pengarang, dan lain-lain.
Apa yang akan terjadi dalam sastra Indonesia bila tiada A Teuuw? Jawab saja: baik-baik saja dan meriah. Namun, sejak seratusan tahun yang lalu, sastra di Nusantara diurusi para sarjana asing dan pejabat kolonial. Mereka berkepentingan dengan tradisi lisan dean kemunculan teks-teks sastra. Maka, mereka melakukan pengumpulan, penelitian, dan mengadakan bunga rampai. Pastinya mereka berperan sebagai editor, pemberi pengantar, atau penafsir yang unggulan.
Jadi, kehadiran A Teeuw dalam pembahasan sastra klasik dan modern di Indonesia itu kelanjutan dari para leluhurnya yang “menguasai” sastra di Nusantara. Yang “menjengkelkan”, A Teeuw rajin membuat tulisan-tulisan mengenai sastra Indonesia. Ia pun mengajarkan secara serius. “Apes” lagi murid-murid setianya adalah orang-orang Indonesia yang tampaknya terlalu mengagumi dan “patuh”. Sehingga, A Teeuw cepat menjadi tokoh panutan. Ia tebar pengaruh dalam waktu yang sangat lama.
Bukti pengaruh yang menancap di sastra Indonesia adalah penrbitan buku-buku, perkuliahan, dan seminar. Sejak masa 1950-an, buku-buku A Teeuw atau artikelnya terlalu diminati para pembaca di Indonesia asal sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Pengaruh itu masih berlanjut pada masa 1980-an. Pada 1983, terbit buku berjudul Membaca dan Menilai Sastra. Buku yang ikut mengesahkan “campur tangan” Gramedia dalam menggiring atau ambil peran dalam perkembangan sastra di Indonesia.
Buku itu diresensi oleh pengajar di Universitas Indonesia, yang memiliki pesona besar dalam puisi-puisi. Sapardi Djoko Damono memiliki kedekatan dengan Goenawan Mohamad dan Tempo. Jadi, resensi satu setengah halaman itu ikut menimbulkan “pemitosan” A Teeuw. Beruntungnya orang Belanda itu yang tercatat dalam arus pengajaran dan kritik sastra di Indonesia.
“Keahlian dan perhatian A Teeuw terhadap filologi dan linguistik jelas merupakan sumbangan penting bagi perkembangan pemikirannya,” tulis Sapardi Djoko Damono. Perhatikan bahwa A Teeuw sebaiknya disebut filolog atau linguis. Ia tidak harus segera diakui sebagai kritikus sastra. Anehnya, ia mendapat halaman-halaman yang penting dalam sastra di Indonesia.
Kita lanjutkan membaca pendapat Sapardi Djoko Damono untuk buku terbitan Gramedia: “Bagi pembaca Indonesia umumnya, bahkan termasuk perngajar kesusastraan di perguruan tinggi, banyak konsep dan masalah baru dalam buku ini. Yang dikerjakan A Teeuw dalam kebanyakan karangannya ini sebenarnya ‘sederhana’, membicarakan berbagai pendekatan, teori, dan pandangan dalam ilmu sastra dalam kaitannya dengan sastra Indonesia klasik dan modern.
A Teeuw terlalu perhatian dengan sastra di Indonesia. Ia memiliki bacaan yang mengukuhkan dan menguatkan pengetahuan. Maka, ia yang membaca dan mengulas sastra (klasik dan modern) di Indonesia tampak mahir. Yang ditulisnya biasa dinilai bermutu. Wajarlah bila buku yang berjudul Membaca dan Menilai Sastra makin membuatnya menangan dalam kajian sastra di Indonesia.
Kapan nama A Teeuw mulai dilupakan dan ditepikan dalam sastra Indonesia? Masuk saja ke ruang-ruang perkuliahan sastra! Nama itu masih disebut. Beberapa bukunya yang lusuh dan ditebalkan debu masih ada di beberapa perpustakaan. Apakah kita bersalah jika tidak mementingkan lagi A Teeuw dan membiarkan buku-bukunya tertutup?
Sapardi Djoko Damono yang membaca bukunya dengan kesaktian dan ketulusan memberikan saran: “A Teeuw telah memulai usaha untuk membuka lembaran baru dalam penelitian dan kritik sastra Indonesia. Dan, sudah sewajarnyalah, para peneliti dan kritikus menjawabnya.” Kalimat yang membuktikan bahwa A Teeuw terlalu penting dalam sastra Indonesia. Konyolnya, beberapa tahun yang lalu tidak ada acara atau perbincangan besar untuk peringatan 100 tahun A Teeuw. Umat sastra di Indonesia mungkin berhasil lupa atau sanggup meminggirkan A Teeuw dan buku-bukunya saat sastra di Indonesia abad XXI makin ramai.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







