KURUNGBUKA.com – Film Kang Solah from Kang Mak X Nenek Gayung mengisahkan Solah Vincenzio (Rigen Rakelna) yang kembali ke kampung halamannya setelah petualangan dan perjuangannya di film sebelumnya, Kang Mak from Pee Mak. Bersama tiga sahabatnya—Fajrul, Jaka, dan Supra—Solah pulang dengan harapan akan disambut sebagai pahlawan usai berperang. Namun begitu tiba di desa Sisilia Sari, ia justru menghadapi kejadian tak terduga: para warga malah mengira dirinya hantu.

Kebingungan Solah semakin menjadi ketika ia mengetahui bahwa cinta lamanya, Dara Gonzales (Davina Karamoy), akan menikah. Namun yang membuatnya terpukul bukan hanya karena Dara bukan lagi miliknya, tapi karena calon mempelai pria tersebut adalah adiknya sendiri, Iqbal Vincenzio. Konflik pribadi ini menjadi pemicu emosi utama Solah di tengah situasi desa yang kacau dan penuh salah paham.

Di tengah kekecewaan itu, muncul teror dari sosok legendaris bernama Nenek Gayung (Asli Welas), hantu pemandi jenazah yang sedang memburu korban baru untuk dimandikan. Sosok ini menjadi ancaman bagi seluruh warga desa, terutama menjelang pernikahan Dara dan Iqbal. Keadaan membuat Solah dan kawan-kawannya harus kembali berjuang, bukan hanya untuk melawan rasa takut menghadapi Nenek Gayung, tapi juga demi menyelamatkan pesta pernikahan yang sudah di ambang kekacauan. Dalam misi itu, mereka mendapat bantuan dari Kang Mas Pusi (Andre Taulany), seorang dukun eksentrik yang punya gaya khas dan logika yang sering kali absurd.

Film ini merupakan spin-off dari Kang Mak from Pee Mak (2024), sebuah film horor komedi Indonesia yang disutradarai oleh Herwin Novianto dan dibintangi oleh Vino G. Bastian, Marsha Timothy, Indro Warkop, Tora Sudiro, Indra Jegel, dan Rigen Rakelna. Dirilis pada 15 Agustus 2024, film tersebut merupakan hasil adaptasi dari film hit asal Thailand berjudul Pee Mak. Jika di film pertama mereka pulang mengantarkan Kang Mak, maka kali ini mereka mengantarkan Kang Solah. Tampaknya, semesta film ini memang disiapkan untuk berlanjut lagi dengan dua film tambahan yang akan mengisahkan kepulangan sahabat-sahabat lain ke kampung halaman masing-masing.

Sayangnya, humor di Kang Solah X Nenek Gayung tidak sekuat yang diharapkan. Lelucon soal nama Eropa seperti “Solah Vincenzio” terasa dipaksakan dan tidak pas secara komedik. Banyak guyonan yang seolah dipaksakan hanya untuk menciptakan tawa, tapi justru terasa canggung dan kehilangan timing. Format komedinya pun terulang terus—repetitif dari awal hingga akhir—tanpa variasi dalam gaya maupun ritme.

Masalah lain muncul dari ketidakkonsistenan timeline dan dunia cerita. Di satu sisi, film menggambarkan Solah seolah baru kembali dari perang—yang memberi kesan cerita berlatar masa lampau—tapi di sisi lain, segala hal di desanya justru modern: rumah, pakaian, bahkan peralatan sehari-hari, termasuk namanya yang berbenturan antara sebutan Neng dan Kang dengan nama Eropa. Ketimpangan ini membuat logika dunia yang dibangun terasa berantakan. Seolah semua bisa terjadi sesuka hati, tanpa aturan atau batasan yang jelas dalam dunia filmnya sendiri.

Selain itu, film ini juga banyak menampilkan inside jokes dan referensi personal antar pemain. Misalnya interaksi antara Andre Taulany dan Kenzy, yang di dunia nyata adalah anak kandung Andre sendiri. Alih-alih menambah kelucuan, justru terasa seperti lelucon internal yang sulit dinikmati oleh penonton umum karena konteksnya terlalu spesifik.

Meski begitu, ada beberapa momen yang cukup menghibur, terutama ketika Rigen dan Indra Jegel tampil dalam adegan debat mereka. Chemistry keduanya masih terjaga dan berhasil menyalakan tawa di bioskop, walau tidak cukup kuat untuk menutupi kekacauan naskah. Di luar itu, banyak dialog dan komedi yang terasa miss bahkan cringe.

Ceritanya sendiri sebenarnya punya potensi bagus, terutama dalam menggabungkan unsur drama personal dengan elemen horor komedi. Namun sayangnya, sejak awal film sudah dibuat terlalu komikal—semua karakternya cenderung dilebih-lebihkan dan tidak berusaha dibuat relatable dengan penonton bahkan unsur horornya tipis sekali. Alhasil, sulit untuk benar-benar peduli pada konflik yang dialami tokoh-tokohnya.

Twist di akhir cerita pun mudah ditebak. Tidak ada kejutan berarti, karena arah film sudah bisa dibaca sejak pertengahan. Padahal, jika tim penulis berani sedikit menahan lelucon dan memberi ruang bagi ketegangan serta emosi karakter, Kang Solah X Nenek Gayung bisa jadi pengalaman tontonan yang lebih solid.

Namun, pada akhirnya film ini tampaknya memang tidak ingin terlalu serius. Ia dibuat hanya untuk bersenang-senang dan tertawa tanpa memikirkan logika cerita. Sayangnya, komedi yang dihadirkan pun terasa tanggung. Tidak cukup lucu untuk menjadi film komedi murni, dan tidak cukup tegang untuk menjadi horor yang berkesan.

Skor: 6/10