Deras Sungai untuk Muzanni
denting itu telah melupakan dunia, muzanni. kita meluncur ke dalam gelap nan jauh.
di manakah emak dan bapak? mereka sedang menengok surga, katamu. tidur,
muzanni, tidurlah di atas deras sungai. cintailah batu-batu dan suara serangga.
mereka menjaga dan terjaga selamanya. untuk kita, muzanni. untuk semua
kebahagian yang jatuh dan tumbuh di muka bumi. merenunglah esok pagi, katakan
pada hati kecilmu: terkadang manusia durhaka pada dirinya sendiri. menangislah
untuk bapak dan emak. mereka sungai tempat kita tertawa dan meremaja. lupakan
segala yang membuatmu malas hidup. misteri, muzanni. kita dibiarkan menatap
keangkuhan di bawah sana. suara-suara meminta kita menyerah pada uang dan
harta benda. tapi kita tidak boleh hidup miskin, muzanni. kemiskinan itu malapetaka
sepanjang zaman. tak satupun nabi dapat menyelamatkan umatnya dari kemiskinan.
mendekatlah pada batu-batu besar, muzanni. dengarkan suara dari dalam batu. kita
kan mendengar jutaan mulut mengunyah nasi rames. mengambanglah, muzanni.
biarkan tubuhmu menjadi lumut atau kangkung.
bangun dan mandilah, muzanni. jangan biarkan dunia patah berkali-kali.
Mataram – Jogja, 2025
***
Son Chan
Kami bertemu di lorong berwarna air. Son Chan mengenakan baju dan sepatu yang
terbuat dari kulit mentari pagi. Dan dibawakannya aku wajah musim gugur.
Di kedai roti,
Son Chan mendongeng kota yang hilang ditelan hujan. Suara kecilnya menumbuhkan
rumput, momiji dan sakura.
Kami sarapan di atas rumput di antara pohonan, sambil merindukan dunia tak
berteknologi.
Boneka jam di stasiun menari tepat pukul sebelas. Semua mahkluk bermalas-
malasan. Menghitung siang yang sedikit memar.
Son Chan berjalan ke arah pelangi. Mengajakku berpesta sepanjang hari. Menghirup energi sekuat cinta dan sendiri.
Narita – Jogja,2024-2025
***
Rumah Kecil
Ada yang harus bicara ketika tubuh menua. rambut enggan disisir dan bunyi
dengkul memukul mukul.
Aku membaca warna sore tengah membakar masalalu dari sudut paling brengsek.
Ada yangharus bicara ketika semua ingin hidup sejahtera. Politik dan ekonomi
bergetar menatap cuaca dunia. Teman-teman berubah selembar uang.
Aku menggambar jejak para leluhur tuk mengembalikan keberanian hidup dan mati.
Orang-orang menghitam. Tubuh-tubuh memuai. Segenggam rumah bertunas di
dadaku. Beratap dan berdinding lupa.
Terdengar napas seorang pertapa
Rogocolo – Atelir Ceremai, 2025
*) Image by istockphoto.com







