“Sultan memiliki lemari buku yang pintunya dari kaca sehingga judulnya bisa dibaca. Lemari buku ini berisi koleksi puisi Hafiz dan Rumi, dan buku catatan perjalanan yang sudah berusia 100 tahun, serta beberapa atlas tua yang sudah lusuh. Di tempat rahasia di antara lembaran bukunya, Sultan menyembunyikan uangnya. Dalam lemari buku inilah Sultan menyimpan buku-bukunya yang paling berharga, buku persembahan, buku yang ingin dibacanya kelak.

(Asne Seierstad, Saudagar Buku dari Kabul, 2005)

KURUNGBUKA.com – Rumah memiliki penghuni yang bukan manusia. Penghuni itu lemari, ranjang, meja, kursi, dan lain-lain. Benda-benda yang sering digunakan dalam keseharian atau sekadar ada saja. Yang menaruh dan memilikinya memberi arti berkaitan pekerjaan, iman, asmara, politik, atau gaya hidup. Di lemari, ada perwujudan kemauan hidup dan pembentukan masa depan.

Lemari buku di dalam rumah. Lemari dengan citarasa pribadi, berarti oleh kepentingan yang tidak terganggu oleh orang lain. Di lemari buku, ditaruh buku-buku yang terpenting, terbaik, terlawas, dan lain-lain. Yang mengerti bisa menghitung jumlah duit untuk lemari dan isinya. Buku-buku menjadi benda berharga jika memahaminya tidak hanya bacaan.

Sosok pedagang yang tidak mutlak berpikiran buku-buku adalah uang dengan konsekuensi untung-rugi. Ia pun pembaca. Ia memilih buku-buku yang pantas masuk lemari. Tatanan buku yang biasa dipandangi dan janji yang akan dipenuhi pada waktu berbeda. Ia yang ingin membaca dengan tenang. Tahun-tahun berlalu, ia akan mengambil buku dari lemari: membaca.

Buku-buku dalam lemari. Uang-uang dalam lemari. Siasat untuk penyimpanan yang tetap berisiko. Buku itu berharga ditambahi uang yang sangat diperlukan dalam hidup bersuasana perang. Yang ada di lemari: kekayaan.

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<