Di sebuah pantai yang indah, hidup dua ekor kepiting yang bernama April dan Marun. Mereka adalah kepiting yang sudah lama tinggal di sana. Mereka selalu bahagia saat hidup di Pantai itu. Sampai akhirnya manusia mengenal lautan, terutama pantai.

Pantai tempat mereka tinggal mulai dijadikan tempat wisata. Mereka jadi tak tenang hidup di sana. Apalagi manusia tidak dapat menjaga kebersihan Pantai dengan baik. Pantai jadi kotor dan tidak terlihat seindah dulu. “Dasar manusia. Tidak bisa menjaga alamnya dengan baik. Padahalkan  dulu ini rumah kita, malah mereka ambil alih,” cibir Marun sambil menggerutu.

Suatu pagi, di saat April sedang asyik bermain di dekat terumbu karang. Ia melihat lebih dari satu terumbu karang yang mati. Ia pun menyelidiki sebab terumbu karang itu jadi seperti ini. Ternyata ada pabrik limbah plastik di dekat Pantai yang pembuangan limbahnya bocor ke laut.

“Wah ini nih sumber masalahnya,” kata April kesal. Walaupun April sudah tau sumber masalahnya, ia tetap bingung harus melakukan apa.

Ia pun menghampiri Marun dan memberitahu peristiwa yang ia lihat. “Marun! Tadi aku melihat ada pabrik yang limbahnya bocor ke laut. Terumbu karang tempatku bermain jadi mati semua,” kata April sambil kesal sekaligus sedih.

Marun kaget, karena ia juga sering bermain di sekitar terumbu karang itu. Tetapi mereka tidak tahu harus bagaimana. “Jika dibiarkan ekosistem laut akan berantakan dan tidak seimbang,” Marun merasa khawatir.  

Mereka pun mengecek ke dalam laut, air di dekat pabrik itu semakin tercemar. Jadi banyak terumbu karang yang mati. Di sana juga ada banyak ikan-ikan kecil yang mati karena limbah tersebut. April dan Marun sangat berhati-hati saat mendekatinya. Mereka mencari cara untuk mengehentikan kebocoran itu.

Di sudut matanya April melihat ada rumput laut, ia memanggil Marun untuk mengambilnya. Mereka mencoba menutup lubang yang menyebabkan kebocoran itu. Tetapi hanya dengan rumput laut saja tidak cukup, mereka semakin panik. “Haduh gimana ini, limbahnya semakin menyebar. Kita harus apa?” kata mereka berdua dengan panik.

Mereka memutuskan untuk naik kembali dulu, karena kondisi yang semakin parah. Mereka kebingungan mereka tak bisa hanya diam. “Duh gimana ini gimana ini, kacau! Kesel banget sih, pabrik itu tidak memperhatikan sekitar apa? tidak memikirkan habitat yang tinggal di laut apa?“ April sangat kesal. Mereka pun memikirkan cara untuk menyelamatkan tempat tinggal  mereka. Karena jika air laut tercemar, semua makhluk hidup yang tinggal di laut akan mati.

Mereka memutuskan untuk pergi ke pabrik tersebut. Di sana ada banyak orang yang sedang mengobrol. Tapi walupun mereka sudah sampai di sana mereka tetap bingung harus melakukan apa. Mereka mencari pipa yang bocor itu. Ternyata pipa yang bocor itu ada di belakang pabrik. Mereka mencari penyebab yang membuat pipa itu bocor.

April mencoba menarik salah satu orang di dekat sana. Tetapi karena tubuhnya yang kecil ia tak sanggup menariknya. “Huh tidak peka sekali orang-orang di sini,” omel April. Setelah beberapa lama berpikir, Marun menyarankan untuk masuk kedalam laut, ia berkata, ”Kita urus laut saja dulu, pipa ini aku tak tahu harus apa.” April pun menyetujui usulan Marun.

Di dalam laut semakin banyak terumbu karang yang mati, mereka sangat panik, warna-warni di dalam laut perlahan menghilang. Mereka mencoba menyelamatkan ikan ikan kecil yang ada di sana, mereka menyarankan untuk pergi mencari tempat aman. Yang penting mereka menjauh dari cairan limbah itu. Mereka mencoba mencari benda untuk menambal pipa itu.

Setelah sudah lumayan membaik, mereka mencari hewan lain yang mengetahui apa yang terjadi pada pipa itu. Lalu mereka bertemu seekor ikan yang mengetahui suatu hal. “Dua hari lalu, aku melihat ada seorang pekerja yang memperbaiki pipa itu. Tetapi ia melakukan kesalahan dan menghilangkan beberapa bagian pipa tersebut. Tetapi pekerja tersebut tidak bertanggung jawab lalu kabur begitu saja,” kata ikan tersebut. Akhirnya mereka tahu penyebab pipa itu bocor.

Mereka memutuskan untuk mencari orang itu. Mereka bertanya, “Bagaimana ciri-ciri orang itu?” tanya April dan Marun.

“Ia pria bertubuh gemuk dan tinggi. Ia juga memiliki rambut ikal,” jawab ikan itu.

Mereka pun mendatangi pabrik di dekat pantai itu lagi, mereka menyelidiki satu persatu orang di sana. Dan mereka menemukan tiga orang yang sesuai dengan kriteria yang diberikan si ikan. Kemudian April bertanya, “Sekarang bagaimana cara kita menemukan orangnya?” April masih kebingungan.

Marun kemudian melihat nama yang tertera di seragam mereka, dua diantaranya berinisial N dan satu orang berinisial O. Mereka pun kembali mencari si ikan, mereka bertanya lagi, “Apa kamu tahu nama pekerja itu?”

“Aku tidak melihatnya dengan jelas, tetapi sepertinya aku ingat jika huruf terakhir nama mereka itu huruf A,” jawab ikan. Mendengar jawaban ikan, mereka kebingungan karena tiga orang tersebut namanya berakhiran huruf A.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Marun bingung. Mereka mencoba pergi lagi ke pabrik itu dan memata-matai tiga orang yang dicurigai. Ternyata mereka bertiga adalah teman dekat, meski begitu ketiganya memiliki sifat yang sangat berbeda. Yang satu pendiam, yang satu pemarah dan yang terakhir humoris.

Di sela istirahat, mereka melihat ada salah satu pekerja yang mereka curigai sedang pergi ke belakang pabrik tempat pipa yang bocor itu berada. Mereka langsung curiga. “Wah bisa jadi dia nih pelakunya,” seru Marun.

“Sstt, jangan terburu-buru, kita harus cari tahu lebih dalam lagi,” lanjut April sambil berbisik.

Mereka memperhatikan gerak gerik orang itu yang seperti sedang mencari sesuatu. “Tuh tuh tuh, dia ngapain?” kata Marun. “Kayaknya dia lagi nyari bagian pipa yang hilang itu, deh. Bisa jadi dia pelakunya,” sambung Marun.

Tanpa basa-basi mereka pun memergoki orang itu, “Permisi, Pak. Apa yang sedang kau lakukan?” April bertanya.

Karena diabaikan, April kesal lalu mencubit kaki pria itu. “Aaaaw, sakit! Apaan sih ini,” teriak pekerja tersebut sambil melihat ke arah bawah.

“Apa yang bapak lakukan di sini?” April mengulangi.

“Ishh, menyusahkan saja, aku ingin memperbaiki pipa ini tahu!,” bentak pria tersebut.

April dan Marun pun yakin bahwa ia adalah pelakunya, mereka langsung menodongkan berbagai pertanyaan pada pria itu. “Bapak yang merusak pipa ini ya? Kenapa baru diperbaiki sekarang pak?”

Bapak itu menjawab, “Aah sudahlah, kalian ini berisik sekali. Pergi sana biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku.” “Memang jika aku yang merusaknya kalian bisa apa?” sambungnya.

“Pak, bapak tahu tidak? Karena perbuatan bapak yang tidak bertanggung jawab, tempat tinggal kami jadi tercemar,” jawab April dengan tegas.

Pekerja itu hanya diam mengabaikan. Marun dan April tidak tinggal diam. Mereka terus berusaha mendesak pekerja agar segera memperbaiki pipa tersebut. Mereka menggunakan capitnya untuk menyerang pekerja tersebut hingga akhirnya upaya mereka membuahkan hasil. Pekerja itu dengan terpaksa memperbaiki pipa tersebut. Marun dan April senang tiada tara.

Keesokan harinya Marun dan April kembali ke laut untuk memastikan kondisi laut lagi, mereka melihat pipa itu sudah diperbaiki. Tetapi tetap saja sisa limbah yang kemarin masih memenuhi sekitar terumbu karang. Mereka pun mencoba mencari bantuan kepada para burung di sana. Mereka menyuruh burung-burung itu mencari saringan dan membersihkan sampah padat di sana. Marun dan April mulai senang karena air laut sudah mulai bersih. Mereka mencoba melihat-lihat area itu dan ternyata sudah banyak ikan-ikan kecil yang bermain di sana.

Sorenya mereka mengecek lagi. “Wah terumbu karang sudah mulai tumbuh dan sehat lagi,” seru April.

Mereka senang sekali melihatnya. Tetapi mereka mendengar kabar buruk, ternyata kemarin ikan melihat ada seorang pekerja yang membersihkan air laut dengan bahan kimia. Mereka pun kaget, dan tidak jadi senang. Lagi-lagi mereka mendatangi pabrik itu, “Pak kenapa kalian menggunakan bahan kimia di laut?” tanya April kepada kepala pabrik.

“Maaf ya kepiting kecil, itu bukan bahan kimia, itu hanya serbuk alami yang digunakan untuk menjernihkan air laut,” jawab kepala pabrik dengan sabar. Mereka pun senang lalu kembali ke rumah.

Sekarang laut sudah bersih, terumbu karang sudah tumbuh lagi. Ikan-ikan kecil juga sudah mulai bermain di sana. Marun dan April terus memberi nasihat kepada pekerja pabrik itu agar tidak membuang limbah pabriknya sembarangan. Karena itu akan sangat mengganggu ekosistem di alam. Mereka pun bekerja sama untuk saling menjaga lingkungan satu sama lain. April dan Marun kini bisa bermain dengan tenang, dan manusia juga bisa menikmati indahnya lautan.

*) Image by istockphoto.com