KURUNGBUKA.com – (08/03/2024) Obituarium telah dibuat untuk Abdul Hadi WM. Di Indonesia, ia tercatat sebagai penggubah puisi. Ia mendapat pujian dan mendapat tempat terhormat. Di sela-sela berpuisi, ia menulis esai-esai mengusung misi besar: “sastra sufistik”. Sejak mula, ia tidak tiba-tiba menjadikan gubahan puisi dan esai selaras.

Yang dinikmatinya dalam menggubah puisi masa awal masih berkaitan dengan Madura. Ia bergerak dari Madura ke kota-kota besar, mengalami pasang-surut estetika dalam berpuisi. Situasi politik dan pergaulan intelektual-kultural mungkin yang akhirnya membentuknya menentukan jalan untuk ditempuhi: “sastra sufistik”.

Ia menceritakan masa lalu: “Lingkungan pergaulan dan rumah? Ya, barangkali ada juga pengaruhnya.” Ia mengenang masa kecil, mengetahui kakek dalam kenikmatan sastra Jawa dan Madura klasik.

Pada saat bertambah umur, ia mulai mengetahui: “Saya merasakan bahwa dorongan untuk menjadi penyair lebih ditentukan oleh naluri dan kemauan yang keras…  Di sini pengetahuan kemanusiaan dan kebudayaan menjadi amat penting bagi saya : pengetahuan yang banyak mewartakan tentang kreativitas manusia dan dinamikanya sepanjang sejarah. Terutama dalam keadaan manusia menghadapi kesulitan-kesulitan atau tantangan besar.” Penjelasan dimunculkan setelah tidak terlalu yakin dengan bakatnya.

Yang akhirnya menuju kota-kota dan mendapatkan sumber-sumber pengetahuan, sadar pentingnya dalam bersastra. Kita diingatkan tentang ketekunan yang tidak pernah selesai. Artinya, dalam menulis sastra yang diperlukan bukan sekadar mempelajari bacaan-bacaan sastra.

Abdul Hadi WM menyadari pergaulan intelektual-kultural dan kesanggupannya menanggapi situasi politik saat menulis puisi-puisi. Ia tidak terlalu memutlakkan bakat.

(Pamusuk Eneste (editor), 1984, Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang II, Gramedia)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<