“Keputusan akhir mereka untuk menikah secara terang-terangan justru dibayangi keputusasaan. Jauh di lubuk hati, mereka ketakutan. Hasrat mereka menggelegar ngeri. Boleh dibilang mereka seperti saling menopang di atas jurang seram yang memukau, masing-masing merunduk di atas sosok satu sama lain, berpegangan tanpa bersuara. Sementara, gelombang-gelombang vertigo yang tajam dan memabukkan melemaskan pegangan mereka dan mendesak mereka untuk melepaskan diri. Namun, dihadapkan pada situasi sekarang ini, mereka hanya menunggu dengan was-was dan terbelit hasrat-hasrat mengerikan. Mereka ingin sekali memejamkan mata dan bermimpi akan suatu masa depan yang penuh kebahagiaan, cinta, ketenangan, dan kedamaian. Semakin mereka menggelegar saat memandang satu sama lain, semakin mereka menduga-duga kengerian lubang yang akan mereka masuki…”

(Emile Zola, Therese Raquin, Gramedia Pustaka Utama, 2011)

KURUNGBUKA.com – Tidur dan pernikahan adalah dua peristiwa yang berbeda. Di novel gubahan Emile Zola, pembaca mungkin bisa sejenak memikirkan hubungan tidur dan pernikahan tanpa harus menyajikan penjelasan-penjelasan ilmiah. Konon, tidur itu istirahat dengan tubuh berbaring dan mata yang terpejam. Apakah tidur itu mudah? Orang-orang yang sedang bermasalah kadang menyatakan (sangat) sulit tidur. Mereka bernafsu tidur tapi gagal menemukan cara atau jurus yang terampuh agar segera “meninggalkan” kenyataan yang bergelimang masalah.

Tidur membutuhkan “kesungguhan” tapi selalu ada hal-hal yang mengganggu, merusak, dan menggagalkan. Jadi, yang berhasil tidur dengan nyenyak adalah pemilik kemenangan atas hidupnya, yang tidak harus selalu mata melek dan terjaga atas segala kenyataan. Yang tersiksa akibat gagal tidur dipahamkan tentang manusia yang diruwetkan raga dan kecamuk pikiran atau perasaan.

Yang pasti tidur berbeda dari pernikahan. Pembaca novel berjudul Therese Raquin menyadari bahwa pernikahan dua tokoh itu memang sangat rumit ketimbang gagal tidur dan mengalami tidur yang buruk. Pernikahan tidak selamanya pesta yang dihadiri banyak orang. Yang menjadi pengantin tidak dijanjikan bahagia atau mendapatkan taburan pujian. Pernikahan adalah peristiwa yang sangat menggelisahkan ketimbang orang yang memaksa dirinya tidur tapi cuma bisa berbaring dengan siksaan-siksaan.

Emile Zola tidak memberikan keindahan-keindahan dalam pengisahan pernikahan. Pengarang yang menyiksa pembaca saat ikut membayangkan nasib para tokoh. Yang ditulis adalah perasaan-perasaan yang menjadikan pernikahan bukan kemudahan. Para tokohnya tidak selesai diceritakan menggunakan 10 atau 12 kalimat. Pengarang memilih bertele-tele.

Artinya, yang menikah dan tidur berada dalam kepentingan menguak perasaan-perasaan manusia. Hari-hari menjelang pernikahan memberi pertanyaan yang tidak mustahil dijawab: tidur. Namun, mereka seolah kehilangan ilmu yang paling remeh untuk dapat tidur. Jalinan perasaan sebelum pernikahan membuat tidur adalah tujuan yang terpenting. Padahal, mereka mengetahui ada hal-hal yang genting, mengerikan, dan menyedihkan.

Mengapa bukan tawa yang mengiringi hari-hari menuju pernikahan? Yang kita baca adalah novel, bukan dongeng anak setengah halaman atau cerita hiburan sepanjang satu halaman untuk para peminum kopi. Novel yang disuguhkan Emile Zola menantang pembaca mendebatkan pernikahan.

Yang diimajinasikan bukan kelaziman tapi hubungan manusia-manusia yang berantakan. Pilihan mengadakan pernikahan seperti memberi jawaban meski itu menggampangkan siksaan dan kehidupan yang fatal.
Pernikahan itu mengerikan. Yang ikut membuat pemaknaan pernikahan tidak lancer adalah kesulitan mengurusi perasaan-perasaan, yang membuat tidur adalah peristiwa tersulit. Tidur diinginkan mengentengkan segala beban.

Yang berharap tidur makin mengerti bahwa pernikahan tidak sepenuhnya kebenaran. Ada beragam kesalahan dan kegagalan yang mereka lakukan tapi dipaksa samar oleh mimpi-mimpi di luar tidur. Pada situasi yang buruk, pernikahan adalah petaka yang membuat hidup tanpa jaminan tidur.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<