KURUNGBUKA.com – Bocah meninggalkan rumah. Ia memiliki keberanian meski tidak pernah mengetahui nasibnya setelah jauh dari rumah. Bocah itu bernama Minli, yang hidup dengan pangan terbatas tapi “dikenyangkan” cerita-cerita oleh bapaknya. Maka, pergi untuk mengembara itu mirip pembuatan cerita. Yang berjalan berharap mendapat petunjuk dan keselamatan.
Di novel Where the Mountain Meets the Moon (2010) gubahan Grace Lin, Minli membuat janji agar nasib berubah, yang mengharuskannya berjalan dan mencari. Ia menempuhi “peta” yang rumit dan menakjubkan. Yang dialaminya adalah “puisi” yang tidak terbaca tapi dirasakan. Pengarang mengisahkan: “Daun-daun yang berguguran menjadi permadani empuk bagi kakinya, dan burung-burung malam yang lalu lalang di langit menjadi temannya.” Kita membaca kagum: Minli tidak takut dan menyerah sejak langkah pertama meninggalkan rumah.
Minli melihat alam, yang dianggapnya memberi “bantuan” dan mengasihinya agar sampai ke alamat yang dituju. Alam menjadi doa yang tergelar, yang membuatnya pantang menyerah. Bocah yang percaya dirinya tetap bisa merawat impian dengan hal-hal yang tidak semuanya bisa diramalkan. Yang dibawanya adalah cerita yang akan semakin menjadi panjang dan sempurna selama perjalanan.
Di pergantian waktu yang dirupakan oleh langit, Minli mengetahui kekuatan dan istirahat. Pengarang yang menjadikannya pengembara lugu dan beruntung: “Minli duduk dan beristirahat di bawah sebatang pohon tinggi. Dia telah berjalan jauh, memasuki hutan, jauh dari desa dan rumahnya. Dia sangat lelah sehingga langsung tertidur.” Beristirahat agar kuat untuk berjalan lagi.
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












