KURUNGBUKA.com – (28/06/2024) Tahun-tahun yang berlalu, yang memberi pengalaman baik dan buruk bagi pembaca atau penulis, tetap saja memunculkan pertanyaan yang menjemukan. Yang akan berulang disampaikan: “Untuk siapa menulis novel? Mengapa menulis puisi? Siapa yang mau membaca? Siapa yang akan memuliakannya di lemari atau rak buku?”

Kita juga mengingat deretan pertanyaan, yang kadang menanti jawab. Namun, kita malu-malu menjawabnya. Pada saat mendapat jawaban-jawaban dari orang-orang yang ampuh, kita kadang menyimaknya.

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah dijawab oleh Italo Calvino (1967). Ia memberi keterangan: Pada 1945-1950, novel ditulis untuk diletakkan di rak yang pada dasarnya bersifat politis atau historis-politis untuk ditujukan kepada pembaca yang terutama tertarik pada budaya-politik dan sejarah kontemporer tetapi yang ‘kebutuhan’ sastranya tampaknya juga mendesak untuk dipenuhi.”

Ia menggunakan latar Italia. Masalah itu mungkin terjadi pula di negara-negara lain, novel-novel yang ditulis sangat erat dengan gejolak politik atau hasrat warga yang melek politik. Yang menulis novel mengerti sasaran dan kehormatan.

Pada masa yang berbeda, menulis dan membaca novel itu berbeda kehendak atau pengaruh-pengaruhnya. Italo Calvino mengamatinya melalui selera pembaca dalam menaruh novel-novel di rak. Artinya, selera itu akan diketahui orang lain yang melihat tatanan buku di rak. Pembaca yang ditentukan guncangan politik atau geliat sastra.

Italo Calvino menyatakan: “Dalam sastra, penulis menyadari bahwa rak buku kebanggaan dipegang disiplin ilmu yang mampu memecah fakta sastra ke dalam elemen utamanya…” Yang menulis novel nasibnya di rak.

(Italo Calvino, 2022, Maslahat Sastra, Basabasi)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<