Warung yang berdiri sendiri di punggung bukit itu beratap seng dan berdinding triplek. Warnanya pudar oleh matahari serta sapuan debu plastik. Di dalamnya, Asri Sutena mengaduk gorengan dalam wajan tua. Minyaknya sudah keruh tapi aromanya tetap mampu menarik orang-orang dari dunia bawah. Orang-orang yang akan bermunculan melalui tanda dengung ekskavator, menghamburnya lalat, dan berlariannya tikus.

Gunungan sampah di sini tingginya mencapai 60 meter dengan luas 10 hektare. Di tanah pendosa ini, Asri sukar membedakan antara bau minyak panas dengan aroma sampah yang menyusup tiap angin bertiup. Hidungnya kebal meski jiwanya tidak. Hatinya masih mencium luka lama tentang tanah yang ia pijak. Semua tentang janji yang dibawa suami kemudian terenggut kuasa dan semesta.

Dulu tanah TPA ini milik Jalakote, suami Asri. Warisan dari ayah berupa sawah datar dengan airnya yang jernih. Namun di tangan Jalakote, sawah itu dijual demi mimpi manis dari Penata Lingkungan. Iming-iming tamanwisata, jalur pendakian, dan retribusi desa membuat Jalakote silap. Nyatanya dalam waktu satu tahun usai pelepasan tanah, bukan truk-truk pengangkut bahan bangunan atau kayu yang warga sekitar lihat. Bukan pula truk pembawa potongan-potongan baja untuk dirakit menjadi wahana keindahan. Sebaliknya, puluhan truk datang berbaris memikul berton-ton sampah pembawa kehancuran.

Protes Jalakote dan warga meledak waktu itu. Auman penolakan dengan acungan golok, cangkul, hingga garukan mereka lantangkan ke operator ekskavator sampai Kantor Penata Lingkungan.

“Ini bukan tempat piknik, ini neraka!” kata Jalakote.

“Hancurkan!”

“Ya!”

“Ya!”

“Ya!” seru warga yang lain.

Tapi lamat-lamat suara warga tenggelam di antara deru alat berat dan lembar-lembar rupiah.

Asri hela napas kesadarannya. Perempuan tak didengar dalam urusan tanah, apalagi yang menjual adalah suaminya sendiri. Mengetahui semua telah terjadi Asri berinisiatif membuka warung gorengan di atas bukit ini. Ia menyadari tempatnya berdagang bukanlah tanah biasa. Sumpah dendam dari warga di bawah lereng menjadi alasan terbentuknya bukit ini. Ini tanah yang sakit. Tanah yang menggeliat tiap malam dan menggerutu tiap datangnya hujan.

Asri menoleh ke jam dinding. Jarumnya menuju angka 11 siang. Ekskavator telah lama menggerung memecah dan menumpuk. Para pemulung juga merangkak naik layaknya serdadu. Mereka bergumul bukan hanya bawa karung dan cangkul, tapi juga cerita dan budaya sendiri.

Tiga orang pemulung yang nampak kepayahan terlihat berjalan mendekati warung.

“Mbak Asri ekstra jos susu, satu.”

“Saya kuku bima saja.”

“Kopi satu ya.”

Permintaan dari para langgananya itu segera Asri tanggap dengan gerak cekatan. Mereka lalu duduk melingkar di kursi sederhana. Lalat mengerubung lebih ribut dari ratusan dengung nyamuk. Ujang salah satu langganan tampak melinting rokok dari kertas koran. Pemuda kurus kisaran 25 itu sesekali menggelengkan kepala menikmati alunan dangdut yang diputar Asri.

“Mbak Asri, kapan buka warung malam-malam lagi? Kecut gak ada kopi,” katanya sambil mengambil tahu goreng. Menyulum dalam ke mulut dan ah, peduli setan jika satu dua lalat ada yang masuk.

“Kapok, Jang.”Jawab Asri sambil mengaduk minuman saset.

“Hantu?” tukas Sobri ikut. Dia pria berusia kisaran 45 tahun, lebih tua 10 tahun dari Asri.

“Enggak kepikiran itu, Kang. Ular yang Asri khawatirkan.”

Ujang tertawa kecil.

“Oh iya, Mbak. Bagaimana keadaan Kang Jalakote?”

Asri menaruh minuman ekstra joss pesanan Sobri.

“Kang Jala makin murung. Sesalnya enggak pulih-pulih.”

“Sebagian warga menyalahkan keputusannya. Pasti itu yang buat Jalakote terpuruk,” kata Karman yang juga nimbrung.

“Tapi saya percaya niat Kang Jala sebenarnya baik, Kang.” Jawab Ujang.

Sobri setuju lalu menukas, “Suamimu memang bukan orang jahat. Dia hanya terlalu percaya pada mimpi yang salah.”

Asri hanya memandang kopi yang diaduknya. Tak lama tiba-tiba terjadi satu keributan antara pemulung dan petugas ekskavator. Ketiganya juga tertarik dengan suara sumpah serapah yang cukup nyaring itu.

“Operator tengik! Bukankah sudah kutandai di tempat itu agar tak dikeruk! Mengapa masih kau lakukan!” hardik satu pemulung.

“Sampah di sini bukan milikmu sendiri! Tempat itupun juga bukan kuasamu. Aku hanya jalankan tugas!”

“Tugasmu hanya menghambur lalat dan tai!”

Operator tak terima. Dia yang bertubuh gempal berkulit gelap segera turun.

“Kau bilang apa, hah!” tantangnya duel dan merangsek. Tak ayal terjadi pergumulan seru. Kubangan sampah itu sekarang seolah menjelma Colosseum, tempat para gladiator bertarung.

Ujang, Sobri, dan Karman yang sudah di lokasi segera ikut untuk menengahi. Namun sayang, mungkin karena hari yang membakar dan suasana yang begitu pekat oleh kotoran, indera operator yang lain mengendus bahwa tindakan itu merupakan dukungan kepada pihak pemulung. Alhasil para operator juga terjun maka jadilah bentrokan yang tak bisa terelakan.

Asri yang kesal segera mengamuk sejadi-jadinya. Dia ambil sebuah balokan dan masuk ke arena. Asri memukul semua petarung di sana sambil memekik, “Ini bukan sabung ayam, keparat!”

Bak! Buk! Bak! Buk!

Suara pukulan balokan kayu mengenai segala tempat di badan para pria yang sedang bergumul.

“Kalian ini manusia bukan bintang? Jangan saling makan!” lanjutnya lantang.

Aturan adalah aturan, dan salah satu dari aturan di sini sebenarnya ialah siapa yang menemukan ‘spot emas’ wajib berbagi. Nyatanya segelintir pemulung berwajah tamak. Mereka yang menandai tumpukan emas sampah dengan kain sobek atau botol tergantung itu salah satu buktinya. Sebuah kode diam agar tak direbut. Namun solidaritas pemulung kadang kental tanpa pikir apalagi jika bergesek dengan petugas lapangan seperti operator.

Asri menyungging menatap kerumunan pria yang usai bersitegang itu. Memang sungguh ajaib, amukan Asri barusan terbukti efektif. Bentrokan reda dengan saling pisah menjadi dua kubu. Asri sadar bahwa diam mereka sekarang sesungguhnya bukan karena takut melainkan malu.

*

Senja merebang merah bersepuh kelabu, Asri berjalan pulang menyusuri jalan setapak yang licin oleh lumpur dan sisa plastik basah. Langkahnya lelah bercampur dengan pikirannya. Sekelumit bayang membekas akibat bentrok siang tadi. Dirinya tak habis pikir perkara sampah saja menjadikan seseorang seberingas itu. Ia embuskan napas semangat untuk mencoba berdamai dengan keadaan. 

Menyusuri petakan jalan, Asri berkeinginan untuk cepat sampai rumah lalu memasak untuk Jalakote.  Tiba di ambang pintu rumah, keadaan sore ini sedikit beda. Pintu rumah terbuka sedikit. Tak ada bau rokok yang biasa Jalakote nyalakan. Asri lalu memanggil pelan, “Kang?”

Sunyi. Asri dorong daun pintu. Dan di ruang tengah, mata Asri langsung membelalak menyangkal keadaan yang tengah ia saksikan.

“Akang Jalakote!” teriaknya memburu sesosok tubuh tergantung tali yang diikat dengan kuda-kuda rumah.

“Tolong! Tolong!”  pekik Asri meraung menggelijang.

Jeritan Asri mengguncang. Tetangga berlarian datang. Ujang, Sobri, dan Karman tak lama tiba, menggiring warga lain. Beberapa menangis. Beberapa memaki. Tapi sebagian besar hanya terdiam, sebab mereka tahu beban Jalakote memang tak tertanggungkan.

“Mungkin ini jalan yang Kang Jala rasa paling ringan,” ujar Ujang sambil menghapus air mata dengan punggung tangan.

Asri tak menjawab. Yang terlihat kini hanya suara raungan sambil menggoyang-goyang jasad dingin suaminya. Mata Asri kemudian tertarik dengan secarik kertas yang ada di saku celana Jalakote. Ia segera ambil kertas itu dan memasukkan ke kantong bajunya.

Malam duka menjelang. Langit seperti ikut berkabung. Desau angin menyeruak beraromakan busuk tumpukan sampah di atas bukit. Rinai turun pelan-pelan lalu berubah jadi deru hujan. Kilat menyambar jauh di balik bukit.

Di dalam rumah, persiapan perawatan jenazah dimulai. Tetangga perempuan mulai berkumpul dengan pakaian kelam pertanda ikut merasakan duka. Manakala Surah Yasin mulai mendengung khidmat di antara pentakziah yang beradu dengan ganasnya hujan. Tanpa disadari sekonyong-konyong suara menggelegar terdengar dari arah puncak TPA.

Blammmmsss!

Bumi bergetar hebat. Gelegar itu bukan petir. Bukan pula gunung meletus. Tapi ledakan! Ledakan besar bercampur aroma belerang yang langsung masuk ke dalam rumah Asri.

“Bukit itu meledak!” teriak Ujang di teras rumah.

Api oranye menyala dari balik tumpukan plastik. Gas metana yang mengendap akibat kontraksi sampah organik mengembus keluar. Jilatannya  yang bercampur api kebiruan menyembur seperti lidah setan. Seketika lereng bukit runtuh. Sampah basah, cairan limbah, dan serpih-serpih plastik terbakar menjelma tsunami, menggulung desa di bawah.

Asri yang duduk di samping jenazah sambil membaca pesan terakhir Jalakote itu hanya sempat mendengar suara seperti truk raksasa terguling sebelum tubuhnya terseret bersama reruntuhan.

“Tolong!”

“Gusti tolong!”

“Akh!”

Semua pekik tersapu gelombang sampah yang cadas bergemulung tanpa ampun. Lantai rumah hancur, dinding kayu terbelah, lampu minyak padam, dan semuanya gelap bernuansa mencekam. Tangis berubah teriakan. Teriakan lalu menyusut menjadi kesenyapan.

*

Kira-kira sejam kemudian seperti tikus mengais sampah, Asri merangkak keluar timbunan bencana. Wajahnya kuyu dalam sapuan hujan. Terasa basah dan lembek bagian belakang kepala Asri. Berdenyut dan sungguh memusingkan. Ia menarik tubuhnya yang setengah mati rasa. Di sekelilingnya ia pandang dalam lamat-lamat cahaya. Sinar itu mulai muncul dari para petugas damkar yang melakukan evakuasi. Asri melihat puluhan tubuh pucat terkulai tak ubahnya tumpukan sampah tempat biasanya ia cari makan. Ia amati sekilas tubuh Ujang, Karman, dan Sobri juga beku dalam kematian yang merendahkan. Gelombang sampah api dari lelehan plastik bersama batu dan kayu mengubur para jasad di sana tanpa secuil pun keraguan.

Asri melenguh dalam napas penghabisan. Cahaya itu mulai mendekat menandakan ada seorang yang mengetahui keberadaannya. Namun pandangannya mulai memudar oleh pusing yang tak tertahankan. Sebelum semuanya usai, ia julur tangan kirinya yang sejak tadi tergenggam. Derap langkah seseorang mendekat mampu telinganya dengar meski embusan yang keluar dari hidung Asri merupakan udara terakhir yang singgah dari paru-parunya.

*

Jam merangkak ke angka 3 dini hari saat petugas Ramdhan memasukkan jasad Asri ke dalam mobil ambulan yang telah tiba. Hujan kini telah reda namun tidak dengan nestapa. Ramdhan sungguh menyayangkan musibah ini. Sebuah pelajaran berharga tentang pengorbanan wilayah akibat ego buruk dari penataan limbah sampah sedang ia saksikan. Terduduk di kursi ambulan dan menatap jasad Asri yang sungguh menyedihkan. Ramdhan lalu membuka kembali catatan yang ia temukan di genggaman tangan Asri. Dengan merangkum wajah nanar, Ramdhan lihat catatan kematian itu. Tertulis demikian:

Maafkan Akang, Asri. Bibit mimpi yang Akang beli dan gantungkan kepada para manusia serakah itu ternyata berduri. Bibit yang seharusnya menyemaikan cinta dan keindahan di desa kita nyatanya tumbuh sebagai duka serta kehinaan.

*) Image by istockphoto.com