KURUNGBUKA.com – Lelaki tua yang dulu pernah menjadi tentara di medang perang terus membayangkan dunia sangat ditentukan oleh orang-orang yang kuat atau perkasa. Dunia dibentuk oleh para tentara, yang memegang senjata dan meraih kemenangan.
Di novel berjudul The Magician’s Elephant (2009) yang ditulis Kate DiCamilo, kita mengenali Peter, bocah berusia 10 tahun, yang dikondisikan hidup dalam obsesi tentara oleh lelaki tua yang mengasuhnya. Ia sudah tidak memiliki ayah dan ibu. Maka, pengasuhan lelaki tua itu seperti memaksanya menjadi tentara kelak jika dewasa. Padahal, Peter memiliki perasaan yang lembut. Ia benci perang. Ia bersedih kehilangan ayahnya, yang dulu adalah tentara.
Hampir setiap hari ia diminta berlatih berbaris, lari, dan diajak obrolan bertema militer. Kehidupan yang membuatnya penat tapi sulit melawan. Yang dikatakan lelaki tua: “Kita akan membuatmu jadi prajurit hebat. Kau akan jadi laki-laki seperti ayahmu. Kau akan menjadi tentara yang pemberani dan terhormat.” Sebenarnya, Peter sudah bosan dengan omongan mengenai masa depan dan tentara.
Kita agak memahami situasi batin Peter. Ia ingin menjadi anak yang sewajarnya: bermain dan tidak usah terlalu serius memikirkan masa depan. Anak yang sudah belajar bahwa perang-perang hanya menimbulkan derita. Anak-anak ikut menjadi korban dari kejamnya perang.
Pada saat dipaksa berlari di ladang gandum, Peter memiliki pengalaman dan bayangan yang lain: “Di sekelilingnya, gandum terus tumbuh, membentuk dinding keemasan, mengurungnya, melindunginya. Rasanya seperti hampir dikubur. Aku akan tetap di sini sampai akhir zaman. Takkan ada yang menemukanku.”
*) Image by Books and Collection
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











