Menjadi seorang dokter merupakan impian populer masa kanak-kanak kebanyakan dari kita. Dokter Ade pun mengaku awalnya impian menjadi dokter hanyalah cita-cita mengikuti kecenderungan mainstream. Siapa sangka, sarjana fakultas kedokteran UGM dan Spesialis FK UNHAS Makassar ini hingga berkesempatan short course Pain Klinik di Jepang. Namun, kita jangan hanya membayangkan enaknya menjadi seorang dokter. Sebelum menjadi dokter spesialis anestesi di RSUD Sangatta Kaltim (hingga sekarang), dr. Ade telah ditempa oleh pengalaman yang luar biasa.

Bayangkan, awal-awal bertugas, ia ditempatkan di desa terpencil yang belum ada puskesmas, baru ada puskesmas pembantu (Pusban). Bangsal perawatannya adalah rumah-rumah penduduk yang tersebar di 5 desa. Ia bertugas seorang diri bertanggung jawab terhadap kesehatan 5000 jiwa penduduk yang tersebar di hulu-hulu sungai, tengah-tengah belukar hutan, hingga pinggir-pinggir muara yang sunyi sepi. Karena belum ada perawat yang membantunya, sang istri pun (Apriyana Ardianti) jadi perawatan dadakan membantunya menangani pasien.

Alat transportasi satu-satunya yang ia pakai hanyalah perahu kecil membelah sungai yang dikuasai banyak buaya (yang dimitoskan oleh penduduk setempat dengan sebutan “Sang Nenek”). Jika musim kemarau datang, ia disambut beruang madu yang tengah mencari makan, malam hari menyaksikan gerombolan babi hutan, dan di siang hari para biawak mengendus-ngendus mencari mangsa anak ayam. Di bulan Agustus badai angin mengancam 24 jam selama hampir sebulan penuh….

Itu hanya fragmen kecil pengalaman yang dr. Ade ceritakan di klip buku “Mengobati dengan Hati: catatan seorang dokter dari pesisir terpencil” yang ia unggah di channel youtube pribadinya. Kami dari Kurbuk sangat bergembira berkesempatan mewawancarai dr. Ade Hashman yang 2019 lalu meluncurkan buku terbarunya; Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib yang diterbitkan Bentang. Lewat buku terbarunya ini dr. Ade kembali menegaskan bahwa sumber kesehatan yang paling utama adalah muatan spiritual, di samping pola hidup dan peran dunia medis.

Untuk mengenal lebih dekat kiprah Dokter Ade Hashman, silakan simak petikan wawancara kami via WhatsApp berikut ini:

  • Assalamu’alaikum, Dok. Saya diamanahi Kurungbuka.com untuk menulis sosok-sosok inspiratif. Dan saya kepikiran Dokter Ade. Kalau dokter ada waktu luang boleh tidak saya tanya-tanya?

Wa’alaikumsalam. Silakan saja Mas Anas, mungkin secara nyicil-nyicil aja via WA ini…

  • Iya, makasih, Dok. Pertama, saya penasaran awal mula dr. Ade terjun ke dunia tulis-menulis atau literasi itu sejak kapan? dan insipirasinya dari mana?

Bismillah. Saya senang menulis sejak lama, persisnya mulai lebih aktif sejak kuliah. Di era 90-an saya sering mengirim artikel ke surat kabar, dan “alhamdulillah” tidak pernah diterima oleh redaktur. Tidak tahu persis, tapi kira-kira artikel ke-20, baru tulisan saya diterima redaktur waktu itu (tahun 1994).

Saya malah merasa bersyukur saat waktu itu tulisan-tulisan awal saya ditolak, karena setiap penolakan redaktur memberi umpan balik berharga tentang poin apa yang kurang dari tulisan saya. Saya belajar dari itu.

Persistent…, mungkin itu mantra yang lebih manjur jika saya ditanya bagaimana menulis. Tidak perlu jauh mempertanyakan, apakah kita punya bakat, siapa yang menginspirasi dsb…, mau menulis, maka tulislah dan tulislah. Sesederhana itu. Mengutip quotes-nya pak Pramoedya Ananta Toer: “Menulislah, apa pun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.”

Adapun kemudian kegemaran menulis ini lalu berkembang jadi kegiatan membuat buku-buku, momennya terjadi saat saya tahun 2000 bertugas di puskesmas sangat terpencil di pedalaman Kalimantan. Koleksi catatan pengalaman saya pasca tugas, saya kirimkan saja ke penerbit karena naskahnya ternyata sudah sangat tebal. Waktu itu hanya sekadar berniat daripada “dibuang sayang”. Tapi tak saya duga naskah langsung diterima penerbit. Kaget bercampur rasa gembira, akhirnya saya terjun di dunia penulisan buku.

  • Judul bukunya apa, Dok? Terbitan mana?

Mengobati Dengan Hati, terbitan Blantika Mizan Group, 2002.

  • Meski berlatarbelakang ilmu kedokteran, tapi saya lihat buku-buku dokter masuk ke ranah agama, meski masih terkait dengan ilmu-ilmu kesehatan atau kedokteran. Bagaimana respons teman-teman sejawat menanggapi buku-buku dokter?

Dalam menulis, saya tetap berusaha berdiri di orbit kompetensi saya di bidang kesehatan. Saya percaya kehidupan ini saling terhubung. Melalui jendela dunia kedokteran saya berusaha melihat dan menjelajahi dimensi-dimensi kehidupan yang lebih luas.

Sejauh ini respons teman sejawat di dunia medis sepanjang saya pernah mendapat masukan/inbox alhamdulillah baik-baik aja dan ikut mengapresiasi.

  • Setelah menekuri buku terbaru dokter, “Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib”, Saya merasa dokter “sangat dekat” dengan Maiyahan, dan begitu takzim kepada Mbah Nun. Hal apa saja menurut dr. Ade yang istimewa dan perlu kita teladani dari sosok Mbah Nun, selain tentang pandangan beliau tentang kesehatan seperti yang dokter tulis?

Saya mengenal Cak Nun lewat karya tulisnya sudah sejak 1988. Dari 90-an buku-buku beliau, mungkin 80% sudah saya baca. Saya suka cara Cak Nun menyampaikan gagasannya lewat tulisan secara otentik, kontennya kaya dengan muatan keilmuan, kepedulian terhadap fenomena sosial dan dikemas secara indah. Saya followers dari karya-karya jurnalistiknya. Saat mulai kuliah di Jogja, saya sering mengikuti ceramah, kuliah, acara-acara musikalisasi puisi beliau hingga akhirnya bersama berjalannya waktu Maiyah “terbentuk”.

Rasa takzim saya pada beliau, karena bagi saya Cak Nun adalah guru kehidupan bahkan tidak berlebihan kalau disebut sebagai guru bangsa. Orang boleh memilih figur tokoh yang berbeda. Kesimpulan ini saya ambil, setelah mengikuti kiprah beliau terutama lewat buku-bukunya, lalu ikut maiyahan meski umumnya secara online saja.

Cak Nun atau Mbah Nun, seperti yang saya tulis di buku, adalah guru yang setia menemani murid (anak cucunya) berdialog dan menjawab tema-tema kehidupan apa saja secara istiqomah selama lebih dari 25 tahun setiap minggunya dalam acara maiyahan.

Maiyah sendiri acara yang luar biasa, dihadiri puluhan ribu peserta, free dengan durasi 7-8 jam. Saya yakin, belum ada forum seperti maiyah di mana pun di dunia ini. Maiyah mirip pesantren virtual atau semacam sekolah gratis terbuka atau universitas jalanan buat banyak orang. Formatnya amat berbeda dari model institusi pembelajaran yang pernah ada. Maiyah menjadi laboratorium sosial dalam melatih logika berpikir dan seni manajemen kehidupan. Dan Mbah Nun setia menemani kita semua dalam meniti zaman yang penuh pergolakan seperti ini hingga sekarang.

  • dr. Ade membaca buku genre apa saja?

Genre agama, kesehatan, psikologi dan sains populer, biografi dan novel juga.

  • Untuk novel, bisa disebutkan Novel favoritnya?

Yang terakhir Origin karya Dan Brown.

  • Siapa penulis yang paling berpengaruh bagi dokter?

Ya tentu Mbah Nun sendiri. Kalau di dunia medis, saya senang pada dr. Andrew Well dan Deepak Chopra. Di agama, saya suka tulisan pak Komaruddin Hidayat, Nurcholish Madjid, Yusuf Al-Qardhawi dan Murtadha Muttahari.

  • Kenapa buku-buku dokter cenderung menekankan muatan spiritual? Bahkan saya lihat penjelasan-penjelasan dokter di YouTube sudah seperti ustaz dalam menyampaikan materi-materi rujukan keagamaan…

Saya hanya ikuti apa kecenderungan saya aja Mas Anas. Bagi saya semua fenomena sebenarnya bernilai agama, dunia modern saja mungkin yang kemudian mengambil jarak lalu membuat pemisahan dan pemilahan itu sekuler dan yang ini sakral.

  • Terkait covid nih dok, Kini di masyarakat ada semacam kecurigaan terhadap rumah sakit rumah sakit “nakal” yang meng-covid-kan pasien yang sebenarnya tidak covid. Bagaimana tanggapan dokter mengenai hal tersebut?

Kalau ada pihak yang “meng-covid-kan pasien” yang tidak covid mungkin itu hanya oknum kali ya? Secara normatifnya saya tidak percaya ada tenaga kesehatan (dokter) sampai dapat melakukan hal tersebut. Untuk sampai mendiagnosa covid pada seorang pasien itu melibatkan banyak pihak dan sebuah rangkaian alur yang “panjang”. Ada pemeriksaan di IGD, lalu pemeriksaan lewat DPJP (Dokter Penanggung Jawab Program) yang umumnya dokter spesialis Paru atau Penyakit Dalam, lalu diperkuat lagi dengan konfirmasi dari pihak laboratorium (Patologi Klinik) dan Radiologi. Nanti juga akan ada verifikasinya lagi. Jadi sebenarnya dari alur tata laksana medis saja sudah mustahil “mengcovid”kan pasien.

Mungkin yang bisa terjadi, pasien masih dalam status “suspek” (dicurigai covid. Lalu misalnya dalam masa penantian hasil pemeriksaan PCR butuh waktu 3-5 hari. Pasien biasanya dirawat di ruang transisi atau isolasi sampai diagnosis finalnya tegak.

Pasien-pasien covid sendiri 80% bisa tak bergejala secara klinis, jadi masyarakat awam mungkin membaca kenapa orang yang tampak sehat dikatakan covid? Mungkin begitu yang terjadi. Bagi kami pekerja medis, mustahil meng-covid-kan pasien non-covid, itu menyalahi sumpah dan etika profesi. Sudah 342 orang tenaga medis yang meninggal terkena covid; Mereka terdiri dari 206 dokter, dan 136 perawat. Sebuah angka kematian yang juga masuk tertinggi di dunia.

Bila ditanya, kami sama saja dengan seluruh masyarakat, tentu kami lebih senang bila covid-19 ini cepat berlalu. Berat beban dan pembiayaan yang harus dipikul bila pandemi ini berkepanjangan.

  • Menurut pandangan dunia medis, sebenarnya covid ini ke depannya akan hilang atau menjadi akrab dengan kita sebagaimana influenza?

Kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi di depan. Tapi mengutip informasi mereka yang ahli dalam hal ini, mungkin skenario “hidup berdampingan” yang paling possible. Seperti kini kita hidup berdampingan dengan HIV, virus Hepatitis B atau bakteri TBC. Yang penting jangan sampai terus berstatus pandemi, karena dalam kondisi ini entitas virus itu mengganggu kehidupan sosial kita.

  • Apa pesan-pesan dr. Ade untuk masyarakat terkait penanganan bersama pandemi ini?

Seperti saran yg sudah familiar, tetap pakai masker, cuci tangan selalu, jaga jarak, hindari kerumunan,  dan pola hidup sehat tentunya (untuk menjaga dan meningkatkan imunitas). Pandemi ini perlu partisipasi dan kesadaran semua pihak dalam mematuhi protokol kesehatan tersebut. Dengan kebersamaan dan kekompakan kita, insya Allah pandemi ini akan segera berlalu.

  • Sebagai dokter anestesi, apa resiko bagi dokter jika anestesi yang dilakukan gagal?

Resiko terberat, pasien berhenti jantung di meja operasi.

  • Suka duka awal-awal bertugas di Kalimantan bagaimana, Dok?

Untuk menjawab pertanyaan ini dr. Ade membagikan link YouTube yang sangat menyentuh. Kiprah awalnya di pedalaman kalimantan akan menarik ingatan kita pada perjuangan pantang menyerah yang digambarkan film Laskar Pelangi.

Dokter Ade bertugas di desa terpencil yang ia sebut “Desa Ujung Langit” bergulat dengan kerasnya alam, hingga suku Dayak yang takut ketemu orang lain. Hal itu bisa disimak secara lengkap di link youtube berikut:

  • Baik, Dok, suatu kebanggaan dan kehormatan dokter sudah meluangkan waktunya untuk obrolan penuh gizi ini. Mari sama-sama berdoa semoga pandemi covid-19 ini lekas berlalu. Salam, Dok…

Aamiin, terima kasih juga, Mas Anas. Mudah-mudahan kita selalu dapat lindungan dari-Nya, ya. Yang terpenting tetap selalu menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungan sekitar. (Anas)