Apa yang Membuatku Menulis Puisi Hari Ini?

/1/
kematian seorang ibu rumah tangga
di Papua, perempuan yang bahkan
tidak mengerti cara senjata bekerja
tapi nyawanya diantar ke hadapan
api, dilahap seperti sebuah pesta
mereka bersulang di bawah tumpahan
darah untuk kesekian kalinya

/2/
orang-orang yang kehilangan tanah
mereka yang mungkin belum mengenal
macam-macam nama online shop yang
sewaktu-waktu membikin kau insomnia
berburu baju baru sedang mereka
sejak semula dilahirkan telanjang
harus melihat negara mereka ditelanjangi
& tanah-tanah mereka dicaplok
seperti kue ulang tahun yang lilinnya
kemarin kau pesan lewat online shop itu

/3/
sejarah yang didaur ulang, seperti sampah
yang selalu mereka keluarkan dari lubang
pantat yang tidak tahu duduk perkara demi
bentuk kebaktian seorang menantu kepada
mertuanya, di sore yang buta, sebuah berita
menjajakan sejarah yang didaur ulang,
bentuknya serupa iklan necis yang dibikin
dari bangkai busuk tong sampah di istana.

***

Aku Melihat Kucing Di Sore Hari

aku melihat kucing-kucing di sore hari. berbaring ria di halaman rumah tetangga.
menguap, mengeong, menggoda. si majikan tampak tak peduli. sibuk mengerjakan
sesuatu yang entah. dari atap samping kamarku, kuharap kalian bermain di sini.
menggodaku, mencakar-cakar karpetku. berlarian sesuka kalian. di sini permainan
menciptakan tidur siang yang lelap. tanpa perlu takut. orang lain peduli atau tidak.
sebuah peluru tidak akan tiba-tiba membikin kepalamu pecah. banyak yang tak
seberuntung kalian. bermain sepanjang hari. tak seperti di tanah yang konon suci itu.
kucing-kucing seperti hewan buruan. tak nyaman bermain di rumah sendiri. mau
mengeong saja dianggap melawan. mereka tak boleh bersuara. bersuara sama
artinya dengan berontak. berontak sama artinya dengan mati. tapi bagi kucing-kucing
di sana, mati sama artinya dengan tidur siang yang lelap. tanpa perlu khawatir akan
terjaga di tengah reruntuhan & remah-remah mimpi.

***

Ranjang

taukah kau cium adalah moncong senapan?
bisikan-bisikan di ranjang kita, ketika malam
melaju ke pukul dua, membuat kita menjadi lelap,
mungkin terlelap, atau dilelap. di ranjang sebelah,
tak kalah bingar, kekasih. bom berjatuhan di mata
anak-anak, bahkan mengejar di dalam mimpi
mereka. menjerit seperti keledai melihat setan,
tapi mereka tidak sedang melihat setan, manusia
yang kesetanan membikin kamar mereka seperti
rumah hantu. taukah kau puisi adalah bom waktu?
segala kata yang kau tulis, berbaris rapi di kertas,
di balik reruntuhan, mural-mural di wajah
pemimpin dunia yang diam. puisi mungkin hanya
sampai di telapak tanganmu, tapi bisa meledak
hingga radius berjuta kilometer. sebab puisi juga
senjata. taukah kau peluk kita di dermaga adalah
rahmat? tak kau jumpai itu dalam perang 1967, tak
kau rasakan itu pada pipa-pipa saluran air di Jaffa,
tidakkah kau berpikir bahwa itulah yang dicuri para
perompak dari anak-anak Gaza? taukah kau
bahwa laut tidak begitu luas untuk menanam satu
per satu bulu mata mereka yang rontok, keras dan
amuk pasir-pasir laut menghampiri jari-jemari kaki
mereka setiap kali mencari pelarian. bagaimana
dengan kerinduan orang-orang yang terusir dari
tanah mereka? apakah rindu mereka sudah
mengisi penuh sebuah gudang? atau meninggi
seperti gedung? atau panas seperti cium moncong
senapan di pipi anak-anak yang membeku
sepanjang malam?

Image by istockphoto.com