“Kuputuskan memanfaatkan uang beasiswa itu untuk mempelajari bahasa Inggris di Oxford. Aku tidak ingin gelar, aku hanya ingin pergi jauh, dan kupikir beasiswa tiga atau empat tahun di Oxford dapat membantu diriku dalam mengembangkan bakat, dan buku-buku akan mulai bisa kuhasilkan.”

(VS Naipaul, Menemukan Titik Pusat, 2019: 106-107)

KURUNGBUKA.com – Di perjalanan jauh dalam sastra, Naipaul mengerti: bahasa Inggris itu terpenting dalam usaha-usaha menggubah sastra. Ia tidak ingin jatuh, kesandung, atau terpuruk gara-gara bahasa Inggris. Buku-buku yang dibaca dan diketahui ada di taraf tertinggi kesusastraan dunia sering berbahasa Inggris. Ia pasti menganggapnya “mutlak” dan mulia bila fasih berbahasa Inggris. Ia lahir dan tumbuh di pertemuan bahasa-bahasa yang mula-mula mengungkapkan gejolak-gejolak identitas.

Pergi dari tanah kelahiran menuju Inggris. Ia pergi ke bahasa Inggris, masuk dengan “nafsu” dan pertaruhan impian terbesar. Naipaul yang tidak ingin menyia-nyiakan uang dari pemerintah. Uang yang “dipertukarkan” dengan bahasa Inggris, bahasa yang membesarkannya dalam pusaran sastra dunia.

Uang dan bahasa itu bermakna, dimulai sejak 1948. Naipaul menempuh perjalanan menuju kiblat bahasa, yang berlanjut ke sastra yang mudah terbit dan tenggelam. Yang diinginkan dari penguasaan bahasa Inggris adalah menulis buku-buku. Ia terlalu menghendaki buku menjadi penentu kehormatan, yang dihasilkan dengan sedih, marah, bingung, kecewa, dan girang.

Naipaul, orang yang beruntung mendapat kenikmatan dan capaian dalam bahasa Inggris. Ia tak menghabiskan uang tapi memuaskan hasrat berbahasa dan menghasilkan buku-buku untuk (cepat atau lambat) digemari para pembaca di dunia.

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<