KURUNGBUKA.com – (12/04/2024) Yang sudah berlalu masih menggairahkan untuk orang mengolah kata-kata. Babak-babak awal kehidupan di keluarga yang biasa dijadikan pijakan-pijakan gubahan sastra. Yang dialami secara biografis, yang menentukan capaian-capaian estetis. Kehidupan itu mendekam di ingatan, mewujud dalam usaha “kekal” melalui tulisan-tulisan.

Penggunaan masa lalu tidak bisa serentak dalam teks sastra tapi perlahan dan bersebaran dalam waktu-waktu penulisan disengaja atau tak terduga. Masa lalu yang dibawanya kadang permainan tafsir yang berkepentingan sastra.

Seamus Heany mengisahkan masa 1940-an, kehidupannya dalam keluarga yang berada di desa: “… kehidupan yang akrab dan jasmaniah, suara malam dari kuda-kuda di kandang yang bersebelahan dengan dinding  suatu kamar berbaur dengan suara-suara percakapan orang dewasa dari dapur, yang bersebelahan dengan dinding kamar lainnya.”

Ingatan membentuk hasrat sastra. Ia terlalu memunculkan ingatan-ingatan yang puitis: “Tentu, kami menerima segala yang sedang  berlangsung – hujan di pepohonan, tikus di langit-langit, kereta uap yang bergemuruh di sepanjang real, sebentang ladang di belakang rumah – tetapi kami menerimanya seakan-akan dalam tidur di musim dingin.”

Kita yang berbeda tempat dan musim ikut merasakan semuanya itu puisi. Ia terlalu peka dengan suasana dan peristiwa, sebelum memberikan gubahan sastra: “… dalam ketegangan antara yang kuno dan modern, kami menjadi serentan dan serawan air yang menggenang di ember di dapur kami: tiap-tiap kali kereta lewat mengguncang bumi, permukaan air itu biasanya menetes dengan lembut, membentuk lingkaran-lingkaran konsentris dan suasana hening.” Sosok puitis sejak dini.

(Tia Setiadi, 2015, Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, Diva Press)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<