KURUNGBUKA.com – Pada suatu masa, orang-orang menikmati puisi-puisi gubahan Toto Sudarto Bachtiar. Ada yang kagum dan memberinya derajat tinggi dalam sastra Indonesia. Ada yang membacanya secara wajar agar tidak mudah memberi penilaian. Puisi-puisinya berada dalam masa yang menentukan untuk orang-orang menyebut puncak-puncak dalam puisi modern di Indonesia.

Toto Sudarto Bachtiar, nama yang biasanya dicantumkan setelah Chairil Anawar dan teman-teman Ia lumayan banyak menulis puisi. Dulu, dua bukunya yang terkenal diberi judul Etsa dan Suara. Puluhan tahun sesudahnya, dua buku diterbitkan lagi oleh Balai Pustaka. Niatnya menjadi bacaan di sekolah dan universitas. Ada puisi gubahan Toto Sudarto Bachtiar yang masuk dalam buku pelajaran masa Orde Baru. Puisi yang terpilih itu membuktikan capaiannya memang penting.

Namun, nama itu perlahan jarang dibahas. Kiprahnya dalam sastra kalah bersaing dengan sosok-sosok lain? Kita belum mengetahui meski dua buku tipisnya dapat menjadi bukti bahwa dirinya matang berpuisi. Yang terjadi adalah beberapa gebrakan dalam puisi bermunculan pada masa 1970-an dan 1980-an. Wajarlah bila Toto Sudarto Bachtiar yang tekun bersastra masa 1950-an seperti terengah-engah bila mengikuti suasana yang berbeda.

Beruntungnya, puisi-puisinya pernah muncul lagi oleh penerbit Grasindo. Penampilannya apik dan mengesankan. Apakah masih ada pembaca-pembaca baru yang mengaguminya? Buku itu mungkin dokumentasi saja untuk para pembaca lama, yang masih mudah memuji sastra pada masa lalu.

Kini, kita mengenang puisi lamanya, bukan dari buku. Yang kita baca adalah puisi yang termuat dalam majalah Zenith edisi Mei 1952. Satu puisinya dimuat berdampingan dengan etsa buatan Tino S (Sidin). Dua halaman tidak berkaitan tapi kita agak tergoda memikirkan Tino Sidin, yang kondang sebagai guru menggambar untuk anak-anak di seantero Indonesia. Padahal, ia pun menulis cerita, tak sekadar membuat gambar.

Puisi yang ditulis Toto Sudarto Bachtiar berjudul Memento Mori, ditulis di Jakarta, 11 Februari 1952. Kita boleh membaca sambil membayangkan berada di masa 1950-an. Yang terbaca: Kemuning dan kembodja/ Mengasuh keliah padang sunji tak punja tepi/ Terbuka pertemuan tjahaja dan kelam// Tiang-tiang jang ingin serta tenggelam/ Kedalam keguraman malam/ Terkandas pada sebentuk harapan beku dan kelesuan/ Memberikan ruh pada kutuk dan atjuan tjedera dunia/ Meninggalkan kesempatan terachir pada penghuni/ Jang tersipu dan rindu istirahat jang tenang dan pandjang. Puisi yang rasanya terbaca mudah.

Kita belum perlu menaruhanya di antara pijakan estetika Chairil Anwar dan Rendra. Toto Sudarto Bachtiar tampak menjadi pengarang yang lugu. Puisinya tidak ada ledakan. Emosi yang terjaga dengan kata-kata yang umum, tidak menyulitkan pembaca. Bagaimana ia berpuisi dengan tenang dan sadar bakal bergerak jauh?

Pembaca jangan mengira gampang meniru puisinya. Yang jelas, puisi-puisi yang ditulisnya dulu mendapat pujian dan biasa dijadikan contoh dalam ulasan sastra untuk murid atau mahasiswa. Puisi yang dimuat dalam majalah Zenith mungkin bukan yang terpenting tapi kehadirannya mendapat pembaca yang cukup banyak. Dulu, sastra dalam majalah memang lebih cepat datang kepada para pembaca.

Selanjutnya, Toto Sudarto Bachtiar menulis: Dinding jang tidak punja daun djendela/ Telah ditinggalkan usungan penghuni terputus tali/ Dan alun nestapa terkapar tak terpelihara/ Rumah sunji mendjulang langit putjat. Bagaimana perkembangan bahasa Indonesia berbarengan ketekunan Toto Sudarto Bachtiar mengerjakan puisi-puisi? Kita membacanya dengan penilaian bahwa bahasa Indonesia berdaya digunakan dalam puisi. Yang menulis sadar tentang dampak bahasa Indonesia, yang bertumbuh tapi tidak harus dilelahkan dan diledakkan oleh revolusi.

Artinya, Toto Sudarto Bachtiar berhasil dalam memajukan sastra yang berbahasa Indonesia. Ia yang memilih dan menaruh kata dalam puisi tidak sembarangan memaksa para pembacanya buka kamus-kamus. Apa-apa yang terbaca itu tidak menyulitkan dan sejenak memberi panggilan kepada pembaca agar mengerti geliat bahasa Indonesia.

Pada saat menggubah puisi, Toto Sudarto Bachtiar belum memiliki tuntutan untuk membaca Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) susunan WJS Poerwadarminta dan Kamus Moderen Bahasa Indonesia (1954) susunan Sutan Mohamad Zain. Maka, yang terbiasa membaca puisi-puisi lama kadang terbujuk sekalian memikirkan bahasa Indonesia, yang sedang bertumbuh atau bertambah kekuatan.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<