“Ya, apa lagi yang bisa membuat orang tersandung di rumah mereka selain buku? Di setiap penjuru rumah ada tumpukan buku. Buku-buku itu tidak hanya di rak-rak seperti di rumah biasa, tetapi juga ada di bawah meja, di kursi, di pojok kamar. Di dapur, di kamar mandi, di atas televisi, dan di dalam lemari pakaian juga ada tumpukan buku. Ada yang rendah, ada yang tinggi. Buku yang tebal, tipis, lama, baru, semuanya ada.”

(Cornelia Funke, Inkheart, 2009)

KURUNGBUKA.com – Rumah berantakan, rumah bacaan. Rumah memang dihuni manusia tapi yang berkuasa tampaknya buku-buku. Di situ, buku-buku tak membiarkan rumah terlihat indah dan rapi. Rezim buku terlah berlangsung di rumah. Yang tampak adalah buku-buku ketimbang manusia. Buku-buku itu mengubah gagasan ruang, benda, dan tatapan. Yang berada di rumah tak terlalu bermasalah. Ia bersama buku-buku dalam lakon berantakan.

Yang merelakan diri dikuasai buku-buku mungkin orang gagal dalam memahami manusia dan rumah. Konon, rumah adalah tempat berlindung, tempat istirahat, tempat menunaikan misi-misi kehidupan. Namun, gairah membaca dan terpikat buku mengakibatkan perubahan makna ruang. Di mata orang waras, buku-buku sepantasnya berada di atas meja, rak, atau lemari.

Kita berpikiran tentang benar-salah memasukkan buku-buku dalam rumah. Semula, buku-buku bisa dijadikan benda-benda indah dipandang mata bila berada di tempat-tempat yang sesuai. Orang mengatakan itu kebenaran. Pembaca yang sembrono dan bernafsu menjadikan buku-buku “salah” letak. “Salah” menghasilkan hukuman rumah dikuasai buku-buku.

Rumah itu dibagi menjadi ruang-ruang untuk keperluan yang berbeda. Namun, pembaca mudah berpindah dan memiliki ruang. Di rumah, benda-benda yang dihadirkan bersama buku-buku tapi dipaksa bersekutu dengan buku atau dikalahkan martabatnya oleh buku.

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<