Menunggangi Ayah
dari toko mainan sampai keluar pasar
aku terisak sepanjang jalan
saat itu ayah dan ibu membawaku ke pasar raya
untuk pertama kalinya ketika aku mulai lepas dari susuan
dan bedung tak pernah lagi aku kenakan
ibu bilang aku sudah besar
jangan menangis tak karuan
air mataku makin jatuh bertebaran
tapi ibu malah memiuh perutku
ayah menjauhkan tangan ibu
seperti memisah tulang dari daging ikan
“anak laki-laki tak boleh cengeng”
lalu aku diangkat ke pundaknya
aku tak tahu
kenapa ayah selalu begitu membujukku
namun ketika aku dipundaknya
kepala ayah berdenyut-panas
serupa ubun-ubunku yang kadang lunak kadang mengeras
lalu rambut ayah berguguran di pahaku sampai tangisku reda
walaupun pundak ayah yang hanya terbungkus kulit itu
tak lebih bagus dari mobil-mobilan dan kuda mainan
pembuat aku menangis di pasar raya
yang kata ibu harganya setara gaji ayah sebulan penuh
namun, antara pundak ayah
dengan mainan yang tak mampu kami beli itu
sama-sama bisa aku tunggangi
dari rumah ke pasar raya
dari pasar raya ke toko mainan
dari toko mainan ke toko mainan lainnya.
Solok Selatan, 2024
***
Jadi Pemain Bola
/1/
ibu berenang dari tepian penuh batu
ke seberang sungai deras
demi merenggut aku yang bermain bola
di tanjung yang sedang menjadi sawah
sambil memiuh telingaku hingga merah
ibu bilang aku baiknya belajar hitung-baca
di rumah atau membedakan antara ba dan ta
agar kaji yang terbengkalai cepat selesai.
/2/
saat aku ingin jadi pemain bola
ayah mengubah cincin nikah jadi sebuah bola
lalu merunut kembali surat-surat tanah
agar aku tak perlu bermain ke seberang sana
walaupun ayah orangnya enggan bekerja
karena ia rasa badannya mudah sakit
tapi semua pintaku mesti berlaku.
/3/
antara ibu dan ayah
selalu membentang garis tengah
yang membelah lapangan menjadi dua
aku bermain disitu sedari awal
tanpa peluit panjang
bermain bola di garis tengah.
Solok Selatan, 2024
*) Image by istockphoto.com











