KURUNGBUKA.com – Di daftar bacaan kita, buku-buku bertema keluarga itu banyak. Yang dimaksud adalah buku-buku yang ditulis berdasarkan riset atau terbit berasal dari disertasi. Kita mudah mengingat buku Hildred Geertz yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berjudul Keluarga Jawa. Tema yang berpusat keluarga pun terbaca dalam disertasi S Sasaki Shiraishi. Yang diteliti condong adalah anak tapi membuat pembaca Indonesia berpikir serius keluarga.

Kita masih bisa menyebut belasan judul. Keluarga, tema yang terlalu umum dan besar. Namun, kajian-kajian berpijak ilmu-ilmu sosial membuat kita mengerti adanya masalah-masalah. Apakah politik ikut menentukan lakon keluarga di Indonesia? Jawabannya: pasti dan benar. Kita menemukan banyak hal yang menentukan mutu keluarga Indonesia, dari masa ke masa.

Yang kesulitan membaca buku-buku ilmiah boleh membuka teks-teks sastra. Pilihannya bisa dari yang terbit sejak masa awal abad XX atau terbitan mutakhir. Novel-novel terbitan Balai Pustaka (1920-an) mengisahkan keluarga-keluarga di Sumatra. Masalah keluarga-keluarga di Jawa tentu tak terlupakan. Yang tampak membedakan adalah keluarga yang berada di desa dan kota. Keluarga dalam situasi penjajahan dan bujukan modernitas saat akar tradisional masih menguat.

Pada masa yang berbeda, pembaca belajar keluarga melalui novel gubahan Arswendo Atmowiloto, Umar Kayam, Ramadhan KH, Leila S Chudori, dan lain-lain. Namun, pembaca yang berlangganan majalah wanitan dan keluarga memiliki ketekunan mengikuti ratusan cerita pendek dan cerita bersambung. Di situ, keluarga menjadi tema yang terpenting meski tak mengabaikan asmara.

Para pembaca majalah Femina, Kartini, Sarinah, Pertiwi, dan lain-lain memiliki asupan berlimpahan mengenai keluarga. Yang dibaca adalah keluarga dengan pelbagai latar sosial-kultural. Masalah-masalah yang dimunculkan biasa berulang, yang mengiringi pemaknaan keluarga pada masa Orde Baru.

Di majalah Sarinah, 27 Juli 1992, kita membaca cerita berjudul “Siksaan Rindu” gubahan Yatie Asfan Lubis. Siapa yang mengenalinya sebagai pengarang penting di Indonesia. Kita menghormatinya dengan membaca ceritanya meski jarang dibahas para kritikus sastra. Ia telah menulis dan mempersembahkan cerita, yang ada jejaknya.

Yatie bercerita: “Geram, marah, kesal, jengkel beraduk jadi satu! Tidak seperti biasanya, untuk kali ini aku benar-benar menuntut semua orang yang ada di sekelilingku untuk mendukung tindak-tandukku! Syukur, aku telah merebut simpati orang-orang di rumah. Suami dan anak-anakku tampaknya rela dan ikhlas untuk menerima semua kelakuan ataupun ucapan-ucapanku yang kian tak teratur.

Aku merasakan keletihan yang luar biasa, sejak mondar-mandir ke rumah sakit untuk merawat ayah. Tekanan batin ini begitu berat, dari hari ke hari.”

Tokoh utamanya adalah wanita, yang menanggung banyak beban. Perannya dalam keluarga sangat menentukan kebahagiaan atau ledakan-ledakan yang menimbulkan sedih, kecewa, dan penyesalan. Keberadaan dalam keluarga dengan segala misi membuat perempuan menentukan sikap: dari tabah sampai menyerah. Cerita itu pendek tapi pembaca merasakan lakon keluarga yang rawan dilema-dilema.

Kita masuk cerita lagi: “Tetapi untuk kali ini aku tak bisa menelan kekecewaanku. Kecuali ibu yang kian renta di tahun-tahun terakhir ini, tampaknya sudah pasrah akan tindak-tanduk adikku yang semata wayang itu. Ia sudah berhasil mengajari dirinya untuk menerima kekecewaan demi kekecewaan.” Keluarga tidak selamanya adalah cerita bahagia seperti yang disampaikan dalam penyuluhan-penyuluhan buatan rezim Orde Baru. Di Indonesia, keluarga bisa menjadi petaka dan neraka.

Yang mau menata dan membuat catatan bertema keluarga pasti dibingungkan untuk memilih teks sastra. Kita anjurkan majalah-majalah wanita dan keluarga dijadikan sumber utama. Yang dibaca adalah cerita berbarengan dengan halaman-halaman lain yang memuat artikel, berita, dan iklan. Usaha membaca dan menafsirkan keluarga berlembaran teks sastra tentu bakal majemuk. Yakin saja bahwa pembesaran tema keluarga menjadi dokumentasi, yang kelak membuat kita mengerti keluarga berlatar Orde Baru. Perbandingan bisa dilakukan dengan membaca cerita-cerita setelah keruntuhan rezim Orde Baru (1998).

Mengapa memilih tema keluarga?” Kita mengaku sedang jenuh dengan tema-tema yang sulit, yang biasanya punya referensi berat-berat. Pembaca dan penafsir keluarga agak longgar dalam amatan teks sekaligus mengaitkan dengan kenyataan-kenyataan yang tergelar di Indonesia, dari masa ke masa.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<