KURUNGBUKA.com – Yang mengaku bukan kritikus sastra tetap saja mendapat kehormatan selama puluhan tahun. Ia tetap memberi pengaruh yang besar dalam sastra di Indonesia. Sosok asing yang mengakrabi Indonesia. Orang itu bernama A Teeuw. Ia memang terkenanl dam memberi banyak warisan di Indonesia. Namun, tak ada peringatan 100 tahun A Teeuw, yang menunjukkan kenangan dan pemaknaan.
Pada masa 1950-an, ia terkenal dengan buku yang diterbitkan Pembangunan berjudul Pokok dan Tokoh. Ia membahas sastra Indonesia berdasarkan buku-buku yang terbit dan para pengarangnya. Konon, buku itu sangat digemari dan bergunan dalam arus perkembangan sastra di Indonesia. Buku kecil yang wajib dipelajari dan dikoleksi bila ingin mengetahui sastra Indonesia. Yang menulis adalah orang Belanda.
Di sastra Indonesia, kemunculan para pengamat asing sering mendapat perhatian. Mereka malah dipuja beralasan adakemis atau reputasi internasional. Pokoknya, pembahas sastra Indonesia asal Belanda, Amerika Serikat, Prancis, Rusia, Jerman, atau Australia mudah mendapat tempat terhormat. Mereka biasa menulis dalam bahasa Inggris atau asing, setelahnya terbit edisi terjemahan bahasa Indonesia.
Pada masa yang berbeda, orang-orang mengetahui buku-buku A Teeuw yang terkenal. Ada yang suka dengan buku berjudul Tergantung Pada Kata. Ada yang menganggap buku Membaca dan Menilai Sastra itu keren saat digunakan dalam perkuliahan. Padahal, A Teeuw juga menulis buku mengenai filologi dan bahasa Indonesia. Di Indonesia, ia telanjur “milik” sastra.
Bukunya yang seolah buku babon di universitas-universitas adalah Sastra dan Ilmu Sastra. Pustaka Jaya menerbitkannya dalam sampul dua warna. Pada suatu masa, warnanya biru. Ada pula yang edisi sampulnya warna merah. Buku sering cetak ulang. Artinya, buku itulah yang “menjamin” mutu perkuliahan sastra di Indonesia.
Buku yang terbit pada 1984 itu diresensi oleh Sunu Wasono dalam majalah Optimis edisi Januari 1985. Yang ditampilkan adalah foto penulis yang sudah tua dan berkacamata, bukan foto sampul buku. Resensi hanya pendek tapi makin memberi pengesahan bahwa A Teeu penting dan perlu dalam sastra Indonesia.
Pengakuan yang diberikan Sunu Wasono: “A Teeuw adalah sarjana Barat (Belanda) yang aktif dan antusias mengikuti perkembangan sastra Indonesia, lama maupun baru.” Yang pernah kuliah di jurusan sastra Indonesia atau rajin dalam kancah sastra Indonesia memang sulit menghindari A Teeuw. Beberapa orang mengatakan ia lebih berwibawa ketimbang HB Jassin.
Resensi yang ditulis Sunu Wasono mirip tugas perkuliahan. Kita tetap membacanya sambil mengenang buku lawas yang terkenal. Penilaian yang diberikan: “Buku ini terlahir dari sarjana Barat, dibesarkan pula di Barat dan yang mempunyai pola kerangka berpikir Barat. Maka, tidaklah mengherankan jika buku ini merupakan hasil ilmu sastra sebagaimana adanya di dunia Barat…” Sastra modern di Indonesia bertumbuh memang pengaruh besar Barat. Jika kita mau membantah sebaiknya membaca buku-buku garapan Sutan Takdir Alisjahbana. Pada masa sekarang, siapa masih mau membaca dan percaya Sutan Takdir Alijshabana? Kini, sastra dalam asuhan Barat itu makin menguat dan membesar.
Setelah puluhan tahun tergunakan di sekolah dan universitas, buku-buku baru yang menyaingi Sastra dan Ilmu Sastra bermunculan. Yang menulis adalah orang-orang Indonesia yang mutunya diragukan. Kita telah terjebak bahwa studi atau tulisan orang asing ditadirkan selalu bermutu. Jadi, yang dilakukan adalah penerjemahan buku-buku babon dari pelbagai negera. Buku-buku itu digunakan dalam perkuliahan, yang mengesankan Barat telah mendarah-daging dalam sastra Indonesia.
Pujian yang tidak mungkin tertahan disampaikan Sunu Wasono di akhir resensi: “… terlepas dari segala kekurangan yang ada, buku ini adalah buku pertama di Indonesia, bahkan dunia, yang berisi atau menyajikan teori sastra secara lengkap (menyeluruh).” Apakah ia jujur atau bohong?
A Teeuw mungkin masih disebut namanya di perkuliahan. Siapa masih bisa menemukan buku-bukunya di perpustakaan sekolah, univeritas, atau daerah? Banyak yang mengaku tidak membutuhkan lagi buku-buku A Teeuw. Ada yang penasaran ingin membuktikan ketangguhan A Teeuw yang ikut menentukan album perkembangan sastra di Indonesoia.
Jadi, umat sastra Indonesia mutakhir jika tidak mengebali A Teeuw atau tidak pernah membaca buku-bukunya jangan dicap berdosa. Yang mampu membaca buku-buku garapan A Teeuw adalah orang-orang yang menua. A Teeuw sulit cocok dengan kaum muda yang mengaku suka sastra tapi bukan pembaca yang rajin dan mustahil menjadi kolektor buku.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











