KURUNGBUKA.com – Di rumah, anak-anak mendapat petunjuk dari orangtua dalam berdoa. Pada mulanya, anak-anak berkembang dengan kata-kata. Yang dimiliki, dimengerti, dan diucapkan masih terbatas. Anak-anak yang terpesona dengan bahasa. Di keseharian, ia menggunakan kata-kata untuk berkomunikasi atau bergaul dengan keluarga, teman, atau tetangga.
Kemampuan menyusun kata perlahan digunakan untuk berdoa. Maka, anak melakukan komunikasi dengan Tuhan. Yang diucapkan adalah kata-kata yang dimengerti meski ada beberapa kata yang khas. Berdoa bukan peristiwa yang biasa saja. Anak-anak yang berdoa mungkin merasakan yang istimewa atau sakral saat berdoa. Di kalangan dewasa, berdoa harus serius. Namun, anak-anak belum bisa sepenuhnya menerapkan serius.
Kita mengetahui anak dan berdoa dalam novel berjudul The Golden Road (2010) gubahan LM Montgomery. Seorang tokoh mengakui: “Aku akan berdoa setiap malam dengan teratur, bukannya dua kali dalam semalam karena takut tidak punya waktu besok harinya…” Kita yang membaca dipaksa merenung jadwal anak berdoa. Ada yang membatasi dan ingin teratur. Doa yang memiliki waktunya, tidak setiap saat.
Pengakuan yang mendimbulkan debat ringan. Yang lain mengatakan: “Kurasa kau belum pernah berdoa sebelum kami memaksamu pergi ke gereja.” Artinya, keluarga dan tempat ibadah mengajari anak rajin berdoa. Anak-anak berhak menerima pemahaman dan menentukan dirinya dalam kepentingan berdoa.
Doa itu masalah kemauan, yang membuat anak olah bahasa sekaligus mengatur waktu. Kita yang telah dewasa memiliki ingatan babak berdoa yang dianjurkan serius tapi sempat main-main. Pada dunia anak-anak, berdoa memang mengingatkan Tuhan tapi iseng dan ketakutan kadang terasakan, yang membuat doa adalah masalah yang pelik.
*) Image by Amazon.com
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











