KURUNGBUKA.com – (22/01/2024) Peran bagi para penggubah puisi bukan peran yang recehan. Mereka ada dalam persinggungan masalah-masalah, yang menentukan nasib keluarga, komunitas, negara, dan dunia. Peran-peran sengaja dimainkan tapi kadang diberikan agar menanggungkan kewajiban-kewajiban, selain pemenuhan hak-hak kebebasan.

Yang dilakukan mengandung konsekuensi-konsekuensi. Yang memberi puisi, yang “menerima” tuntutan atau penghukuman yang besar dan kecil. Pada situasi yang mudah dan sulit, peran menimbulkan dilema-dilema.

Octavio Paz (1985) mengingatkan: “Para penyair seakan-akan memelihara dan memberi pupuk pemikiran-pemikiran Hobbes dan Locke, Marx dan Tacqueville.” Kita menyadari peran yang menggebu. Yang menulis puisi bertambah peran dalam kubangan politik atau ideologi.

Di arus pemikiran, yang hadir dalam pembesaran dan penyangkalan tidak hanya kaum politik, intelektual di universitas, atau pihak-pihak yang bertempur untuk kemenangan-kemenangan politik dan modal di dunia. Para penggubah puisi ikut bersuara.

Yang menyindir: “Ini adalah suara-suara dari penyair-penyair tragis dan para pelawak, suara melankoli yang kesunyian dan bersukaria, suara tawa dan keluhan-keluhan, suara-suara pelukan para pecinta dan suara-suara meditatif…” Orang-orang membaca puisi disambung mendengarkan suara-suara yang melampaui sastra.

Di akhir, Octavio Paz sodorkan renungan: “Untuk mendengar suara-suara itu adalah mendengar waktu itu sendiri, waktu yang lewat tetapi senantiasa datang kembali, berubah menjadi kristal-kristal suku kata.” Kita yang menerimanya dari masa lalu tapi seperti “kemarin” dan “dekat”. Yang berusaha dimengerti adalah puisi dan suara-suara yang tidak niscaya sastra.

(Octavio Paz, 2010, The Other Voice: Suara Lain, Komodo)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<