KURUNGBUKA.com – Kalau Anda diminta menjelaskan sesuatu, padahal tidak tahu apa-apa, bahasa menyediakan caranya: ekuivokasi. Strategi berbahasa ini juga bisa Anda tempuh jika ingin menghindari komitmen, tanggung jawab, atau ketika Anda ingin membuat pernyataan asal bunyi (asbun) terdengar valid. Contohnya sudah banyak, misalnya dengan mengatakan yang merusak hutan di Sumatra itu masyarakat, bukan pengusaha. Atau, gelondongan kayu saat banjir itu adalah kayu lapuk dan tumbang alami. Atau sawit itu pohon juga karena ada daunnya.
Bahasa Indonesia menyerap ekuivokasi dari bahasa Inggris, equivocation yang mengambilnya dari bahasa latin, aequivocus. Kamus Merriam-Webster memberikan paradigma pembetukan katanya, dari aequi- equi- + voc-, vox voice artinya, suara yang sama. Masih dalam Kamus Merriam-Websters, equivocation diberi arti deliberate evasiveness in wording, pengelakan dengan cermat memilih kata.
Kita biasa menyebutnya ngeles.
Pengertian ekuivokasi dalam KBBI Daring tidak terlalu gamblang: n penggunaan istilah atau kata yang sama dalam pengertian yang berlainan, tanpa contoh kalimat. Entri ini juga tidak memiliki sejarah redaksi sehingga sukar dilacak sejak kapan kata tersebut masuk KBBI. Namun, ada satu referensi yang menarik dirujuk, yakni Encyclopedia of Deception, (2014) hal. 335. Sebagaimana judulnya, ensiklopedia ini berisi daftar yang kaya mengenai jenis-jenis kebohongan dan penipuan yang pernah dilakukan manusia, mulai dari yang berskala kecil seperti April Mop, prank, berbohong untuk kebaikan (white lies) sampai penipuan triliunan.
Dalam ensiklopedia yang dieditori Timothy R. Levine itu, ekuivokasi bisa diartikan dua hal: cacat logika dan strategi komunikasi. Ekuivokasi paling sering digunakan oleh politisi untuk mengelola persepsi publik, menghindari konsekuensi pernyataannya di kemudian hari, berlindung dari kritik dan tuntutan yang lebih besar, membeli waktu (untuk mengumpulkan data dan menyusun narasi pencitraan yang solid), menghindari konflik kepentingan, dan menjaga stabilitas politik.
Akan tetapi, penelitian Bavelas dkk. yang dibukukan dengan judul Equivocal Communication (Sage Publications, 1990), menegaskan bahwa ekuivokasi bukanlah kecacatan berpikir, melainkan murni strategi yang dipilih seseorang ketika berada dalam posisi sulit dan atau sedang menghadapi tekanan sosial. Ekuivokasi juga efektif dalam dunia periklanan bahkan untuk menjaga hubungan baik.
Penelitian Bavelas dkk. membeberkan pula kapan, mengapa, dan bagaimana orang-orang melakukan ekuivokasi dalam interaksi sosial, setelah melakukan ratusan eksperimen sosial dengan berbagai subjek, mulai dari anak-anak hingga politisi. Bavelas dkk. berpendapat bahwa seseorang melakukan ekuivokasi bukan karena ia tidak kompeten atau tidak jujur, tetapi karena menghadapi pertanyaan yang semua jawaban langsungnya berpotensi menimbulkan konsekuensi negatif.
Ambil contoh ketika pemerintah dituntut untuk segera menetapkan bencana Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat sebagai bencana nasional, kita harus puas dengan pernyataan-pernyataan ekuivokasi. Tentu sulit mengetahui apa yang sedang terjadi di tiga provinsi itu saat jaringan internet terputus dalam waktu yang singkat sementara kita sudah menuntut klarifikasi juga tanggung jawab. Bukankah mereka perlu waktu untuk menelusuri, mengonsolidasi, mengecek, dan memastikan data di lapangan? Kita tahu menunjuk hidung orang yang bertanggung jawab juga bukan pilihan bijak karena itu sama saja ingin pensiun dini.
Pada praktik penggunaannya, ekuivokasi cenderung menyesatkan dan menghindari tanggung jawab serta mengalihkan isu. Dalam situasi krisis, kita lalu dijejalkan kata-kata seperti data kerusakan masih kami sesuaikan, nanti akan kami sampaikan perkembangan berikutnya, ini murni faktor cuaca ekstrem, kita tidak bisa menyalahkan siapa pun sekarang; yang penting adalah menyelamatkan warga, banjir terjadi karena curah hujan tinggi, akan kami sesuaikan, akan kami konsolidasikan, akan kami singkronkan, akan kami selidiki, akan kami cek, sedang kami pelajari, kami mempertimbangkan opsi terbaik, akan dilakukan evaluasi, proses pemeriksaan tetap kami lakukan secara rinci, bla…bla…bla (tanpa menyebut detail siapa, kapan, metodenya, dan apa hasil yang diharapkan).
Dalam era pengaburan informasi dengan pemimpin-pemimpin yang tidak malu-malu menunjukkan keluguannya, saya sering berpikir lebih baik tidak membaca berita atau melihat media sosial. Saya ingin tetap waras. Bahkan saya sempat berpendapat sebaiknya pernyataan-pernyataan para pemimpin kita yang terhormat itu tidak usah disebarkan, apalagi diproduksi ulang dalam beragam konten. Hal itu hanya akan membuat mereka semakin populer. Kita pun secara tidak langsung berkontribusi menaikkan elektabilitas mereka di Pemilu 2029.
Akan tetapi, di satu sisi, pengungkapan-pengungkapan semacam itu perlu agar kita dapat mengonsumsi informasi tepercaya, dari sumber yang kredibel, sehingga kita lebih mempu berpikir kritis. Siapa tahu kita bisa belajar mengenai strategi ekuivokasi terbaik dari para ahli ngeles itu.
*) Image by google.com
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







