KURUNGBUKA.com – (28/01/2024) Orang yang menulis, mengaku “kehabisan kata”. Pengakuan yang kadang menggelikan sekaligus menjengkelkan. Orang itu malas tapi malu bila dikatakan gagal dalam menyelesaikan tulisan. Maka, alasan-alasan diadakan yang berguna menangkal malu dan ledekan. Ada lagi yang kebingungan mencari dan memilih kata. Kelelahan dan memilih tidak merampungkan tulisan. Yang kita ketahui dari pengakuan-pengakuan adalah kegagalan atau kebodohan.

Yang menulis, sejak awal menyadari kekuatannya dalam kata. Ia semestinya bergairah dan berani bertarung dalam menaruh kata-kata sampai akhir. Yang utama adalah kata. William Zinsser menerangkan: “Pemroses kata adalah karunia Ilahi, atau berkah teknologi, bagi penulisan ulang dan pengorganisasian ulang.”

Hubungan penulis dan kata tampak terang sekaligus misterius. “Penulis dapat bercengkerama dan mengembara dengan kalimat-kalimat hingga menemukan yang paling tepat.” Kerja bersama kata, kerja yang seharusnya tidak dinodai keluhan, manja, dan ketololan. Kata-kata yang dituliskan kadang terlalu sulit “dipanggil” tapi penulis bisa kewalahan saat kata-kata berdatangan seperti “mukjizat”.

William Zinsser mengingatkan jangan lupa “menulis ulang”. Artinya, “kebenaran” diinginkan dalam tulisan jarang diperoleh sekali jadi. Maka, perhatian atas kata-kata itu keniscayaan. Yang memberi perhatian dapat mengetahui bolong, lemah, dan salah dalam pencantuman kata-kata. Semua itu menentukan pesan diinginkan dan membuka pintu makna dibuat oleh para pembacanya.

Pada kata-kata dan keberanian penulis, ikhtiar mewujudkan tulisan menghimpun beragam kesengajaan dan kejutan-kejutan luput dari ramalan. Tulisan memang kata-kata tapi tidak hanya yang tampak mata.

(William Zinsser, 2015. On Writing Well, Kiblat)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<