KURUNGBUKA.com – Anak-anak yang hidup di kota kecil menyerap banyak pengetahuan sekaligus kehilangan. Pada saat mereka lahir dan bertumbuh, kota sudah berubah meski tidak semuanya. Ada yang tersisa tapi sulit dijelaskan. Ada yang hilang tanpa sempat ceritanya diketahui anak-anak. Namun, penghayatan anak-anak selama berada di kota kecil bakal menyibak yang telah hilang, dilupakan, dan ditutupi.
Di negara-negara maju, identitas kota ditandai dengan adanya bangunan untuk pengetahuan. Kita biasa mengenalnya perpustakaan. Konon, tempat itu pusat berkumpulnya buku dan pembaca. Rebecca Stead dan Wendy Mass dalam novel berjudul The Lost Library (2025) memunculkan tokoh anak-anak yang ingin mengetahui perpustakaan di kota yang hilang. Pengertian hilang itu gara-gara terbakar.
Petilan cerita sempat diberikan oleh guru: “Aku masih sangat merindukannya. Perpustakaan tua yang sangat indah dengan kubah dan menara. Pintu ganda besar berwarna biru.” Bangunan itu ada di masa orangtua mereka mulai menyukai buku dan percaya ketakjuban ilmu. Namun, generasi setelahnya, anak-anak mereka tidak pernah melihatnya lagi.
Di kota, anak-anak turut dibentuk dalam perpustakaan, selain rumah, sekolah, dan tempat hiburan. Di perpustakaan, anak-anak menjumpai buku-buku. Mereka juga mengenali manusia-manusia yang mengikuti hasrat pengetahuan, yang berperan sebagai pembaca dan pencerita bacaan-bacaannya. Pada saat anak-anak terpanggil oleh buku, pengalaman mereka untuk masuk perpustakaan kota yang indah itu kemustahilan. Merek hanya ikut jadi pengenang, yang berharap kembalinya hal-hal yang hilang meski hanya album cerita bersama.
*) Image by resensi.ilarizky.com
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







