KURUNGBUKA.com – Belakangan ini film Pesta Babi (2026) menjadi buah bibir. Dari gegap-gempita seputar film ini–termasuk pelarangan dan pembubaran di banyak tempat, terselip kata nobar, sebuah istilah yang begitu akrab di telinga orang Indonesia.

Nobar adalah lakuran dari kata nonton dan bareng. Keduanya merupakan bentuk cakapan atau informal: Nonton dari menonton, bareng dari bersama. Proses kebahasaan seperti ini bukan hal asing dalam khazanah linguistik Indonesia. Ada banyak istilah serupa yang lahir dan hidup dalam praktik sehari-hari berbahasa kita, seperti tilang, kopdar, caper, atau asbun.

Kata nonton sendiri, secara intrinsik, sudah memiliki nada santai, sesuatu yang dilakukan sebagai penikmatan dalam kesenggangan. Orang nonton wayang, nonton film, atau nonton sepak bola. Ia berbeda dari menyaksikan, misalnya, yang terdengar lebih formal dan berjarak.

Namun bagian yang paling menarik justru ada pada kata bareng.

Ia dapat ditemukan dalam bahasa Jawa (ngoko) dan Betawi dengan arti yang persis: bersama. Satu contoh di bahasa Jawa ngoko “Joko lunga bareng Bowo” (Joko pergi bersama Bowo). Sebagai catatan, ngoko digunakan dalam konteks yang lebih cair dan egaliter ketimbang krama madya dan krama inggil.

Dan jika diperhatikan, bareng memang menempati register yang berbeda dari sinonimnya. Kata bersama terdengar lebih formal dan birokratis. Apalagi ketika muncul dalam bentuk seperti “membersamai”, yang kerap terdengar di dunia akademik atau institusi formal lainnya. Sebaliknya, bareng terasa lebih cair, lebih hangat, lebih dekat dengan bahasa tongkrongan. Ia terdengar lebih cocok diucapkan di warung kopi daripada di ruang rapat kementerian.

Nobar tentu bukan satu-satunya istilah yang lahir dari pola “aktivitas + kebersamaan” semacam ini. Kita mengenal mabar (main bareng), bukber (buka bersama), dan belakangan latber (latihan bersama) di kalangan penghobi burung kicau.

Bahkan beberapa istilah lain secara implisit juga mengandaikan kehadiran orang lain, seperti kopdar atau maksi. Dalam banyak kasus, bahasa Indonesia tampaknya memang gemar memendekkan aktivitas sosial menjadi bentuk yang lebih cair dan akrab.

Pola linguistik ini dapat dikaitkan dengan budaya nongkrong–kebiasaan berkumpul santai tanpa tujuan yang sepenuhnya jelas yang merupakan salah satu penopang kehidupan sosial Indonesia. Nongkrong sendiri berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada aktivitas duduk-duduk, mengobrol, dan menghabiskan waktu bersama tanpa tujuan yang jelas.

Nobar, pada hakikatnya, adalah bentuk nongkrong + layar/tontonan. Ketika nobar sepak bola, pertandingan penting. Tapi yang lebih seru adalah bagaimana ruang itu menandai sense of belonging lewat perang komentar, sorakan, dan bahkan ejekan dari masing-masing pendukung. Pendek kata, nobar adalah ruang keriuhan yang organik dengan tata krama yang berbeda dari menonton di bioskop, misalnya.

Jauh sebelum istilah nobar populer, praktiknya sendiri sebenarnya sudah sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bagi yang tumbuh pada era 1980-an, ketika televisi masih menjadi barang mewah di banyak tempat, pemandangan orang berduyun-duyun ke balai desa untuk menonton televisi bersama adalah hal biasa.

Layar tancap adalah praktik budaya komunal lainnya yang segaris dengan nobar pada masa itu. Selain sebagai hiburan, lembaga pemerintah menggunakannya untuk mempromosikan program-program seperti Keluarga Berencana dan Bebas Tiga Buta.

Barulah pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an istilah nobar mulai dikenal, yakni ketika siaran sepak bola Eropa, khususnya Serie A Italia dan Premier League mulai mendapatkan penggemarnya.

Menggandengkan kata bareng pada nonton bukanlah kebetulan yang acak. Ia menandai bahwa praktik nobar pada dasarnya adalah milik ruang informal dan liminal: ruang pergaulan, ruang nongkrong, ruang komunal. Nobar sepak bola itu ada di ruang-ruang santai, tongkrongan semacam warung kopi. Layar tancap bisa digelar di lahan sawah yang kering saat kemarau.

Titik ini mengingatkan pada konsep counterpublic (Nancy Fraser), yang mengacu pada ruang-ruang alternatif tempat kelompok masyarakat membangun wacana mereka sendiri di luar ruang publik dominan. Konsep ini biasanya dipakai dalam konteks politik, tetapi dapat juga membantu kita memahami bagaimana bahasa bekerja.

Lakuran seperti nobar, mabar, bukber, atau latber bukan sekadar pemendekan kata. Ia adalah penanda linguistik bahwa aktivitas tersebut hidup di ruang yang informal, cair, dan komunal.

Dalam pengertian ini, nobar dapat dibaca sebagai counterpublic baik secara linguistik maupun sosiologis. Bukan saja ia menjadi tandingan dari suara dominan, tapi juga dia menjadi ruang riuh yang memperdengarkan dan mendengarkan suara yang tak pernah terwakili oleh kanal-kanal negara. Dalam hal ini, nobar Pesta Babi berhasil menjadi itu.

*) Image by istockphoto.com