“Sejak hari itu, ia mulai memerangi duka citanya dengan tekad baja, tanpa bantuan siapa-siapa kecuali gunungan permen dan mandi berlama-lama. Saat malam, ia sering berendam di bak mandi mulut berjejal kue-kue, tapi tidak lagi menangis. Menjelang Natal, ia keluar dari pengasingannya dengan tambahan berat beberapa kilo tapi emosinya stabil. Takjub mendapati bahwa dunia terus berputar tanpa kehadirannya dan tak seorang pun merindukannya, yang menjadi insentif lain untuk bangkit lagi selamanya. Ia bertekad agar jangan sampai dirinya diabaikan. Umurnya baru saja enam puluh tahun dan ia berencana hidup tiga puluh tahun lagi, sekalipun hanya untuk membuat takut semua orang di sekitarnya.”
(Isabel Allende, Portrait in Sepia, Gramedia, 2012)
KURUNGBUKA.com – Duka dialami orang dengan beragam sebab. Ada yang berduka tiba-tiba. Artinya, ia tidak pernah menyangka dengan suatu peristiwa, yang menyebabkan segalanya berubah. Yang berduka kadang sudah sedikit mengetahui bahwa dirinya akan menanggungkan hidup yang berbeda setelah peristiwa-peristiwa yang saling berhubungan. Mengapa duka membuat orang dalam terpuruk? Kita kesulitan mengartikan duka bila mengetahui pengalaman orang-orang yang berduka melampaui kewajaran.
Orang yang berduka tampak menjadi sosok yang (sangat) berbeda. Konon, kondisi itu menunjukkan ketidakmampuan dalam mengendalikan diri. Duka yang pendek dan panjang ditentukan oleh kesabaran sekaligus keberanian agar semuanya berhikmah, tanpa harus memberi beban beruntung.
Yang kita baca adalah tokoh yang berduka dalam novel. Artinya, ia sebenarnya dapat mewakili orang-orang yang berduka gara-gara perpisahan, kematian, kehilangan, dan lain-lain. Duka yang dimiliki diketahui oleh orang lain. Yang tidak mudah ditebak adalah dampak dan kedalaman duka yang sedang ditanggungkan. Maka, orang bisa mendadak berubah dari diri yang terdahulu.
Apakah yang berduka cukup hanya dengan menangis atau meratap? Ungkapan perasaan atau emosional sedikit menjelaskan taraf duka. Kita pun diharapkan mengetahui bahwa dua memiliki beragam taraf, yang menjadikan orang cepat pulih atau (terlalu) lama untuk bangkit. Pada saat semuanya berkurang atau selesai, orang itu sebenarnya mengalami babak-babak yang sulit terjelaskan.
Isabel Allende mengajak kita mengikuti pengalaman duka yang membuat tokoh berjarak dari dunianya. Ia berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan menagalami hidup seperti biasanya. Yang terjadi adalah ia menyingkir, bersembunyi, menepi, atau bergeser. Diri yang mengurung diri atau disiksa duka yang “menyempitkan” segalanya akan melakukan perbuatan-perbuatan yang aneh.
Yang dilakukannya adalah mandi dalam waktu yang lama. Apakah itu cara membersihkan segala kesedihan? Ia membutuhkan “kesendirian” tapi mengerti bahwa duka tidak banyak berkurang. Maka, ia menyempurnakan usaha agar selamat dengan menikmati permen dan kue. Ia tidak sedang berputus asa. Yang dilakukan itu kemungkinkan-kemungkinan tidak terpuruk. Yang diperolehnya adalah bobot tubuh yang bertambah. Namun, berat itu bukan kesalahan. Duka yang membuat orang melakukan konsumsi “berlebihan” memang sewajaranya menjadikan tubuh dan perilakunya berubah.
Duka bukan cuma dampak-dampak untuk tubuh. Emosi yang terpenting dalam kemauan pulih. Orang yang pelan-pelan meninggalkan duka tetap akan menghadapi persoalan-persoalan yang pelik. Yang terjadi adalah dunia yang terus berputar dan berubah. Diri yang berada dalam “pengasingan” merasa telat mengikuti arus dunia. Yang terpenting adalah keinsafan: ingin memasuki lagi pergaulan dan bergerak di dunia yang ramai.
Yang ditemukan pembaca: duka pun usia. Perempuan itu menyadari umurnya tapi meyakini masih mampu berada di dunia sampai puluhan tahun lagi. Ia seperti membuat janji bahwa dunia tetap membutuhkannya. Yang benar, ia tidak mau kehilangan dunia. Maka, peran yang bakal dimainkannya boleh penting atau sepele. Yang niscaya adalah dirinya dan dunia. Duka tetap memberinya hak membentuk masa depan.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











