“Tamara sangat memuja Mario. Mario Curtez adalah pahlawannya dan pahlawan bagi kami semua.” Itu ucapan Tamara di sebuah stasiun radio, sebagai pernyataannya untuk mendukung pergerakan para gerilyawan yang menuntut kemerdekaan dari pemerintah republik. Pemerintah dianggap telah menyengsarakan rakyat dengan melakukan monopoli ekonomi.

   Ada yang bilang, dia intel Uni Sovyet. Ada pula yang bilang perempuan ini intel CIA yang mengkhianati Mario Curtez. Beredar pula bisik-bisik bahwa dia pacar gelap Mario Curtez. Dia hanya memanfaatkan Mario Curtez demi kepentingannya sendiri. Bahkan ada beberapa kabar, yang entah dari mana sumbernya, bahwa Tamara telah mati ditembak oleh polisi pemerintah, ketika dia nekad menembus pagar batas, mencari suaka ke negara tetangga.

   Perang terus berkecamuk hingga berbulan-bulan lamanya. Suatu hari pada September 1972, dia mendengar kabar di radio soal kedatangan sekelompok gerilyawan yang dipimpin Mario Curtez dan Bonzo di daerahnya.

   “Saat itu aku tak tahu betapa seriusnya masalah itu. Aku juga tak tahu siapa Mario Curtez. Aku hanya mendengar bahwa dia pemimpin kelompok itu dan sangat pintar,” Emile menuturkan kepada Journal Times beberapa waktu lalu.

   Mario Curtez, yang lahir dan tumbuh besar di Portugal, datang ke Leste bersama beberapa gerilyawan Bawah Tanah pada awal November 1971. Dia datang dan menyamar sebagai pengusaha dan menggunakan paspor Australia atas nama Luiz Caesar. Di tangannya juga ada paspor lain dengan nama Ramon Horte. 

   Awalnya, Mario Curtez berharap dapat mengulang revolusi komunis ala Berlin dan menyebarkannya ke negara-negara lain di Asia. Dengan dalih berdagang dan berbisnis, Mario Curtez ingin membentuk kekuatan baru sebagai gerilyawan. Tetapi beberapa saat kemudian, dia beralih menjadi dokter sesuai keahliannya, dan banyak melakukan penyuluhan ke sekolah-sekolah, yang cukup memprihatinkan dengan keadaan kesehatan para murid dan guru-guru.

   Beberapa waktu lalu, Mario Curtez juga ikut kelompok pergerakan yang menggulingkan Presiden Yugoslavia, Joseph Broz Tito. Sebagian besar anggota kelompok gerilyawan itu mati tertembak. Mario terluka dan tertangkap. Maka setelah kebebasannya, Mario yang berambisi jadi pemimpin rakyat tertindas, berusaha terus berjuang meski harus pergi dari negaranya.

***

   Seorang penembak jitu, yang bersembunyi di atas pohon telah bersiap menembak ke arah seorang perempuan yang berdiri di antara kerumunan anak-anak sekolah. Dalam hitungan detik hampir dipastikan perempuan itu tersungkur dan mati. Tetapi entah kenapa tidak dilakukannya. Penembak itu bahkan sudah berhari-hari mengintai perempuan itu. Seorang guru tari yang ditengarai sebagai mata-mata kelompok anti-pemerintah.

   Dalam ilmu perang, filosofi kuat menjadi sebuah harga mati. Terbunuh atau membunuh. Penembak jitu itu, tiba-tiba mengingat kenangan lama yang melintas dalam benaknya, bagaimana ibunya telah menyelamatkan nyawanya dari kepungan pemberontak di kala ia masih kecil. Seorang ibu  memang memiliki naluri yang sangat kuat untuk selamatkan anaknya dari marabahaya.

   “Jika engkau besar dan menjadi tentara, janganlah engkau membunuh para wanita sekalipun itu musuhmu. Karena dari rahimnya akan terlahir benih-benih ilmu bagi dunia.”

   Ini pesan ibunya, ketika mereka akhirnya kembali pulang ke rumah setelah para pemberontak dikalahkan tentara revolusi. Di masa hidupnya, perang terus berkecamuk hingga akhirnya, ketika dewasa ia menjadi seorang militer.

   Pada hari itu Emile berniat pergi ke sekolah, tapi betapa paniknya dia mendengar suara baku tembak. Seorang tentara republik menghampirinya dan menenangkan Emile.

   “Jangan takut, ibu guru, perang gerilya ini sudah selesai,” kata sang prajurit.

Menjelang senja, Emile melihat dari kejauhan tentara membawa Mario Curtez dan Bonzo ke sekolahnya. Tapi dia tak bisa melihat jelas seperti apa kedua tawanan. Di radio, tersebar kabar bahwa Mario Curtez mati dalam baku tembak. Padahal Emile melihat sendiri Mario Curtez ditawan di sekolahnya. Merasa penasaran, keesokan harinya Emile pergi ke sekolah. Prajurit republik menjaga ketat gedung sekolah itu. Emile berdiri di depan pintu, mencoba melihat ke dalam ruangan, tapi kelewat gelap.

   “Emile, kamu mau bertemu Mario Curtez? Masuklah!” seorang prajurit yang mengenalnya menyapa Emile.

   Begitu masuk dalam ruangan, laki-laki itu, Mario Curtez, menatap Emile. Aku balas menatapnya. Aku tersenyum dan merasa malu, tapi jelas aku sangat terkejut, kata Emile. Dia bak tersengat listrik.

   Penampilan gerilyawan kondang itu memang sungguh gembel. Berbulan-bulan bergerilya di hutan dan terus berlari dari kejaran tentara republik, penampilan bukan hal penting.   

   “Penampilannya memang seperti gelandangan, tapi matanya bersinar terang,” Emile menuturkan. Tatapan mata Mario Curtez itulah yang menyihirnya.

   “Aku tak percaya dia tidur dengan banyak orang. Dia tak memerlukannya. Dia tahu bagaimana memanipulasi laki-laki tanpa perlu tidur dengannya.”

   Mario Curtez memuji penampilan Emile, membuat gadis itu makin tersipu. Aku bertanya kepada dia, mengapa dia bergerilya? Dia bilang karena idealismenya. Dia bilang dia berperang untuk mereka yang hidup kekurangan, mereka yang hidupnya terampas. Dokter yang beralih jadi gerilyawan itu minta makanan. Aku memberinya sup. Dia langsung makan dengan lahap. Saat Mario menyantap makanannya, Emile tak berhenti menatapnya.

   Setelah Mario makan, prajurit menyeretnya keluar. Dalam diam, Mario menatap Emile.  

   “Pandangan matanya hari itu tak pernah aku lupakan, tertato di hatiku selamanya. Tidak mungkin aku tidak jatuh cinta kepadanya,” kata Emile, hampir setengah abad setelah pertemuan itu.

   Beberapa saat setelah bertemu dengan Emile, Sersan Salazar mengeksekusi Mario Curtez. Ada yang mengatakan kepada intel dari sebuah spionase yang bermarkas di Balava, bahwa seorang perempuan yang sangat mirip dengan wajah Emile, bernama Tamara telah mengkhianati Mario Curtez. Sehingga pada kesempatan yang lain, seorang yang ditugaskan sebagai penembak jitu, hampir saja menghabisi Emile.

   Tamara yang awalnya jadi pemburuan di awal-awal gejolak di Leste itu, sebetulnya pernah bertemu dengan Mario Curtez di Berlin. Sayangnya, berita kepergiannya tertutupi karena ada campur tangan pemerintah Amerika. Sehingga Emile yang wajahnya mirip dengan Tamara, hampir saja tewas di tangan penembak jitu pemerintah. Belakangan terkuak Emile, hanyalah seorang guru di sebuah desa terpencil.

   Dari pertemuan Mario dan Tamara, menjadi buah cinta di antara pergolakan perang. Mario memang mengagumi Tamara, karena wanita itu sangat tangguh dan cerdas. Dalam pandangan Mario, gadis itu juga sama-sama punya obsesi tentang pergerakan pembebasan rakyat tertindas.

   Seorang wartawan perang untuk Sunday Times, Harald Brown yakin, Tamara tak pernah berkhianat. “Dia orang yang ramah, cantik, dan baik. Tapi dia juga tangguh, bahkan sangat tangguh.”

   Harald Brown meninggal di London satu setengah tahun kemudian. Hanya punya waktu singkat sebelum dikirim ke Leste, Mario menempa Tamara dengan semua kemampuan tempur dan bergerilya: menembak, menggunakan pisau, memakai rupa-rupa alat komunikasi, dan bertahan hidup di hutan. 

   “Kadang kami berlatih sampai menjelang tengah malam. Tapi dia tak pernah mengeluh. Dia paham, kami hanya punya waktu singkat sebelum berangkat ke hutan. Saat aku bilang dia boleh istirahat jika sedang datang bulan, dia malah tertawa. Dia bilang, ‘Apakah seperti itu yang terjadi di hutan: supaya tak menyerang saat aku datang bulan, dia ingin diperlakukan sama dengan laki-laki.” Tulisan Harald Brown ketika mengenang Tamara. 

   Maka ketika Tamara sudah dianggap menguasai ilmu perang, dia kemudian ditugaskan ke Leste. Sejak itu, kontak Mario dan Tamara semakin hari semakin sulit. Akhirnya setelah melewati masa-masa sulit di Yugoslavia, Mario Curtez memutuskan bergabung dengan Bonzo di Leste. Nasib berkata lain, selama di Leste, Mario tak pernah menjumpai Tamara. Tetapi pertemuannya dengan Emile seolah mengiang kisah lama bersama Tamara.

   Mario pernah berangan-angan, beberapa tahun silam ketika masih bersama Tamara. Ia ingin menjadikan Tamara sebagai perempuan terakhir dalam hidupnya, tetapi menjadi seorang gerilyawan adalah sebuah pilihan yang telah terpaku di dadanya.

***

   Kini Emile membuka kembali buku yang pernah ditulisnya. Kejadian hampir setengah abad silam seakan membekas di buku itu. Bagaimana ia menatap lekat mata seorang Mario, yang terlanjur sohor dengan sebutan gerilyawan. Senja menghampiri Emile, yang duduk di teras rumahnya.

   Emile tidak lagi menjadi guru, dia sudah pensiun. Hari-hari dilewatinya bersama teman-teman lamanya yang masih hidup. Suatu ketika, Emile jatuh sakit dan akhirnya harus di bawah ke dokter. Setelah menunggu beberapa menit, Emile disilakan masuk ke ruangan praktik dokter.

   Betapa terkejutnya Emile ketika melihat dokter yang ada di hadapannya. Ia sampai melupakan dirinya kalau lagi sakit.

   “Bukankah kamu Mario yang dulu berjuang?”

   “Betul, dan kamu pasti Emile. Sekarang saya bukan lagi gerilyawan, karena saya betul-betul seorang dokter,” jawab Mario.

Mereka tertawa terbahak-bahak.

Image by istockphoto,com

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia dan membagikan berita-berita yang menarik lainnya. >>> KLIK DI SINI <<<