KURUNGBUKA.com – Saya cukup terkesan dengan keberanian Kuasa Gelap menghadirkan sesuatu yang baru di kancah film horor Indonesia. Film ini memilih jalur yang jarang, bahkan belum pernah disentuh sebelumnya: eksorsisme Katolik. Sebagai penonton, saya merasa ini langkah segar karena biasanya film horor kita berkutat pada mitos lokal atau hantu-hantu urban. Dengan durasi 96 menit, film ini berhasil mengajak saya masuk ke dunia ritual pengusiran setan yang diangkat dari kasus nyata di Indonesia.

Bobby Prasetyo sebagai sutradara, bersama Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment, menghadirkan deretan pemain yang cukup memikat. Saya suka bagaimana Lukman Sardi tampil sebagai Romo Rendra yang penuh wibawa, sementara Jerome Kurnia membawa sisi rapuh Romo Thomas dengan cukup meyakinkan. Ada juga Astrid Tiar sebagai Maya, Freya JKT48 sebagai Cilla, Lea Ciarachel sebagai Kayla, dan Della Husein sebagai Suster Indah. Masing-masing memberi warna yang memperkuat jalannya cerita.

Kisahnya sendiri berpusat pada Romo Thomas yang sedang kehilangan arah setelah ibu dan adiknya meninggal dalam kecelakaan tragis. Ia ingin mundur dari imamat karena imannya goyah. Namun sebelum surat pengunduran dirinya selesai, ia justru diberi tugas terakhir untuk membantu Romo Rendra melakukan eksorsisme pada Kayla, sahabat adiknya yang kerasukan iblis setelah bermain jelangkung. Dari sinilah teror dimulai.

Saya bisa merasakan betapa eksorsisme dalam film ini bukan hanya soal adu doa melawan iblis, tapi juga pertempuran batin. Thomas bukan hanya menghadapi kuasa gelap yang merasuki Kayla, tetapi juga bayangan keraguannya sendiri. Kayla yang kerasukan pun tak sekadar korban; kehadiran iblis di tubuhnya membuka luka lama dan rahasia kelam sang ibu, yang ternyata ikut jadi incaran.

Sebagai penonton, saya dibuat was-was: benarkah Kayla sungguh kerasukan, atau semua ini hanya manifestasi trauma karena belum ikhlas menerima kematian ayahnya dan keputusan sang ibu yang mulai menjalin hubungan dengan Denis (Erdin)? Film ini bahkan di awal memberi pernyataan bahwa 90% kasus kerasukan yang dilaporkan ke Gereja Katolik sebenarnya adalah masalah kesehatan mental. Tapi sayangnya, pertanyaan besar itu terasa menggantung hingga akhir, tidak benar-benar terjawab.

Dari sisi teknis, saya harus jujur bahwa ada beberapa hal yang kurang mulus. Beberapa efek visual terlihat nanggung dan malah mengurangi rasa seram, sementara jumpscare kadang terlalu sering dan terasa dipaksakan. Tapi di luar itu, akting para pemain cukup kuat untuk menjaga intensitas cerita, terutama Lukman Sardi dan Jerome Kurnia yang chemistry-nya sebagai dua romo saling mengisi.

Bagi saya, Kuasa Gelap adalah film yang patut diapresiasi. Ia berani mengambil langkah berbeda, membuka pintu untuk genre horor eksorsisme Katolik di Indonesia, dan berhasil membangkitkan rasa penasaran sekaligus debat dalam kepala saya: tentang iman, trauma, dan batas antara kerasukan dengan gangguan jiwa. Meski belum memenuhi ekspektasi saya, film ini tetap memberikan pengalaman menonton yang seru—walaupun sayangnya saya tidak berkesempatan menonton langsung di bioskop saat pertama kali tayang.

Skor: 7/10

Image by IMDb.com