“Seandainya saja, ia bisa memetakan seluruh dunia, alih-alih mengandalkan kisah-kisah para pedagang dan pengelana yang sering saling bertolak belakang ketika menggambarkan bentuk Cina atau bagian bawah India. Aneh sekali, mereka kerap menggunakan jenis-jenis buah yang berbeda untuk menggambarkan suatu wilayah yang sama. Sebuah pulau kecil di luar Cina menjadi sebutir leci atau sebuah apel, bagian bawah India menjadi sebuah mangga atau pir.”
(Tariq Ali, Seorang Sultan di Palermo, Serambi, 2007)
KURUNGBUKA.com – Pada abad XXI, kita tidak lagi bingung atau sulit mengenali pelbagai pulau atau negeri. Pengetahuan itu mudah diketahui dalam gawai. Kita tinggal mencari dengan hitungan detik. Yang dipilih pun macam-macam berkaitan gambar dan keterangan . Bagi yang memerlukan “lengkap”, yang tersaji bisa melebihi gambar dan kata. Peta yang bergerak dan bersuara makin membuat kita “menguasai” dunia.
Konon, informasi-informasi yang penting secara benar dan utuh diketahui sebagai perwujudan dunia yang makin “mengecil”. Penentunya adalah teknologi. Artinya, orang yang membuat peta dan menggunakan peta mendapatkan beragam kemudahan. Peta bukan ilmu yang terlalu misterius seperti berabad-abad silam. Peta yang benar, salah, bohong, dan khayalan bisa dipelajari menggunakan sokongan ilmu mutakhir dan teknologi. Namun, masih saja ada yang misterius di dunia. Peta tentu masih menyimpan misteri, yang bertahan selama ratusan tahun.
Yang kita baca dalam novel gubahan Tariq Ali adalah peta. Kita menghadapi kata-kata, yang menggubungkan ke masa silam. Yang sempat melihat peta lama digunakan dalam sampul sisi dalam mungkin sedikit mendapat bantuan imajinatif. Bagi yang mencukupkan dengan kata-kata, berimajinasi mengikuti kemauan pengarang justru sangat menantang. Yang utama adalah peta. Dunia masa lalu, dunia yang diihat di peta berupa lembaran. Sekian peta adalah gulungan. Ada peta yang dipajang. Ada peta yang dipelajari bersama saat digelar di meja.
Tokoh yang dihadirkan Tariq Ali adalah ilmuwan yang paham peta. Ia berkelana di banyak tempat untuk makin mendalami peta. Selama berada di kapal, ia menjadi sosok yang diburu banyak pertanyaan. Tugasnya adalah menjawab. Peta dibuatnya untuk menjawab keinginan banyak orang mengetahui “seluruh” dunia, tidak hanya sedikit pulau.
Yang diceritakannya adalah peta yang dipengaruhi beragam keterangan dan pengalaman para pedagang dan pengelana. Uniknya perbedaan penggambaran peta menimbulkan pengetahuan sekaligus “hiburan” yang akhirnya menjadi gosip. Kita membayangkan masa lalu yang dipengaruhi kapal, laut, pulau, tokoh, kitab, dan lain-lain.
Kesungguhan membaca bagian-bagian dalam novel mengenai peta memicu kita menyadari “sengketa” yang terjadi berakibat dalam perdagangan (dunia) dan kekuasaan. Para penguasa yang menginginkan dunia membutuhkan peta. Adanya para ilmuwan sangat menentukan kebenaran peta dan segala ilusi yang menular cepat. Dulu, peta adalah kekuasaan. Peta pun digunakan dalam sebaran dan persengketaan iman, yang menimbulkan derita berkepanjangan. Peta adalah penentu.
Tariq Ali “menghibur” kita dengan pengisahan bahwa penandaan suatu tempat menggunakan nama dan gambar buah. Kita mengira itu menandakan sumber hasil bumi setempat meski ada gejala-gejala persaingan keilmuan. Ada yang menjadikan buah-buahan adalah cara bertarung untuk mendapatkan pengakuan mengenai pengalaman dan petualangan yang terjadi. Sekali lagi, kebohongan dan kesalahan biasa menimbulkan kelakar dan perbantahan.
Pada peta, yang dilihat adalah dunia. Yang tampak adalah tempat-tempat yang sudah didatangi dan tempat-tempat yang ingin ditemukan dan dipastikan untuk dicantumkan dalam peta. Maka, peta terus mengalami perubahan akibat pengetahuan yang berubah dan pengalaman yang memerlukan waktu lama dengan pengelanaan tanpa jaminan selamat selama di lautan dan daratan.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<













