KURUNGBUKA.com – Bocah ingin bermain dan bergembira. Namun, bocah yang hidup dalam keluarga miskin sudah diajak bekerja demi ketersediaan pangan. Yang bekerja mengetahui lelah dan jemu. Minli, bocah dalam novel berjudul Where the Mountain Meets the Moon (2010) gubahan Grace Lin memiliki sikap yang tidak ingin mengecewakan orangtua.

Minli ikut bekerja di sawah. Anak yang basah dan berlumpur, membantu ayah dan ibu. Sawah bukan tempat bermain tapi bekerja di bawah terpaan sinar matahari. Minli sempat tersiksa: “Ketika matahari bersinar dengan teriknya di atas kepala mereka, lutut Minli gemetar akibat kelelahan.” Kita mungkin tidak tega melihatnya tapi lakon itu “takdir” keluarga miskin.

Yang diungkapkan: “Dia membeci perasaan yang ditimbulkan lapisan lumpur pekat dan basah di tangan dan wajahnya. Dan, berulang kali, dia ingin menghentikan pekerjaannya lantaran sedih dan kesal.” Kondisi lumrah dialami anak yang kekuatannya terbatas.

Anak yang ingin berbakti. Anak yang mengerti derita-derita sudah lama ditanggungkan orangtua. Mereka terus bekerja dengan hasil yang sedikit. Kemiskinan yang disahkan kerja keras. Selanjutnya: “Tetapi, ketika melihat orangtuanya bekerja dengan sabar dan punggung membungkuk, Minli menelan keluh kesahnya dan melanjutkan pekerjaannya.”

Minli tetap berada di sawah, bersama matahari, dan mengangankan hasil panen. Pada akhirnya, kerja itu membuat mereka bisa makan. Matahari yang selalu terang di atas, yang bekerja di bawah terus berkeringat dan sabar. Minli perlahan mengerti dan berbakti.

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<