KURUNGBUKA.com – Beberapa pengarang besar di Indonesia mulai bergairah membuat cerita atau puisi sejak kecil. Mereka menulis di buku atau lembaran-lembaran untuk disimpan. Ada yang berani mengirimkannya ke koran atau majalah. Yang dikirim itu tulisan tangan atau tulisan dengan mesin tik?

Dulu, beberapa majalah dan koran memiliki rubrik untuk anak. Isinya adalah cerita, puisi, pengalaman, gambar, dan lain-lain. Rubrik untuk anak-anak bertujuan agar mereka merayakan imajinasi setelah disiksa oleh banyak pelajaran di sekolah. Yang mau menulis berarti terhindar dari “rezim pelajaran”. Yang membuat tulisan-tulisan kadang menjadi bentuk pembebasan atau perlawanan.

Pada masa lalu, ada majalah-majalah yang memanjakan anak: Kunang-Kunang, Si Kuncung, Gatotkaca, Bobo, Ananda, dan lain-lain. Artinya, anak-anak memiliki kesempatan untuk bergelimang imajinasi. Di majalah keluarga dan umum, rubrik atau sisipan untuk anak juga memberi daya tarik yang besar. Pokoknya, yang gandrung membuat tulisan dan bercita-cita menjadi pengarang turut disokong oleh koran dan majalah, selain adanya majalah dinding di sekolah.

Ada anak yang menuruti gairah menulisnya tanpa menunggu tugas dari guru atau dituntut oleh materi pelajaran. Namun, ada yang dibimbing oleh orangtua atau orang-orang yang dianggap mampu meningkatkan kemampuan mengarang. Pada lomba-lomba mengarang, apa-apa yang dihasilkan anak-anak itu mendapat nilai dan berhak meraih penghargaan. Bagaimana lomba-lomba berpengaruh dalam biografi anak untuk berketetapan menjadi pengarang? Apakah ikut lomba hanya selingan saat masa kecil dan remaja, yang nantinya cita-cita sudah berubah?

Lomba-lomba kadang diadakan oleh penerbit koran, majalah, pemerintah, atau lembaga-lembaga. Yang masih bisa ditelusuri dalam perkembangan sastra anak adalah majalah dan koran ketimbang lomba-lomba yang dokumentasinya sering tidak lengkap.

Majalah yang berpengaruh di Indonesia namanya Bobo. Majalah untuk anak-anak, yang mula-mula meniru dari majalah yang terbit di Belanda. Isinya iktu memciu anak-anak membuat tulisan atau gambar. Di halaman-halaman Bobo, geliat sastra terasakan meski bagi para pembacanya mudah tergoda oleh iklan-iklan.

Di majalah Intisari edisi September 1986, dimuat iklan majalah Bobo, yang menampilkan majalah jadi rebutan anak-anak. Rebitan ditandai dengan beberapa tangan yang ingin meraih dan memegangnya. Artinya, Bobo digemari ribuan anak di Indonesia. Majalah yang semestinya tercatat dalam arus pekermbangan sastra anak di Indonesia.

Yang disampaikan: “Memberikan kesempatan kepada anak untuk menyenangi bacaan pilihannya berarti memberi kesempatan kepada anak-anak menjadi lebih cerdas dan kreatif. Anak-anak yang suka membaca itu sudah membahagiakan. Anak-anak yang berlanjut gawe tulisan itu capaian. Selama bertahun-tahun, Bobo mampu “membentuk” selera anak-anak. Buktinya, majalah itu rutin terbit dan laris.

Yang tidak menulis sejak kecil tapi saat besar menjadi pengarang mungkin mengakui Bobo adalah penumbuh semangat baca. Dulunya, mereka mungkin langganan atau menumpang baca saja. Bobo benar-benar berpengaruh, yang akhirnya mengenalkan cerita dan puisi. Pada perjalanan waktu, Bobo dianggap bacaan yang “bergizi” untuk perayaan imajinasi.

Kita seharusnya mencatat nama-nama pengarang yang bermasa lalu Bobo ataiu dipengaruhi Bobo. Kini, Bobo sudah tidak terbit. Usaha mendokumentasi atau mencatat hubungan mereka dengan Bobo cukup menjadi “data” daam penyusunan perkembangan sastra anak di Indonesia, dari masa ke masa.

Yang ingat, penerbit tidak hanya rutin menerbitkan majalah Bobo. Ada edis terbitan buku-buku, yang merupakan tulisan-tulisan pilihan dari beberapa nomor Bobo. Jadi, ada anak-anak yang suka membaca dan mengoleksi buku-buku Bobo. Bentuk buku memudahkan menaruh di rak atau lemari. Kesan yang diperoleh pun berbeda ketimbang dengan membaca lembaran-lembaran majalah.

Kita yang tertarik sastra anak dapat menyusun tulisan panjang bereferensi majalah dan buku-buku cap Bobo. Yang terpikirkan adalah suburnya sastra anak masa lalu dibandingkan masa sekarang. Penegertian yang bisa dibantah. Sejak majalah Bobo pamit, apakah ada majalah-majalah baru atau pengganti muncul?

Kini, kita menyadari majalah tidak lagi memiliki daya pengaruh besar kepada anak-anak. Sastra anak tetap bergerak tapi tidak lagi tergantung majalah. Kita yang kangen biasanya mencari dan membeli lagi Bobo lama. Pada masa yang berbeda, cara baca kita pun berubah sambil menanggungkan “sesalan” atas zaman yang terlalu cepat berubah. Bobo menjadi (sumber) kenangan yang indah.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<