Bapak selalu bilang aku cerewet. Katanya, itu semacam penyakit dalam otakku yang tak akan mungkin bisa sembuh, hanya bisa dikendalikan. Makanya, bapak selalu berusaha membuatku diam.
“Bicara kalau perlu saja,” katanya, sambil menusuk-nusuk sisa nasi di piring. “Kebanyakan ngomong itu dosa.”
Sejak aku kecil, setiap kali aku berbicara—bertanya, menyela, atau sekadar bersuara—aku selalu melihat bapak memiringkan kepalanya. Awalnya kupikir karena ia tak mendengar. Tapi kemudian aku sadar: ada ‘sesuatu’ yang tumbuh di telinganya. Dan ‘sesuatu’ itu hanya tumbuh setiap kali aku bersuara. Setelah kuperhatikan dengan saksama, seperti jamur kecil. Putih, licin, dan berbau apek. Muncul dari liang telinganya, seolah-olah suaraku adalah tanah basah yang subur bagi mereka.
Pertama kali kulihat jamur itu umur tujuh tahun. Aku pulang sekolah dan bilang bahwa aku ingin jadi pemain biola. Bapak mendongak dari kursi rotannya, kepalanya miring, dan sehelai jamur tumbuh dari liang telinga kanannya. Waktu itu aku menjerit. Ibu marah. Bapak hanya tertawa kecil dan bilang aku suka mengada-ada. Tapi aku yakin dengan apa yang kulihat dari telinga bapak.
Jamur-jamur itu tak pernah bohong. Setiap kali aku membuka suara, apalagi jika itu tentang mimpi, marah, atau hal-hal yang membuatku jadi lebih dari sekadar anak perempuan baik-baik, jamur-jamur itu tumbuh lebih banyak. Seringkali berbentuk jamur kuping, kadang seperti kancing baju, dan sekali waktu berbentuk seperti telingaku sendiri, tapi basah dan menjijikkan.
Saat berumur dua belas, aku bertanya kenapa bapak berbicara dengan cara yang tidak baik kepada ibu. Suaranya kasar, sampai membuat ibu menangis. Setelah menanyakan hal itu, telinga bapak langsung ditumbuhi jamur sebesar kepalan tangan. Ia tak menjawab. Hanya bangkit dan pergi ke beranda, seperti biasa. Ibu menyuruhku diam. “Bapakmu sedang banyak pikiran,” katanya.
Jamur-jamur itu tak pernah tumbuh saat orang lain bicara. Hanya suaraku. Aku sempat curiga, mungkin bukan jamur—mungkin mereka adalah bentuk suaraku sendiri yang tak pernah benar-benar sampai. Tapi kalau begitu, mengapa ia tumbuh di tubuh bapak? Pikiranku mulai coba-coba mencari apa penyebabnya.
Kini aku tujuh belas tahun. Aku lebih jarang bicara. Bukan karena menurut, tapi karena memilih. Pilihanku mengendap di kerongkongan, menimbun menjadi luka-luka kecil. Aku menulis banyak hal di buku catatan. Kadang kuselipkan di bawah bantal. Kadang kubakar. Kadang kubaca pelan di kamar mandi, dengan suara sekecil mungkin, agar tidak terdengar oleh dinding rumah ini yang ikut berpihak pada bapak.
Suatu malam, aku memutuskan bicara panjang. Bicara yang tak bisa dihentikan oleh ancaman atau diam. Aku mulai tak peduli dengan jamur yang akan tumbuh di telinga bapak. Tak peduli bentuk maupun ukurannya, juga bila kemungkinan jamur itu bisa saja membunuh bapak.
Aku menunggunya duduk di kursi rotan, seperti biasa. Televisi menyala tapi ia tak menonton. Matanya menatap ke luar, ke kebun kosong yang kami warisi dari kakek. Aku berdiri di depan pintu. Kutatap lehernya yang mulai mengendur, pipinya yang penuh bintik hitam, dan terutamatelinganya.
Aku bilang padanya, “Aku tahu semua yang bapak sembunyikan. Tentang hutang, tentang malam-malam di luar, tentang bentakan pada ibu yang tak pernah jadi pukulan tapi sama tajamnya. Aku tahu karena aku ada di rumah ini, bahkan saat kalian mengira aku tidak. Aku bukan anak kecil lagi. Dan aku tidak akan diam.”
Bapak menoleh perlahan. Telinganya gemetar. Saat aku melangkah maju dan berkata, “Aku akan pergi dari rumah ini, bukan karena benci, tapi karena aku ingin hidup,” saat itulah jamur-jamur itu meletus dari telinganya. Puluhan. Ratusan. Membanjir ke lantai seperti lendir kata-kata yang selama ini ia pendam. Ia memejamkan mata. Aku menatapnya tanpa rasa takut.
“Bapak bisa bersihkan sendiri,” kataku pelan. “Itu bekas dari suaraku.”
Setelah malam itu, bapak tidak bicara sepatah kata pun padaku. Tapi juga tak membentak. Tak bertanya ke mana aku pergi, pukul berapa aku pulang, atau apa yang kulakukan saat duduk berjam-jam di beranda membaca buku pinjaman dari pustaka keliling.
Namun yang aneh, sejak malam itu, jamur-jamur itu tidak menghilang. Justru membiak lebih liar. Bahkan saat aku tak mengucap satu patah kata pun, jamur itu tetap tumbuh, seperti kenangan yang gagal diredam. Kulihat bapak sering menggaruk telinganya, menyeka sesuatu dengan sapu tangan, kadang menarik potongan jamur seperti menarik benang luka. Tapi setiap pagi, ada saja yang baru muncul, dan setiap malam, seolah rumah ini penuh aroma busuk yang tak bisa dijelaskan.
Pernah suatu sore, saat aku pulang dari sekolah, aku mendapati ibu berdiri lama di dapur, diam seperti patung. Di tangannya ada kain lap basah. Di atas meja, sepotong jamur raksasa tergeletak: berwarna hitam mengkilap, sebesar kepala bayi. Ibu hanya berkata pelan, “Tadi jatuh dari telinga bapakmu.” Lalu ia mengambil kantong plastik hitam dan membungkusnya tanpa suara. Tidak membuangnya ke luar, hanya disimpan di laci tempat biasanya ia menyimpan pisau-pisau dapur.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti mimpi buruk yang tenang. Bapak tetap di kursi rotan. Ibu tetap seperti bayangan. Dan aku mulai bermimpi suara-suara. Dalam mimpi, aku bicara dengan diriku yang lain—diriku yang lebih tua, yang lebih keras, yang tidak takut. Kadang kami duduk berdampingan. Kadang kami hanya saling mendengar. Tapi yang pasti, aku merasa suaraku punya bentuk. Punya tubuh. Dan tubuh itu butuh ruang.
Aku menulis surat. Tapi suratnya bukan untuk siapa-siapa. Hanya pengakuan yang dituliskan agar aku tak lenyap. Aku tempel di dinding kamar, aku masukkan ke dalam botol dan kubuang ke sungai belakang, aku selipkan ke rak buku di sekolah. Siapa pun yang menemukannya, barangkali akan menganggapnya puisi. Tapi itu bukan puisi. Itu aku. Seluruh aku yang tak bisa tumbuh di rumah ini karena akan berubah jadi jamur di telinga bapak.
Suatu malam, rumah menjadi sangat hening. Hening yang lain dari biasanya. Televisi mati. Lampu dapur tak menyala. Tak ada suara sendok bertemu piring, tak ada gemerisik sandal ibu. Hanya suara bapak. Bukan berbicara, tapi bernapas dengan kasar. Aku keluar dari kamar. Di ruang tengah, bapak terduduk di lantai, bersandar pada dinding, tubuhnya terguncang. Dari telinganya, keluar jamur seperti rambut. Panjang dan melingkar. Menutupi sebagian wajahnya. Ibu berdiri di pojok ruangan. Tak bergerak.
“Aku ingin tidur saja,” suara bapak lirih. Napasnya berat, seperti tersumbat oleh sesuatu yang tak terlihat.
Aku dekati perlahan, lalu duduk. Tak terlalu dekat. Tak terlalu jauh.
“Bapak takut mati?” tanyaku.
Ia menggeleng. Tapi perlahan.
“Bapak takut suaramu terus tumbuh setelah aku mati.”
Aku terdiam. Tidak tahu harus tersenyum atau menangis.
Telinganya berdarah. Dari lubangnya, sesuatu keluar. Bukan jamur kali ini. Tapi gumpalan kertas. Lembaran-lembaran kecil, penuh tulisan tanganku—surat-surat yang dulu kubuang ke sungai, kuselipkan ke rak buku, kubakar dan kutulis ulang.
Semuanya keluar dari telinga bapak.
Aku menjerit. Tapi tak ada suara. Lalu ibu berjalan ke arahku. Ia berdiri di depanku, membuka mulutnya, dan dari dalam mulutnya—jamur juga tumbuh.
“Kamu lupa,” kata ibu. Suaranya bukan suara ibu. Tapi suaraku. Suara anak perempuan yang dulu suka bicara sendiri di kamar.
“Kamu yang menanam semuanya,” katanya.
Bapak terkulai. Mati. Di sekelilingnya, rumah kami dipenuhi suara-suara: dari televisi, dari radio, dari dapur, dari ruang tamu, dari dalam dinding. Semua suara itu milikku. Tertanam. Terbengkalai. Berkecambah.
Aku berlari ke kamar, membuka cermin, dan menatap wajahku. Telingaku juga mulai tumbuh jamur.
*) Image by istockphoto.com
















