“Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri”

Itulah potongan puisi Rako Prijanto yang dimusikalisasikan oleh Cinta (Dian Sastro) dalam scene adegan ia di kamar bersama Alya dan saat di sebuah kafe bersama Rangga dalam film AADC.

Artikel kali ini bakal membahas puisi-puisi karya penyair dan sastrawan Indonesia yang dimusikalisasi oleh para musisi tanah air. Ini salah satu upaya saya untuk mengenalkan kepada pembaca Kurungbuka.com, dan masyarakat luas umumnya, bahwa kita punya penyair-penyair keren yang bisa menulis puisi yang begitu indahnya. Kira-kira siapa sajakah mereka? Yuk, cuss~

  • Sapardi Djoko Damono – Pada Suatu Hari Nanti

Penyair yang wafat bulan Juli 2020 lalu ini, berusia 80 tahun. Di penghujung usianya dia juga pernah menerbitkan puisi duet dengan Rintik Sedu. Puisinya yang berjudul “Aku Ingin” sering kita temukan di dalam surat undangan pernikahan. Puisi itu juga pernah dimusikalisasi oleh Ari dan Reda. Puisi lainnya yang fenomenal, “Hujan Bulan Juni” yang sudah pernah difilmkan.

Keduanya mungkin sudah sering kita dengar. Tapi puisi Pada Suatu Hari Nanti jarang diperdengarkan, padahal, lagu yang berkisah soal kehilangan dan kepergian ini juga begitu syahdu untuk dinyanyikan dan didengarkan.

  • Chairil Anwar – Patah Tumbuh Hilang Berganti

Sastrawan atau pujangga angkatan ’45 ini puisinya berjudul “Aku” sering muncul di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Tapi rupanya, puisinya yang lain dimusikalisasi oleh band indie Banda Neira dengan judul, “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti”. Selain itu juga puisi “Derai-derai Cemara” sempat pula digubah oleh Banda Neira. Bagi kamu pendengar lagu galau, pasti tahu lagu itu.

  • Widji Thukul – Bunga dan Tembok

Lagu ketiga ini puisi seorang penyair dan aktivis Hak Asasi Manusia di Indonesia. Dia merupakan salah satu tokoh yang ikut melawan penindasan rezim Orde Baru. Sejak 1998 sampai sekarang dia tidak diketahui keberadaannya, dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer.

Puisinya “Bunga dan Tembok” dinyanyikan oleh Fajar Merah, putra sulungnya. Liriknya masih relevan dengan keadaan Indonesia masa kini. Selain itu puisi ini juga sering dibacakan atau diorasikan oleh mahasiswa ketika sedang berdemo.

  • Taufiq Ismail – Tuhan

Puisi legendaris ini pernah dijadikan lagu oleh dua musikus, yakni Bimbo dan Gigi. Keduanya sukses dalam membawakan musikalisasi puisi tersebut. Selain “Tuhan”, puisi “Sajadah Panjang” dan “Ada Anak Bertanya pada Bapaknya” juga pernah dibawakan dua pemusik itu. Banyak beberapa puisinya memang beraroma relijius.

  • Wira Nagara – Perayaan Patah Hati

For Revenge, Band beraliran pop-progresif, kali ini menggandeng Wira Nagara untuk project terbarunya berjudul “Perayaan Patah Hati”. Sajak ini ditulis oleh Wira Nagara. Dia dikenal sebagai stand up comedian yang selalu membawakan materinya dengan persona pujangga atau puitis. Dia penulis generasi kiwari yang sudah menerbitkan buku puisi juga berjudul “Destilasi Alkena”. Lagunya yang nge-beat membuat kita terbawa pada suasana musiknya yang asyik~

 

Itulah 5 daftar puisi yang dilagukan oleh beberapa musisi tanah air. Pilihan ini murni inisiatif dari saya dan yang paling saya sukai. Tanpa bermaksud membandingkan karya yang satu lebih baik dari yang lainnya.

Memang sudah semestinya karya sastra semacam puisi bisa dibawa ke medium lain seperti lewat musik, film, dan web series yang sedang digandrungi saat ini. Agar, kecintaan kita pada bahasa Indonesia semakin besar dan ingin sama-sama merawatnya.

Seperti dalam slogan yang sering digaung-gaungkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa berbunyi: “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing”. Apa puisi andalanmu? Silakan komentar, ya~~