KURUNGBUKA.com – Sebelas atau seratus ratapan mengenai sastra di Indonesia tidak perlu direnungkan lama-lama. Merenung kadang kerugian jika beras dan listrik meminta jawaban di rumah. Maka, renungan sastra mendingan 3 menit saja. Selanjutnya, perbuatan-perbuatan yang membuat kita terhormat dan meyakini hidup masih boleh dihayati.

Ratapan yang paling menyedihkan? Orang-orang mungkin menjawab: penerbitan buku sastra. Yang menganggapnya paling menyedihkan berarti belum membuka matanya untuk segala tontonan di media sosial. Setiap hari, ada tayangan yang mengabarkan adanya buku-buku sastra. Banyak yang baru meski yang pamer buku lama masih tampak bangga.

Apakah buku-buku sastra baru membenarkan dominasi penerbit-penerbit besar? Orang yang bertanya ini pasti tidak pernah mengajak kakinya melangkah sepuluh meter dari rumah. Dominasi? Beberapa orang menyatakan penerbit-penerbit besar itu mendominasi selama puluhan atau belasan tahun. Namun, ada penerbit-penerbit yang ikut mengadakan buku sastra berani bersaing dalam penghargaan atau anugerah. Konon, buku-buku puisi yang diterbitkan JBS (Jogjakarta) mungkin terpilih dalam Kusala Sastra Khatulistiwa 2025. Ada pula novel yang diterbitkan JBS bakal menang.

Di pelbagai kota, ada penerbit-penerbit buku sastra yang tulus dan ngeyel. Ada harapan kecil-kecil bahwa buku sastra menemukan pembacanya. Buku yang dicetak 300 eksemplar terjual dalam waktu belasan tahun tidak perlu disesalkan. Buku cuma laku 5 eksemplar itu penciptaan sejarah. Maka, membahas penerbitan buku-buku sastra sepatutnya diberi senyum, jangan selalu cemberut. Berdoa saja yang masih menerbitkan buku-buku sastra mendapat pahala dari Tuhan. Yang menerbitkan buku sastra semestinya terhindar dari dosa-dosa yang mengantarnya ke neraka.

Sebelum kita ceroboh mengurusi penerbitan buku sastra mutakhir, menengok masa lalu itu keniscayaan. Yang berbagi keterangan adalah Ajip Rosidi dalam artikel yang berjudul “Penerbitan Buku Bacaan dan Buku Sastra di Indonesia” dimuat dalam Prisma edisi April 1979. Kita mengingat: “Yang patut dicatat ialah usaha Pembangunan menerbitkan buku-buku bermutu, termasuk buku sastra, dalam bentuk buku saku yang murah dengan oplah tinggi, yaitu 10.000 eksemplar setiap cetakan. Dalam seri ini kecuali buku-buku terjemahan, juga diterbitkan buku-buku asli Trisno Sumardjo, Trisnojuwono, Toha Mohtar, Rendra, Subagio Sastrowardojo, dan lain-lain. Harganya yang murah dan bentuknya yang menarik menyebabkan seri penerbitan yang diberi nama Seri-Pem ini sangat populer.”

Nama penerbit yang jelek: Pembangunan. Artinya, Indonesia masa lalu memiliki “orde pembangunan buku”. Pada masa dan penguasa yang berbeda adanya adalah orde bertajuk pembangunan nasional. Yang kita kagum adalah jumlah terbitan oleh Pembangunan. Jadi, orang-orang yang masih berduit lekas saja menggunakan untuk membeli buku-buku terbitan Pembangunan masa lalu. Percayalah bahwa membeli dan mengoleksi buku-buku sastra lawas hidupnya agak bahagia. Apakah harus dibaca semua? Kita menasihatkan urusan yang terpenting adalah membeli dan mengoleksi. Yang menantang untuk membaca semua buku wajib ditampar pipinya dan disumpal mulutnya.

Kita masih mengingat yang silam. Ajip Rosidi menerangkan: “Pada umumnya, buku-buku disalurkan melalui toko-toko buku. Kenyataan ini kurang menguntungkan karena jumlah toko buku sangat kurang sekali di Indonesia. Menurut catatan di seluruh Indonesia sekarang ini hanya ada 400-an toko buku besar dan kecil. Terutama terdapat di kota-kota besar saja.” Keterangan itu berlatar masa 1970-an. Ajip Rosidi tidak sembarangan main data. Dulu, ia sibuk sebagai penerbit, penulis, dan ketua organisasi penerbit buku di Indonesia.

Pada 2025, berapa jumlah toko buku di Indonesia? Maksudnya, toko buku yang ada bangunannya, papan, rak, lampu, dan lain-lain. Kini, yang berjualan buku memiliki toko tapi diketahuinya bila kita menghidupkan gawai. Penerbit-penerbit masih berani mengadakan buku sastra. Penerbit bertambah repotnya dengan menjual. Pada saat gairah itu tetap ada, penerbit-penerbit lama malah mengabarkan cuci gudang yang berakibat buku-buku sastra terbita beberapa tahun yang lalu harganya menjadi murah. Namun, apakah orang-orang segera membelinya? Murah belum dijamin laku.

Artikel lawas buatan Ajip Rosidi boleh disodorkan kepada Fadli Zon atau menteri-menteri yang berurusan dengan (penerbitan) buku sastra. Mereka yang mau membaca tidak usah terlalu diharapkan membuat kebijakan yang menyenangkan. Yang meratap bisa melanjutkan. Yang malu meratap boleh duduk di pinggir kali sambil membawakan lagu-lagu cengeng sampai air matanya berjatuhan di sunga: mengalir sampai jauh.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<