KURUNGBUKA.com – Berapa nama dapat ditulis jika ada pertanyaan tentang sastra dan perempuan? Yang merawat masa lalu bakal mencantumkan nama-nama: Selasih, Suwarsih Djojopuspito, Arti Purbani, Nh Dini, Marianne Katoppo, Marga T, dan lain-lain. Seharusnya daftar nama melebihi 100 asal ada ketelitian untuk mengusut kesusastraan di Indonesia masa lalu.

Dulu, masalah sastra dan perempuan pernah ditulis menjadi buku oleh dosen di Univeristas Dipoengoro, Semarang: Sri Rahaju Prihatmi. Buku yang semestinya cetak ulang itu berjudul Pengarang-Pengarang Wanita Indonesia (1977). Yang menerbitkan adalah Pustaka Jaya. Buku yang tipis. Buku yang tidak pernah mendapat imbuhan atau penyempurnaan agar makin tebal. Nama-nama yang diulasnya sudah mulai hilang dari pembahasan sastra.

Pada masa yang berbeda masalah perempuan dan sastra menghasilkan banyak esai dan buku. Beberapa disertasi pun memilih tema yang membuktikan perkembangan pesat perempuan dalam kesusastraan di Indonesia. Yang menulis tidak hanya orang Indonesia tapi para pengamat dari pelbagai negara. Hasi-hasil studi yang baru tidak boleh melupakan rintisan yang dilakukan oleh Sri Rahaju Prihatmi.

Bagi yang ingin meneliti bersumber majalah untuk mengetahui arus besar perempuan dan sastra semestinya memilih Femina. Majalah yang serius memberikan ruang bertumbuh bagi kaum perempuan dalam gubahan cerita pendek, novelet, cerita bersambung, dan novel. Mereka pun mendapat pemberitaan yang banyak, selain edisi wawancara.

Femina berpengaruh dan memunculkan nama-nama yang penting. Kita mengingat Femina dan Marianne Katoppo. Majalah itu biasa memuat cerita pendek dan cerita bersambung yang ditulis Marianne Katoppo. Beberapa selanjutnya terbit menjadi buku oleh GFP. Buku-bukunya mendapat penghargaan dan laris. Namun, tidak selamanya novel-novelnya diterbitkan GFP. Para pembaca akhirnya memegang edisi yang muncul oleh penerbit-penerbit yang berbeda.

Di majalah Femina, 25 Oktober 1977, pembaca disuguhi cerita bersambung yang ditulis Marianne Katoppo. Judul yang indah: Anggrek Tak Pernah Berdusta. Pada saat terbit menjadi buku, judulnya tetap sama. Yang ingin mendapat kesan mendalam seharusnya berhadapan dulu dengan lembaran-lembaran dalam majalah, sebelum memegang edisi buku.

Gambar yang dihadirkan dalam cerita bersambung itu apik dan berwarna. Kita melihat lelaki dan perempuan di hadapan lukisan. Di tengah, ada seorang bocah. Gambar yang sudah mengajak penafsiran mengenai cerita, pasti tidak jauh dari asmara.

Yang dikutip: “Aneh rasanya, orang seumurku baru mulai pacaran lagi. Bercintaan. Sejak mula sudah jelas bagaimana duduk perkaranya kami saling tertarik, dan dari daya tarik itu lambat laun terwujudlah rasa cinta, sebagaimana ulat hina lambat laun berwujudkan kupu megah. Padahal bagi orang seusia kami, cinta itu tidak mudah. Karena tampaknya jalan cinta itu pasti menuju ke pembentukan rumah tangga bersama. Pasti!”

Kisah asmara yang mengesankan biasanya berairmata. Siapa pernah menangis saat membaca novel mengenasi asmara? Menangis teredu-sedu atau menjerit? Menangis yang bikin lega atau histeris? Yang menangis gara-gara novel jangan lekas penganut cengengisme. Ia mungkin sedang tersentuh hatinya atau merasakan cocok dengan cerita yang dibuat pengarang. Judul novel yang digubah Marianne Katoppo tetap, tidak ada kebaikan mengubahnya menjadi “Airmata Tak Pernah Berdusta”.

Kita lanjutkan mengutip tapi belum yang berairmata: “Dan kami masih menghargai kemerdekaan yang kami nikmati selama ini, sebelum pertemuan ini… Ia beberapa tahun lebih tua dariku, dan selama ini selalu tergolong ‘barisan antikawin’. Gemar membujang, gemar hidup sendiri, tanpa ikatan, tanpa tuntutan. Pernah ia bertunangan. Sering ia berpacaran. Selalu saja ada gadis yang merasa dirinya patut dilukis.” Yang diceritakan adalah lelaki bernama Masri. Pelukis yang memiliki pesona sekaligus jebakan.

Kita bukan pembaca saat cerita bersambung itu dinantikan para pembaca. Pemuatan beberapa kali kadang memberi penasaran yang membuat pembaca serius membaca dan mengingat. Dulu, cerita bersambung memang memiliki keunggulan-keunggulan, yang melazimkan sering menjadi suguhan istimewa di majalah-majalah keluarga atau wanita.

Femina dianggap yang paling bersemangat merayakan cerita bersambung. Jadi, orang-orang masa lalu hidupnya tidak akan seru jika belum pernah membaca cerita bersambung. Kita kangen masa itu saat cerita yang dinikmati terjadwal oleh waktu terbitnya majalah. Kita tidak segera merampungkannya tapi kesan-kesan yang terasakan sulit terhapus meski tahun-tahun terus berganti.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<