“Saat kau mencintai sebuah kota dan sering menjelajahinya dengan berjalan kaki, tubuhmu dan jiwamu akan mengenal segala sudut jalannya dengan baik setelah beberapa tahun merasakan semacam kesedihan yang akan terbangkitkan hanya oleh segumpal salju yang jatuh. Kau akan menemukan tangkai-tangkai kakimu menyeret tubuhmu dengan sendirinya ke salah satu sudut dunia kesukaanmu.”

(Orhan Pamuk, My Name Is Red, Serambi, 2006)

KURUNGBUKA.com – Tubuh adalah memori. Tubuh yang dulu akan memiliki simpanan-simpanan pengalaman, yang akan tersingkap melalui rindu dan pencarian. Yang berlaku adalah “penyimpanan” dalam batas-batas waktu yang ditentukan oleh pergi dan pulang. Memori atau kenangan yang terbuka saat berada di jarak yang jauh kadang menimbulkan hasrat keutuhan. Namun, hitungan waktu yang lama atau sebentar berpengaruh atas kaitan-kaitan dari beberapa memori, yang samar atau terang.

Yang diceritakan Orhan Pamuk adalah manusia dan kota berlatar abad XVI. Pengarang asal Turki itu menghidupkan kota-kota dengan segala kesibukan yang terus berubah. Kota-kota yang bernama dalam gairah dan lelah. Yang menandai kota adalah segala peristiwa dan tubuh-memori. Pada saat kehadiran kembali atau pulang, narasi kota mengalami pencocokkan melalui perbandingan masa lalu yang tersimpan dalam tubuh dan hal-hal yang berubah.

Kota yang dulu tetap ada dalam pengalaman-pengalaman yang terbaca lagi lewat tubuh. Kita berada di tempat yang jauh dari kota yang diceritakan tapi “mendekat” melalui tokoh yang meyakini kota dalam tubuh. Kota yang tidak menghilang di titian waktu. Kita membayangkan kota yang belum ribut oleh mesin dan berhukum kecepatan. Maka, tokoh yang berjalan kaki itu mengabarkan pengenalan dan pemilikan terhadap kota. Yang terpenting adalah tubuh bergerak di kota. Memori dalam tubuh itu dikukuhkan oleh jiwa yang berpijak kota.

Pada suatu hari, ia meninggalkan kota menuju kota yang lain. Kepergian dengan alasan yang teringat tidak sepele. Yang berada di tempat jauh tidak berarti berpisah dari kota. Ia masih memilikinya dengan tubuhnya, yang tidak lagi bergerak di jalan, pasar, atau rumah. Yang terbawa dalam pergi menyisakan janji untuk kembali. Penentu tidak sepenuhnya rindu. Panggilan pulang kadang berdasarkan hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan bakal terjadi.

Yang ikut kita lihat dalam memori-tubuh dalam My Name Is Red adalah jalinan kesedihan dan salju. Yang membaca masa lalu, yang mengerti sedih pernah menyiksa. Ia menanggung asmara, yang tak terjawab dengan indah.

Pergi adalah usaha meredam sedih, malu, dan sesalan. Pada saat kembali, kota yang berubah tidak menghilangkan jejak-jejak asmara. Namun, ia menyadari itu sedih yang selalu menguat dengan kesilaman. Sedih yang terbangkitkan saat kota mendapat hujan salju. Yang dilihatnya adalah salju yang tampak sebagai kesedihan.

Kita mengiranya itu puitis. Lelaki di jalan saat salju berjatuhan. Ia sedang berjalan ke masa lalu. Ia menghidupkan sosok-sosok yang bersamanya belasan tahun yang lalu. Pulang membuatnya mengerti ada yang orang-orang mati, menghilang, dan masih meneruskan biografinya. Ia dirundung pertanyaan-pertanyaan, yang sebagian menemukan bukti dan jawaban. Namun, salju itu memberi ingatan yang sedih.

Di jalan, ia “merekonstruksi” diri dan kota. Yang berjalan, yang menghidupkan lagi. Tatapan mata ke segala arah adalah ikhtiar mempertaruhkan lupa dan ingat. Di kota, yang pulang akan mendapatkan sebagian yang dimilikinya pada masa lalu. Sebagian yang lain, ia merasa kehilangan tapi ingin mencarinya meski gagal. Situasi itu mengikutkan pembaca dalam pembayangan yang jauh menuju abad XVI di kota yang terbaca dalam cerita atau sobekan sejarah.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<