“Beberapa waktu sebelum aku berangkat ke Tokyo menjadi geisha. Aku tak punya uang waktu itu, jadi kubeli buku catatan polos yang harganya dua atau tiga sen dan menggarisinya sendiri. Mungkin karena ujung pensil kuraut runcing sekali, garis buatanku bisa halus dan teratur rapi. Dan, setiap halaman buku catatan itu padat tulisan, dari ujung atas hingga ujung bawah. Ketika aku punya cukup uang untuk membeli buku harian, semuanya berubah. Aku tak mau repot-repot lagi. Begitu juga dengan kebiasaanku menulis catatan harian. Sebelumnya, aku menulis lebih dulu di kertas koran bekas lalu memindahkannya ke kertas bagus. Tetapi, sekarang aku langsung menulis di kertas bagus.”

(Yasunari Kawabata, Daerah Salju, Gagas Media, 2009)

KURUNGBUKA.com – Pengarang ampuh di Jepang dan meraih Nobel Sastra, bercerita kepada kita dengan cermat dan lambat. Yang membaca terpukau tapi mengantuk bila lengah. Ceritanya memang mula-mula di kereta api tapi pembaca jangan meminta kecepatan. Yasunari Kawabata tidak ingin gegabah dalam bercerita atau mencari sensasi yang picisan. Wajarlah kejadian di kereta api justru memberi kesan lambat saat pembaca memperhatikan tingkah tokoh-tokoh dan percakapan batin. Kereta api itu cepat. Nostalgia dan pengharapan di hari-hari mendatang lebih lambat ketimbang jatuhnya salju.

Yang menjadi perhatian pembaca adalah geisha. Ingatlah, kita tidak sedang menonton film-dokumenter atau film-drama di layar besar. Kita membaca lembaran-lembaran kertas yang memuat cerita. Halaman-halaman yang membawa kita ke Jepang: pelesiran perasaan. Cerita yang digubah memang kuat dalam bimbang dan gejolak perasaan para tokoh. Kita memang melihat tempat-tempat tapi yang terpenting adalah memasuki dunia batin tokoh-tokoh yang menanggung derita, pengharapan, sesalan, dan gamang.

Geisha itu bercerita dirinya. Babak sebelum menuju Tokyo, ia ingin hari-harinya bercerita meski sedih, buruk, dan letih. Kita yang membaca ikut mengerti keinginan-keinginan dan siasat dalam mengalami hari-hari dengan tafsiran tubuh dan kata. Sejak halaman-halaman awal, kita sudah mampu membayangkan geisha, Menyusun biografi yang tidak secepat laju kereta api.

Ia menulis di catata harian. Permasalahan yang bisa dijawabnya adalah uang, buku, dan cerita. Uangnya cuma sedikit, yang berakibat dalam pemerolehan (jenis) buku yang digunakan untuk tulisan-tulisan harian. Lembaran-lembaran yang polos. Mata kita yang ikut melihat polos atau kosong menantikan huruf-huruf. Perempuan itu menugasi dirinya untuk memberikan huruf-huruf. Namun, peristiwanya tidak mudah. Ia tekun membuat garis, yang menginginkan nanti tulisan-tulisan bisa rapi, cerminan dari diri yang meniscayakan rapi dalam segalanya. Garis-garis yang dibuat memerlukan kekuatan dan waktu. Ia tidak bisa lekas membuat tulisan walau cerita yang mengalir dari dirinya tiba-tiba menderas. Buku yang murah, yang tidak membuat hidupnya “murahan”. Ia bercerita, yang memberi derajat kehormatan saat melakoni hidup.

Benda yang sangat penting baginya adalah pensil. Di tangan, pensil bergerak menghasilkan tulisan. Sejak mula, ia bertanggung jawab agar pensil memberi kemudahan dan kelancaran. Maka, ia menjadi sosok yang memuliakan pensil. Tangan yang lembut untuk menggerakkan pensil, yang merekam hidupnya agar kelak teringat.

Kita melihat buku polos yang mendapat garis dan ditulisi kata-kata. Perempuan yang menulis, perempuan yang tidak ingin membebani dunia. Ia percaya kata-kata yang dituliskannya mampu memberi kekuatan saat lemah dan menggirangkan saat mendapat serpihan-serpihan terang dalam hidup.

Pada akhirnya, ia memiliki uang. Kebiasaan dan benda pun berubah. Ia berhasil memiliki buku harian tanpa menggarisi lagi. Apakah ia merasakan kenikmatan lebih dengan buku bukan polos? Ia memang tidak repot lagi tapi ada hal-hal yang hilang. Pada suatu saat ia justru sebal mengetahui halaman-halaman itu berhari dan bertanggal. Padahal, ia terbiasa menulis panjang, yang berakibat melewati halaman-halaman berhari dan bertanggal. Yang terjanjikan adalah ia menulis dirinya, menaruh segalanya dalam kata-kata di kertas.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<