KURUNGBUKA.com – Mengunjungi wilayah Baduy Dalam sebenarnya sudah lama masuk dalam daftar perjalanan yang ingin saya lakukan tahun ini. Setelah beberapa kali tertunda karena kesibukan dan sulitnya mencocokkan jadwal, akhirnya pada 1–2 Mei lalu saya bersama seorang teman semasa kuliah berkesempatan mengikuti Open Trip (OT) Wisuba Saba Baduy menuju Baduy Luar dan Baduy Dalam.

Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar wisata budaya. Ada rasa penasaran untuk melihat secara langsung bagaimana masyarakat Baduy Dalam mempertahankan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sebagai seseorang yang memiliki latar belakang Kesehatan Masyarakat, perjalanan ini bukan sekadar wisata atau mencari foto-foto indah di pedalaman Banten. Saya dan teman saya datang dengan rasa penasaran yang lebih besar, bagaimana sebuah komunitas adat mampu mempertahankan cara hidupnya selama ratusan tahun.

Perjalanan yang tidak mudah untuk dilalui

Pagi itu, Stasiun Rangkasbitung sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar meninggi. Dari sudut-sudut peron, para calon pejalan dengan ransel di punggung tampak sibuk mencari kelompoknya masing-masing.

Ada yang datang sendirian sambil sesekali mengecek ponsel, ada yang bercengkerama dengan teman seperjalanan, dan ada pula yang terlihat begitu antusias karena bukan kali pertama mereka menginjakkan kaki di tanah Baduy.

Dari tengah keramaian itu, saya datang bersama seorang saya. Setelah registrasi selesai dan seluruh peserta berkumpul, perjalanan pun berlanjut menggunakan elf menuju Camp Cijahe. Perlahan suasana kota mulai tertinggal di belakang.

Jalan-jalan beraspal berganti dengan pemandangan perbukitan hijau dan rumah-rumah sederhana yang semakin jarang ditemui. Sekitar dua jam kemudian, kami tiba di Camp Cijahe, titik awal sebelum langkah kaki benar-benar membawa kami masuk lebih jauh ke wilayah Baduy.

Camp Cijahe dikenal sebagai salah satu jalur tercepat menuju wilayah Baduy Dalam. Dari titik inilah perjalanan kaki dimulai menuju 3 kampung adat utama Baduy Dalam yakni Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Sementara saya dan teman saya tergabung dalam kelompok yang menuju Cikeusik, kampung yang letaknya paling jauh dibanding dua kampung lainnya.

Hujan yang tak kunjung reda membuat perjalanan terasa lebih menantang.  Sebagian besar Masyarakat yang kami temui memilih berteduh di dalam rumah. Hanya beberapa anak kecil yang tampak duduk di teras rumah panggung mereka. Dua anak bersaudara yang kami temui siang itu masih terekam jelas dalam ingatan.

Dengan pakaian adat berwarna hitam dan kaki tanpa alas, mereka duduk santai memandangi rombongan yang lewat.

“Mau ke Baduy Dalam?” tanya salah satu dari mereka pelan.

Kami mengangguk sambil tersenyum. Mereka tertawa kecil sebelum kembali memperhatikan hujan yang turun di depan rumahnya.

Semakin jauh melangkah, medan mulai berubah. Derasnya aliran sungai akibat hujan juga membuat beberapa penyeberangan terasa lebih menegangkan dari yang saya bayangkan.

Jujur saja, ada beberapa momen ketika rasa takut muncul. Bukan karena jauhnya perjalanan, melainkan karena kondisi jalur yang licin dan sempit. Tapi setiap kali langkah mulai melambat, pemandu kami hanya tersenyum lalu berkata singkat, “Pelan-pelan saja, yang penting sampai.”

Suasana yang Berbeda dari Kehidupan yang Saya Kenal

Semakin mendekati perbatasan Baduy Luar dan Baduy Dalam, tenaga saya mulai terkuras. Ransel yang sejak awal saya bawa sendiri akhirnya harus saya titipkan kepada seorang porter. Di Baduy Dalam, laki-laki yang telah menikah biasa dipanggil Ayah, dan Ayah yang membantu membawa barang saya tampak berjalan ringan menapaki jalur yang sejak tadi membuat saya beberapa kali berhenti untuk menarik napas.

Tak lama kemudian, kami tiba di titik perbatasan. Rombongan berhenti sejenak untuk beristirahat dan mengabadikan pemandangan sekitar. Dari tempat itu, hamparan perbukitan hijau terlihat membentang sejauh mata memandang.

Tetapi momen tersebut juga menjadi kesempatan terakhir untuk menyalakan telepon genggam, kamera, maupun perangkat elektronik lainnya. Setelah melewati batas itu, seluruh alat elektronik harus dimatikan sesuai aturan adat yang berlaku di Baduy Dalam.

Langkah berikutnya terasa berbeda. Tidak ada dering ponsel, tidak ada suara kendaraan, bahkan tidak ada kebiasaan sederhana seperti membuka kamera untuk mengabadikan pemandangan yang menarik perhatian. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, saya benar-benar hanya berjalan, melihat, dan merasakan.

Saat itu saya sempat berpikir, “Sayang sekali pemandangan seindah ini tidak bisa didokumentasikan.” Namun semakin jauh melangkah, saya mulai menyadari bahwa mungkin memang tidak semua pengalaman harus dibawa pulang dalam bentuk foto.

Masuk perjalanan menuju Kampung Cikeusik, saya sempat berbincang dengan pemandu. Ada satu hal yang terus mengusik rasa penasaran saya.

“Masyarakat di sini kuat sekali, ya. Tidak ada kendaraan, tidak ada listrik, tidak ada alat komunikasi, ke mana-mana berjalan kaki, bahkan banyak yang tidak menggunakan alas kaki,” kata saya.

Percakapan singkat itu membuat saya mulai melihat kehidupan Baduy Dalam dari sudut pandang yang berbeda. kesederhanaan yang mereka jalani bukanlah bentuk ketertinggalan, melainkan pilihan hidup yang dijaga dengan penuh ketaatan.

Menjelang senja, kami akhirnya tiba di rumah Ayah, tempat kami akan menginap malam itu. Kelelahan selama perjalanan seolah terbayar oleh sambutan hangat yang kami terima. Tidak ada kesan canggung ataupun jarak antara pendatang dan tuan rumah.

Beberapa anggota keluarga langsung membantu menunjukkan tempat menyimpan barang, sementara yang lain mengarahkan kami menuju sungai untuk membersihkan diri sebelum hari benar-benar gelap.

Transisi dari perjalanan yang melelahkan menuju suasana kampung yang hangat itulah yang perlahan membuat saya merasa tidak lagi sekadar berkunjung, tetapi mulai belajar memahami cara hidup masyarakat Baduy Dalam dari dekat.

Ketika Kesehatan Turut Menjadi Bagian dari Cara Hidup

Malam perlahan turun di Kampung Cikeusik. Tanpa lampu listrik, gelap datang lebih cepat dibanding yang biasa saya rasakan di kota. Cahaya hanya berasal dari beberapa senter yang diletakkan di sudut ruangan.

Dalam penerangan seadanya itulah kami berkumpul untuk makan malam bersama keluarga Ayah sekaligus berbincang tentang kehidupan masyarakat Baduy Dalam.

Malam itu, Ambu sebutan untuk ibu dalam bahasa Sunda menghidangkan makanan yang seluruhnya terasa begitu sederhana. Sepiring nasi hangat ditemani sayur labu, tempe, lalapan, dan sambal. Tidak ada makanan instan, tidak ada minuman kemasan, bahkan hampir tidak ada bahan pangan yang berasal dari luar kampung.

Justru dari meja makan sederhana itu saya mulai memahami satu hal pola konsumsi masyarakat Baduy Dalam bukan sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari nilai hidup yang mereka pegang.

Sebagian besar makanan yang mereka konsumsi berasal dari hasil ladang dan kebun sendiri. Apa yang ditanam, itulah yang dimakan. Apa yang tersedia di alam, itulah yang diolah. Di tengah maraknya pembahasan mengenai pola makan sehat, pangan lokal, dan ketahanan pangan berkelanjutan, masyarakat Baduy Dalam ternyata telah mempraktikkannya jauh sebelum istilah-istilah tersebut populer.

Mereka tidak menjalankannya karena tren gaya hidup sehat, tetapi karena adat dan keyakinan yang diwariskan secara turun-temurun. Setelah makan malam selesai, obrolan mulai mengalir ke berbagai topik. Kesempatan itu saya gunakan untuk bertanya tentang kesehatan, sebuah topik yang sejak awal membuat saya penasaran.

“Ayah, kalau masyarakat di sini sakit biasanya berobat ke mana?” tanya saya.

Ayah menjelaskan bahwa masyarakat Baduy Dalam masih memanfaatkan berbagai tanaman dan ramuan tradisional yang telah dikenal secara turun-temurun. Untuk kondisi tertentu, mereka juga dapat meminta bantuan kepada tabib atau orang yang dianggap memiliki pengetahuan pengobatan di kampung.

Jawaban itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi saya, penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan di Baduy Dalam tidak berdiri sendiri sebagai urusan medis semata.

Saya juga mencoba memperhatikan berbagai praktik keseharian yang mungkin selama ini tidak dianggap sebagai bagian dari kesehatan oleh masyarakat setempat, tetapi sebenarnya memiliki makna kesehatan yang kuat. Salah satunya terlihat di sungai.

Sungai bagi masyarakat Baduy Dalam bukan hanya sumber air, tetapi juga ruang hidup yang dijaga bersama. Saya melihat bagaimana masyarakat membersihkan diri tanpa menggunakan sabun, sampo, maupun pasta gigi berbahan kimia. Sebagai gantinya, mereka memanfaatkan bahan-bahan alami yang dianggap lebih selaras dengan lingkungan.

Yang menarik, sungai juga memiliki pembagian fungsi yang jelas. Ada bagian khusus untuk mandi, bagian untuk mencuci pakaian, dan bagian lain yang digunakan untuk mengambil air minum. Tanpa papan peringatan atau aturan tertulis, pembagian tersebut dipatuhi oleh seluruh warga.

Sebagai seseorang yang mempelajari kesehatan masyarakat, saya melihat praktik ini sebagai bentuk pengelolaan sanitasi berbasis kearifan lokal. Mungkin mereka tidak menyebutnya sebagai pencegahan penyakit atau perlindungan kualitas air, tetapi prinsip yang dijalankan memiliki tujuan yang serupa dengan menjaga kebersihan sumber air agar tetap aman digunakan bersama.

Hal lain yang juga menarik perhatian saya adalah aktivitas fisik masyarakat Baduy Dalam. Untuk keseharian mereka, berjalan kaki bukanlah olahraga, melainkan bagian dari hidup. Untuk pergi ke ladang, mengunjungi kampung lain, atau sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka harus berjalan menyusuri perbukitan dan jalur hutan yang bagi saya terasa cukup menantang

Saya jadi teringat bagaimana napas saya beberapa kali tersengal selama perjalanan menuju Cikeusik, sementara Ayah yang membawa barang jauh lebih berat justru berjalan santai tanpa terlihat kelelahan.

Semakin lama berada di sana, semakin saya memahami bahwa konsep sehat yang dijalankan masyarakat Baduy Dalam tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika sakit. Kesehatan hadir dalam cara mereka mengelola lingkungan, memilih makanan, menjaga kebersihan air, hingga menjalani aktivitas sehari-hari.

Tentu saja, satu malam percakapan dengan Ayah dan serangkaian observasi singkat tidak cukup untuk menggambarkan seluruh praktik kesehatan masyarakat Baduy Dalam. Tapi  pengalaman tersebut memberikan saya sebuah pelajaran penting

Terkadang kesehatan tidak harus selalu lahir dari teknologi yang semakin canggih atau layanan yang semakin modern. Dalam beberapa komunitas adat seperti ini, kesehatan justru tumbuh dari hubungan yang harmonis antara manusia, budaya, dan alam yang terus dijaga dari generasi ke generasi.