“𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙝𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧 𝙞𝙣𝙞 𝙟𝙞𝙠𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙩𝙪.”

KURUNGBUKA.com – Menamatkan buku bagus selalu meninggalkan kepuasan tersendiri setelahnya. Hal berikutnya yang terjadi adalah saya akan sangat hati-hati memilih bacaan karena ekspektasinya sudah cukup tinggi. Novel “The Kite Runner” mampu memberikan pengalaman menyenangkan itu.

Dibanding teman-teman saya, boleh dibilang saya cukup telat bertemu buku ini, tapi sebagaimana istilah yang kita kenal bahwa buku lama adalah buku baru bagi mereka yang belum membacanya. Terbit pertama kali tahun 2003 dan diterjemahkan tahun 2006—beruntungnya saya mendapatkan cetakan pertama dari penerbit Qanita ini.

Novel perdana karya Khaled Hosseini mengisahkan tentang persahabatan dua bocah Afghanistan, Amir dan Hassan di tahun circa 1975-an. Petualangan yang menyenangkan, campur aduk, dan penuh gejolak karena di masa invasi Uni Soviet dan seterunya dengan Thaliban serta berbagai intrik di dalamnya. Khaled mampu menangkap peristiwa itu lewat kacamata Amir-jan.

Khaled tidak berusaha bermegah-megah dengan narasi dan majas-majas yang dihadirkan. Kisah yang dituturkan mengalir dan disampaikan dengan sederhana namun detail di setiap halamannya. Kita seperti membaca buku harian Khaled yang lugu, polos, dan apa adanya. Tidak ada upaya menutup-nutupi kejadian. Tokoh-tokoh yang dia hadirkan selayaknya manusia utuh yang tidak luput dari dosa dan cacat cela.

Namun, justru karena kesederhanaannya itu, kisah dalam novel ini terasa begitu dekat. Pembaca dijamu layaknya kawan lama Khaled, lalu diajak masuk ke rumahnya dan seharian menghabiskan waktu bersamanya, mendengarkan ia bercerita, sehingga tanpa terasa langit di luar sudah gelap.

Sesungguhnya saya sama tidak siapnya dengan Amir ketika mendapatkan fakta-fakta hidupnya yang dibeberkan oleh Rahim Khan kepadanya. Banyak sekali harapan-harapan yang saya taruh seiring jalannya cerita namun dipatahkan begitu saja. Dan, sesungguhnya begitulah kehidupan yang kita hadapi. Terlalu banyak kejutan!

Karakter-karakter yang muncul memberikan pelajaran hidup yang di beberapa momen membuat saya termangu agak lama. Apalagi prinsip hidup Baba, ayah Amir, yang begitu tegas dalam mendidik anaknya. Lewat narasi dan latar waktunya, novel ini mengajak kita bernostalgia ke masa lalu di masa kanak-kanak yang hidupnya hanya main, main, dan main.

Pendekatan simbolik tentang permainan layang-layang adalah kecermatan yang patut diacungi jempol. Apalagi permainan ini bisa dengan mudah ditemukan di sebagian besar negara sehingga mudah untuk merasa related.

Wajar belaka novel ini menyandang predikat best seller di seluruh dunia versi New York Times dan dialihwahanakan ke film (saya takut mau nontonnya khawatir kecewa) karena kisah persahabatan yang disuguhkan mampu menggugah rasa empati sekaligus memporak-porandakan perasaan pembaca; untuk kemudian bertanya kepada siapa harus berpihak? Hanya nuranimu yang akan mampu menemukan jawabannya~

Skor:
Untukmu, keseribu kalinya/10.