KURUNGBUKA.com – Saya sudah beberapa kali menonton ulang Soul, seringnya di saat-saat saya mulai meragukan pilihan jalan hidup yang saya ambil—terutama dalam menjalani profesi sebagai penulis. Film ini seperti teman lama yang diam-diam selalu hadir, mengingatkan saya akan hal-hal esensial yang mudah terlupakan.
Disutradarai oleh Pete Docter dan Kemp Powers, serta ditulis oleh Pete Docter, Mike Jones, dan Kemp Powers, Soul merupakan film animasi produksi Pixar Animation Studios dan Walt Disney Pictures yang dirilis pada tahun 2020. Film ini berhasil meraih sejumlah penghargaan prestisius, termasuk Academy Award untuk Best Animated Feature dan Best Original Score.
Soul bercerita tentang Joe Gardner, seorang guru musik sekolah menengah yang bermimpi menjadi musisi jazz profesional. Ketika akhirnya ia mendapat kesempatan emas untuk tampil di sebuah klub ternama, takdir berkata lain—sebuah kecelakaan membuat jiwanya terpisah dari tubuhnya. Dalam perjalanan kembali ke kehidupan, Joe bertemu dengan berbagai jiwa lain di alam transisi, termasuk jiwa keras kepala bernama 22. Dari sinilah petualangan spiritual yang menyentuh dan filosofis dimulai, membuka tabir tentang arti hidup, tujuan, dan kebahagiaan sejati.
Kecerdasan para animator Pixar dan Disney terletak pada kemampuan mereka mengolah gagasan yang kompleks menjadi tontonan yang ringan namun menyentuh. Jika di Indonesia konsep seperti ini sering diasosiasikan dengan “mati suri”, maka dalam Soul, gagasan tersebut disampaikan secara lebih spiritual namun tetap menyenangkan bahkan untuk ditonton anak-anak. Visualnya memikat, namun pesan moralnya dalam dan reflektif. Ini bukan hanya animasi—ini kontemplasi dalam bentuk cerita.
Dialog antara Joe dan 22 menjadi jantung emosional film ini. Percakapan mereka menggugah pertanyaan-pertanyaan besar yang barangkali pernah terlintas di kepala kita: Apa makna hidup ini? Untuk apa kita hidup? Apa yang sebenarnya sedang kita kejar? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab secara gamblang oleh film—justru film ini memantulkannya kembali ke kita, agar kita sendiri yang menemukan jawabannya.
Cerita sekompleks ini berhasil dituturkan secara ringan melalui visual yang cerdas. Kita sering kali terlalu sibuk mengejar masa depan dan lupa bahwa hidup berlangsung hari ini. Soul mengajarkan kita untuk bersyukur, untuk benar-benar hidup, bahkan dalam momen-momen terkecil.
Saya sering merasa tertegun sendiri setelah menonton. Sebagai seorang Muslim, saya membayangkan betapa indahnya jika kisah-kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW bisa diolah menjadi karya seindah ini. Banyak ajaran dalam Al-Qur’an dan Hadis yang mengajarkan tentang menjadi manusia yang utuh—yang tahu cara bersyukur, mencintai hidup, dan tidak lupa pada esensi keberadaan.
Salah satu kutipan favorit saya dari film ini datang dari Dorothea Williams, musisi jazz yang sangat diidolakan oleh Joe:
Aku pernah dengar kisah seekor ikan kecil. Ia berenang menghampiri ikan tua dan berkata, ‘Aku mau mencari sesuatu bernama Lautan.’
‘Lautan?’ kata si ikan tua. ‘Itu tempat di mana kau berada sekarang.’
‘Ini lautan?’ kata si ikan kecil. ‘Ini cuma air. Aku mau Lautan!’
Kita sering mencari sesuatu yang “lebih”, sampai lupa bahwa kita sudah berada di dalamnya. Hiduplah untuk hari ini, sebelum hidup benar-benar berlalu dan kita lupa menyadarinya. Jangan sampai menyesal.
Skor: 9/10.











