“Kalau kau membawa buku dalam perjalanan akan terjadi sesuatu yang aneh. Buku itu akan menyimpan kenangan-kenanganmu. Nanti kau hanya perlu membuka buku itu lagi, maka kau pun kembali berada di sana, di tempatmu membaca buku tersebut. Bahkan, sejak kata-kata pertama yang kaubaca, semua akan kembali di sekitarmu: gambar-gambar, bau-bauan, es yang kaunikmati sambil membaca buku itu… Percayalah, buku itu jadi seperti kertas antilalat, menarik segalanya ke dekatnya. Tidak ada tempat yang mengikat ingatan sebaik halaman-halaman yang dicetak.”
(Cornelia Funke, Inkheart, 2009)
KURUNGBUKA.com – Buku dalam perjalanan. Kita membayangkan orang duduk di gerbong kereta api. Duduk tenang untuk membaca buku. Kereta api melaju kencang, ia membuka halaman-halaman tanpa tergesa. Pembaca yang menikmati buku mengalami perpindahan tempat tanpa dirasakan wajar. Ia lebih memilih mengikuti cerita atau penjelasan dalam buku. Mata kadang terpejam atau berganti melihat di luar buku tapi dirinya tetap memihak buku.
Pemandangan lain: orang membaca buku dalam mobil, bis, atau pesawat terbang. Perjalanan yang mungkin tidak sia-sia jika pembaca memang terpukau bacaan. Ia akan melewatkan pemandangan atau obrolan tapi mendapat ganti yang tak sebanding. Perjalanan meminta orang membuat keputusan dalam perbuatan. Pembaca buku tak terlalu bersalah jika sepanjang jalan melulu bersama kata-kata di lembaran-lembaran kertas. Ia menempuhi “perjalanan” lain.
Buku dalam perjalanan mencipta kenangan. Kita berpikir sejenak sebelum mengangguk. Buku menjadi pengikat kenangan-kenangan. Pengertian yang bisa dibuktikan. Buku yang mengikat, membuka, dan menghidupkan kenangan.
Kita menganggap itu kenangan setelah peristiwa berlalu. Buku masih ada. Buku yang bertugas menyelamatkan yang silam. Pembaca tak kehilangan tapi menemukan dan memanggil lagi. Semua itu buku.
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












