KURUNGBUKA.com – Saya selalu menantikan karya-karya Darmawati Majid, khususnya yang berkaitan dengan kebahasaan. Dalam buku terbarunya, Gratis Ongkir: Kelindan dan Sengkarut Bahasa (GPU, 2025), Darma tidak hanya menyajikan esai-esai kebahasaan yang renyah, tetapi juga mengajak kita melihat bahasa Indonesia dari sudut pandang yang lebih kritis, menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi yang netral. Sebaliknya, Darma menunjukkan bagaimana bahasa bisa menjadi medan pertempuran, sekaligus alat diplomasi politik, sehingga ia menyebutnya “kelindan dan sengkarut bahasa”. Inilah yang membuat saya merasa bahwa karyanya ini amat penting dan wajib dibaca.
Kelindan Eufemisme dan Politik Kata
Salah satu poin utama yang Darma kupas adalah kemampuan bahasa untuk memperhalus atau bahkan menutupi maksud yang sesungguhnya. Kita sering kali dihadapkan pada kata-kata atau frasa yang sedang tren dan tanpa sadar telah mengubah perspektif kita, khususnya yang datang dari kebijakan pemerintah. Darmawati membawa kita pada fakta bahwa pemerintah secara tidak tegas menggunakan eufemisme—kata-kata yang dilembutkan untuk menghindari kata-kata yang kasar, tidak pantas, atau tabu.
Dalam esai “Bunga Latar,” Darmawati dengan jeli menyoroti hal ini. Mengutip dari bukunya, ia menulis: “Eufemisme dipakai untuk memperhalus sesuatu yang kasar dan tidak patut”. Penggunaan eufemisme ini pada akhirnya dapat menciptakan bunga latar—istilah yang Darma kutip dari KBBI Daring yang diartikan: ki, pelacur, wanita tunasusila. Ini seolah menjadi istilah yang digunakan untuk melindungi diri di balik bahasa, seperti penggunaan bahasa retoris untuk menutupi bahwa suatu hal itu tidak baik, namun terdengar baik-baik saja.

Sebagai contoh nyata, Darmawati menyoroti bagaimana frasa “keluarga prasejahtera” digunakan untuk menggeser makna dari yang sesungguhnya, yaitu “keluarga miskin”. Dengan kata lain, di balik pilihan kata tersebut, ada kepentingan besar yang ingin disamarkan oleh pemerintah.
Analisis tajam Darmawati tidak berhenti di situ. Ia juga mempreteli frasa “orang dalam”. Darma melihat frasa ini adalah cara unik bahasa Indonesia untuk melanggengkan praktik nepotisme. Frasa ini mewakili tindakan yang cenderung mengutamakan (menguntungkan) keluarga dan kerabat dekat di dunia kerja dan kampus. Ironisnya, Darma juga menunjukkan bagaimana frasa ini hadir sebagai humor gelap di kalangan pencari kerja, dengan sinisme seperti: “Nilai bukan segalanya, yang penting punya orang dalam”. Penelusurannya bahkan sampai pada akar kata “orang” dari KBBI daring yang diartikan sebagai anggota dari satu golongan, yang dalam konteks ini adalah kode yang hanya dipahami oleh kelompok tertentu.
Frasa lain yang dibedah adalah “uang pelicin”. Darma mengungkap bagaimana istilah ini diartikan dalam KBBI daring sebagai “uang yang diberikan untuk melancarkan urusan; uang semi; beri; suap; uang penyuap; uang semir; uang sogok”. Ia menyimpulkan bahwa istilah ini adalah eufemisme yang digunakan untuk melapisi kejahatan korupsi dengan kata-kata yang lebih licin, bahkan di beberapa daerah istilah ini diganti dengan “uang rokok”. Semua ini adalah perwujudan dari keinginan untuk mendudukkan jabatan publik di atas daya dan kapasitas yang dimiliki.
Menggugat Otoritas Bahasa
Darmawati juga mahir membongkar fenomena bahasa yang terjadi di masyarakat. Ia menyoroti frasa “tegak lurus” yang menjadi narasi politik yang sangat dominan menjelang pemilihan umum 2024. Dengan merujuk pada asal katanya dari bidang geometri—yang berarti “berdiri tegak membentuk sudut 90 derajat”—Darmawati memperlihatkan bahwa istilah ini diseret ke dalam ruang publik untuk membentuk sikap kepatuhan, kesetiaan, dan keimanan yang tak boleh ditawar-tawar. Ia menyimpulkan bahwa sikap “tegak lurus” ini pada akhirnya bisa jadi sekadar budaya ‘ikut-ikutan’ yang melanda para elite politik.
Dalam esai lainnya, Darma juga jeli melihat bagaimana otoritas bahasa bergeser. Ia mengamati fenomena frasa populer seperti “kena mental”. Ia mengulik transformasi bahasa ini dari dunia game ke dunia nyata dan mempertanyakan apakah kata “kena” ini menggantikan fungsi awalan ter- yang berarti tidak sengaja, sebab kata kena sering diikuti oleh kata kerja pasif. Ini menunjukkan bagaimana Darmawati tak hanya mengulas dari KBBI, tapi dari berbagai kamus terminologi dan perbandingan, serta dari tren yang disalahpahami oleh kebanyakan orang.
Ajakan untuk Mencintai Bahasa dengan Kritis
Saya kagum bagaimana Darmawati menjabarkan banyak hal yang berangkat dari satu kata atau satu frasa. Yang saya tangkap dari seluruh tulisan Darmawati Majid adalah ia tidak berupaya menjadi polisi bahasa, namun ia ingin kita sebagai masyarakat jangan mau dibodohi oleh bahasa sendiri.
Buku ini adalah ajakan yang kuat untuk merawat bahasa dengan kehati-hatian, ketelitian, dan cinta, sehingga kita tidak membiarkan bahasa Indonesia menjadi “bahasa yang menjajah” atau merampas akar budaya kita. Ini adalah upaya kita untuk semakin mengenal dan mencintai bahasa negara kita sendiri.
beruntungnya, sejak bulan lalu, kamu sudah bisa membaca kolom bahasa yang ditulis Darmawati Majid di website ini secara gratis. Klik tautan berikut: Omon-Omon Bahasa – Darmawati Majid











