“Kalimat pertama itu penting. Ia mengetahui hal itu dari naluri dan telaahnya terhadap naskah-naskah tua. Betapa dalam orang-orang zaman dulu memahami ini, betapa cermat mereka memilih pembukaan-pembukaan, dan betapa mudah mereka berkembang setelah keputusan penting yang dibuat. Di manakah memulainya? Ia iri pada pilihan-pilihan yang dimungkinkan oleh dunia mereka saat itu, pada kemampuan mereka mencari pengetahuan di mana pun itu berada.”
(Tariq Ali, Seorang Sultan di Palermo, Serambi, 2007)
KURUNGBUKA.com – Di biografi intelektual atau penikmat pengetahuan, membaca naskah atau kitab adalah kehormatan yang tak tergantikan. Selama di dunia, ia dapat menyatakan bahwa membaca itu memberi derajat tinggi ketimbang kesenangan-kesenangan duniawi. Yang dinikmati adalah bacaan, yang tidak menjamin pengertian. Ada pembacaan yang membuat diri memasuki ketakjuban-ketakjuban. Pembacaan yang “lemah” atau “keliru” memberi siksa yang tidak tertahankan.
Apa yang memberi ikatan agar membaca itu berlanjut, membuka halaman-halaman selanjutnya? Pada saat membaca, ada kaidah-kaidah yang dipenuhi sejak awal atau beriringan dalam peristiwa menikmati pengetahuan: gamblang atau terselubung. Maka, pembaca bisa membuat persumpahan pada halaman-halaman awal. Yang mulai membaca kalimat pertama berhak menentukan sumpah untuk petualangan yang panjang atau berhenti seperti kematian tiba-tiba.
Tariq Ali mengawali novelnya dengan memasalahkan kalimat pertama. Ia menaruhnya di kalimat pertama. Kita yang membaca novel itu termangu. Pilihan menikmati pesona kalimat pertama tentang kalimat pertama selama belasan menit. Pembaca tidak akan merugi jika memilih hening sejenak agar kalimat itu memberi keyakinan yang sifatnya sementara. Keyakinan untuk dimiliki atau ditinggalkan tanpa tawa yang mencemooh.
Yang dilakukan Tariq Ali adalah godaan berdebat kalimat. Bagaimana pembaca mau meladeninya tanpa kecerewetan yang garing? Pembaca boleh dalam hitungan untuk lekas memiliki kalimat atau mencoba menggugat tanpa harus mengeluarkan puluhan kalimat. Artinya, kalimat pertama tidak usah dibantai habis-habisan atau dipuji dengan diam.
Novel itu mengungkap abad-abad silam. Yang sedang dimasalahkan pengarang adalah naskah yang istimewa dengan pembaca yang terbatas. Pada suatu masa, pembaca adalah predikat yang memancarkan keagungan. Kehadirannya di pergaulan intelektual atau keseriusan di hadapan naskah atau kitab terbuka menentukan nasib: buruk atau baik.
Yang diceritakan Tariq Ali adalah ilmuwan yang berhubungan dengan penguasa. Pembaca dalam beragam kepentingan, mengaitkan ilmu, iman, sejarah, dan politik. Kita mampu membayangkan kerumitan yang ditanggungkan oleh pembaca. Apakah masih ada ketulusan dalam memasuki teks? Kita mengandaikan bakal kesulitan saat ketersediaan bacaan dan faedahnya dalam arus peradaban yang timpang.
Mengapa yang (sangat) dimasalahkan adalah kalimat pertama? Kita mengira itu berurusan dengan agama, keyakinan politik, dan tradisi keilmuan yang sudah terbentuk sejak lama. Jadi, kalimat pertama memang penting dengan latar zaman dan daftar ilmuwan yang sedang bergumul dengan tema-tema sedang diminati. Kalimat pertama tidak hanya pembuka.
Pada saat menikmati kalimat pertama dari kitab-kitab yang silam, pesona terasakan sekaligus kekaguman yang membutuhkan penjelasan. Adanya kalimat pertama yang membuka kunci-kunci pengetahuan ibarat anugerah. Namun, pembaca tidak sekadar ingin menikmati dan memilikinya. Yang diperlukan adalah pemahaman atas terjadinya kalimat pertama, yang bisa memukau dalam ketuaan untuk terbaca orang-orang berbeda zaman.
Kalimat itu pengetahuan. Yang ditentukan dan ditaruh di awalan tidak boleh “seadanya” atau memenuhi kepantasan saja. Tariq Ali yang memasalahkan kalimat pertama dalam kalimat pertama untuk novelnya makin “menumpuk” kebutuhan untuk meraup pengetahuan-pengetahuan dari masa lalu. Kalimat pertama yang tidak harus dahsyat. Kalimat yang menghimpun segala pikat.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<













