“Saat Syeikh Muhammad mencoba menemukan lukisan-lukisannya sendiri dan menghancurkannya, ia menemukan bahwa para miniaturis muda dengan penghormatan telah membuat ulang lukisan-lukisan itu dalam buku-buku yang tak terhitung banyaknya, dan telah mengacu pada lukisan-lukisan itu dalam membuat ilustrasi kisah-kisah lain, sehingga menyebabkan lukisan-lukisan itu diingat oleh banyak orang dan tersebar ke seluruh dunia….”
(Orhan Pamuk, My Name Is Red, Serambi, 2006)
KURUNGBUKA.com – Yang pernah melihat buku-buku lawas dari abad-abad yang silam biasanya terpikat. Ia bakal susah berkedip. Tangan pun gemetaran. Di hadapan buku-buku yang menua, ia sudah membuat tebakan-tebakan mengenai segala kesaktian yang terdapat dalam buku. Yang sangat sulit ditetapkan adalah sejarah dan perjalanan buku itu sampai ke masa yang berbeda.
Buku yang masih ada, yang berhasil lolos dari kehancuran dan kematian biasanya memiliki “pelindung” atau “penyelamat”, yang membawakan dan mengikutkan cerita-cerita yang istimewa. Namun, kita bukan orang yang terpilih untuk bisa menyentuh dan memegang abad-abad yang silam melalui buku. Padahal, buku yang tidak cuma benda itu mampu mengisahkan kota, penguasa, keluarga, iman, seniman, pedagang, musim, dan lain-lain.
Selama berabad-abad, buku tidak sepenuhnya aksara. Kita yang beranggapan bahwa buku itu kertas-kertas yang memuat huruf-huruf mesti memberi ruang pengertian yang lain. Di lembaran-lembaran yang terjilid, kita kadang melihat gambar atau lukisan. Pada abad yang lampau, lukisan yang berada di lembaran kertas dikerjakan oleh para seniman yang ampuh. Ia menaruh lukisan atau ilustrasi sembari “mengerti” kalimat-kalimat dan pukau makna dalam buku.
Yang terbaca dalam My Name Is Red adalah kagum dan bingung. Kita menuju kehidupan di abad XVI. Abad yang memiliki pencapaian dan kehancuran. Abad itu tidak hanya perang, penyebaran agama, atau perdagangan. Kita turut mengintip seni dan buku. Yang dimunculkan kepada pembaca adalah seniman, yang membuat buku-buku menjadi mulia. Namun, masa lalu adalah pertentangan, pertobatan, sengketa, peniruan, kebingungan, dan lain-lain.
Seniman membuat lukisan-lukisan, yang hidup dan “bertumbuh” dalam buku-buku. Yang terjadi adalah lukisan-lukisan bergerak ke segala arah. Seniman yang menghasilkannya tidak sanggup untuk menghentikan penyebaran, yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku memberi penghormatan tapi mengerti arus perbukuan.
Dulu, yang mudah diributkan adalah estetika. Orang-orang berdebat tak keruan mengenai indah dan buruk. Yang memiliki sikap bakal mengeluarkan kata-kata demi lukisan. Bagi yang memiliki serangan beragam bisa memberi kritik atas seniman, lukisan, buku, dan lain-lain. Kita yang tak pernah berada dalam abad yang pelik itu membayangkan peran orang-orang di jagat buku. Yang ditulis oleh Orhan Pamuk adalah seniman dalam kontradiksi atas lukisan dan buku.
Yang dikagumi bisa dihancurkan. Lukisan yang indah tidak menjamin pujian atau kebahagiaan. Ada hal-hal yang dipahami dalam lukisan, yang membuka selubung-selubung kebenaran, kesalahan, ketulusan, keterpaksaan, dan lain-lain. Yang melukis tidak berada dalam ketetapan yang berlaku lama atau abadi.
Kita berada di zaman yang berbeda, yang mendapat berkah setelah mesin cetak ditemukan dan memicu perubahan-perubahan teknologi perbukuan. Semua itu memberi akibat dalam menghasilkan buku, yang melibatkan banyak pihak. Yang indah tetap diwujudkan dalam buku tapi situasi dari masa silam yang pelik itu berbeda dengan masa sekarang. Kita tidak lagi dalam teka-teki atau rimbun misteri dalam menghadapi buku-buku yang dibuat indah. Zaman ini telah memudahkan segalanya, yang gampang menghilangkan pesona dan hakikat.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












