KURUNGBUKA.com – Kaum dewasa biasanya ingin unggul dalam segalanya. Putus asa pun ingin yang paling parah dan menyakitkan. Yang berputus asa itu mudah mengucapkan sebab-sebab, dari yang bermutu sampai yang remeh. Jadi, putus asa yang membuatnya pantas mendapat perhatian. Kita menuduhnya: wajib dikasihani.  Yang mengartikan putus asa adalah milik manusia (dewasa) tapi tidak mutlak.

Bocah berbincang putus asa. Tema yang terlalu cepat dimiliki dan dikembangkan. Namun, ia mengalaminya. Di meja makan saat malam, ia bersama dua orang yang sudah tua. Suasana yang absurd. Bocah bernama Anne, yang diceritakan Lucy M Montgomery dalam Anne of Green Gables (2014), merasa putus asa. Kesalahan telah terjadi. Yang diinginkan itu bocah lelaki untuk dipungut. Malam itu Anne yang datang.

Makan bukan peristiwa yang biasa. Anne sulit makan. Ia meras mustahil. Anne berucap: “Bisakah makan jika sedang berada dalam keputusasaan yang hebat.” Kita memasuki pengalaman anak, yang mengetahui risiko putus asa. Bocah yang pantas dituduh ingusan itu malah fasih memberi penjelasan. Diri yang tidak bisa makan berani berkhotbah. Pengalaman yang mungkin berulang, yang membuatnya paham.

“Itu adalah suatu perasaan yang sangat tidak nyaman,” katanya. “Ketika kita mencoba makan,” ucap Anne, “kerongkongan kita tiba-tiba bagai tersumbat dan kita tidak bisa menelan apa-apa, bahkan jika makanan itu adalah karamel cokelat.” Putus asa itu derita, yang mengakibatkan tubuh “menolak” atau tersiksa jika diharuskan makan.

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<