KURUNGBUKA.com – Di sekolah dan universitas, sejarah sastra “modern” di Indonesia dimulai dengan sebutan angkatan yang dinamakan Balai Poestaka dan Poedjangga Baroe. Selama puluhan tahun, pengajaran sejarah sastra itu jarang mendapat ralat. Apakah yang diajarkan benar? Kita keseringan dan kelamaan mengenang sastra gara-gara Balai Poestaka dan Poedjangga Baroe. Kita boleh meralatnya atau mengganti halaman-halaman sejarah dengan tokoh atau golongan lain agar ada perbedaan dalam tilikan masa lalu.

Kita terpaksa mengenang lagi silam itu Poedjangga Baroe saat membaca esai Jakob Sumardjo. Sejak lama, ia tekun membahas masa lalu sastra di Indonesia. Yang ditulis bukan cuma Balai Poestaka dan Poedjangga Baroe. Ia melakukan riset yang serius mengenai sastra peranakan Tionghoa. Di kubu berbeda, ia memberi perhatian adanya sastra ditulis para pengarang Belanda atau Indonesia. Namun, yang terkenal dari kerja-kerja risetnya adalah ulasan sastra pop berlatar masa Orde Baru.

Kita menuju masa lalu. Yang diterangkan Jakon Sumardjo: “Munculnya sastra Poedjangga Baroe tidak dapat dipisahkan dari berkembangnya gerakan nasional di Indonesia, bahkan banyak para penulis Poedjangga Baroe aktif dalam gerakan nasional, seperti Muhammad Yamin, Amir Hamzah, Sutan Sjahrir, M Amir, dan lain-lain. Poedjangga Baroe adalah pernyataan nasionalisme dalam bidang kebudayaan dan kesusastraan. Poedjangga Baroe merupakan bagian dari pergerakan nasional Indonesia.” Bolehkah kita tidak percaya?

Banyak pengamat sastra dan penulis sejarah sastra amemuji Poedjangga Baroe. Kita membacanya seolah sastra Indonesia hanyalah Poedjangga Baroe. Pujian yang berlebihan mengakibatkan penidaan pihak atau gerakan yang berada di luar Poedjangga Baroe atau pergerakan politik nasional. Jakob Sumardjo mungkin membuat keterangan itu berdasarkan “kebenaran-kebenran” yang sudah telanjur diajarkan di sekolah dan universitas.

Kita adalah pembaca yang suka membantah. Sikap yang buruk gara-gara kita tidak punya banyak bekal dan bodoh dalam sejarah. Membantah mungkin cara agar kita tidak mudah percaya dan menganggap kebenaran usinya pendek saja.

Keinginan membantah itu muncul saat membaca kalimat-kalimat buatan Jakob Sumardjo: “Cinta tanah air, rasa kebangsaan, dan semangat membangun negara dan bangsa yang baru sangat menonjol sebagai ciri Poedjangga Baroe, berkembang bersama giatnya hidup pergerakan nasional di Indonesia. Karya-karya sastra yang bertema demikian atau bersemangat demikian telah muncul di banyak penerbitan seperti dalam majalah Jong Sumatra, Abad XX, Daoelat Rakjat, Semangat Pemoeda, Fikiran Rakjat, Indonesia Moeda, Timboel, dan Pandji Poestaka.” Yakinlah ada tema-tema lain yang mungkin memikat ketimbang penemuan Jakob Sumardjo. Apesnya, kita tidak memiliki sumber data berupa majalah-majalah lawas terbitan awal abad XX sampai masa 1930-an.

Yang sering menjadi perhatian memang Poedjangga Baroe. Majalah itu terbit pada 1933, menimbulkan pengaruh yang besar. Kita mengikuti dulu pengajaran sejarah sastra. Majalah itu diakui penting dan berpengaruh. Orang yang mau meneliti bakal menemukan jumlaah pembaca Poedjangga Baroe cuma sedikit. Mengapa dianggap sangat penting dalam sejarah dan perkembangan sastra di Indonesia?

Penelitian yang dilakukan Jakob Sumardjo cukup membuat kita melek sejarah, yang ada sisi-sisi unik. Penjelasan: “Terbitnya majalah ini disambut baik oleh golongan elite nasional, tetapi tidak disambut baik oleh kaum bangsawan. Surat-surat Armijn Pane yang mengajak raja-raja Melayu agar berlangganan majalah Poedjangga Baroe tidak digubris…. Poedjangga Baroe juga mendapat kritik dari guru-guru bahasa Melayu karena banyaknya memasukkan kata-kata dari bahasa daerah dan bahasa asing.” Sejak awal,

majalah itu ramai dengan debat. Majalah yang laku sedikit tapi debat-debatnya berkepanjangan.
Kita yang telat belajar sejarah sastra di Indonesia, membaca esai Jakob Sumardjo mendapatkan banyak keterangan yang berdasarkan sumber-sumber bermutu. Yang disampaikan agak berbeda dari yang terdapat dalam pengajaran (sejarah) sastra di sekolah. Beruntunglah yang sudah membaca atau menemukan serial tulisan lainnya.

Masa lalu itu bergerak dengan “sastra majalah”. Poedjangga Baroe menyokong “sastra majalah” yang menimbulkan gejolak besar. “Keuntungan dari sastra majalah ini adalah karya para sastrawan lebih cepat diumumkan kepada pembacanya,” tulis Jakob Sumardjo. “Cepat” itu menentukan bertambahnya gairah umat sastra di Indonesia. Yang mereka hadapi adalah buku dan majalah, yang memungkinkan menikmati sastra beda corak dan dampak.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<