Pagi ini aku dibangunkan oleh bau asap yang menyengat. Asap itu masuk melalui celah-celah kamar, mengusik tidurku dan membuatku tersedak. Dari aroma dan warnanya, bisa kutebak ini berasal dari kain yang dibakar. Tapi, siapa juga yang sepagi ini sudah bergelut dengan api?
Mataku terpaksa membuka saat napas mulai tersumbat. Sambil terbatuk-batuk, aku mengintip dari jendela yang mulai berlubang dimakan rayap. Hari masih gelap, tapi aku melihat mamak. Tak salah, mamak sedang membakar setumpuk kain di kebun kosong di samping kamar. Aku buru-buru keluar.
Aku menunggu mamak di dapur sambil memasak air. Bahkan ayam-ayam di rumah kami belum berkokok, tapi kenapa pula mamak sudah sesibuk itu? Sambil menunggu air di ketel matang, aku menuju kamar tamu. Aku hanya ingin memastikan penglihatanku. Benar dugaanku, mamak membakar sprei kuning bermotif batik yang kemarin tergelar di kamar tamu. Jantungku berdegup kencang. Amarah mamak sepertinya sudah berada di pucuk kepala.
Semua bermula saat kemarin Mas Ganang beserta anak dan istrinya berkunjung ke rumah. Mamak sangat antusias menyambut anak lanang satu-satunya yang akhirnya pulang setelah bertahun-tahun ditugaskan di pulau ujung Timur Indonesia. Apalagi pada cucu pertama mamak yang selama ini hanya dijumpa melalui video call saja. Saking senangnya mungkin mamak akan menggendong cucunya ke balai desa, memamerkan ke orang-orang betapa menggemaskannya lelaki mungil itu.
Tak lupa, mamak memasak segala macam makanan. Hidangan mewah khas hari raya terhampar di meja.
“Ini kesukaan masmu,” ucap mamak sambil menuang kuah opor ayam kampung yang kental dari kuali. Walau aku lelah seharian membantu mamak memasak di dapur, tapi tak apa. Semua terbayar dengan senyum lebar mamak.
Akhirnya, tepat pukul dua siang, sebuah mobil SUV hitam melenggang ke pelataran rumah. Kebahagiaan di raut muka mamak sudah tak bisa tergambar. Mas Ganang memang kebanggaan keluarga kami. Setelah bapak berpulang, kesedihan mamak sedikit terobati dengan diterimanya Mas Ganang sebagai abdi negara. Di setiap acara, mamak selalu mengelu-elukan anak lelakinya. Mamak begitu bangga karena akhirnya anak si petani bisa mengangkat derajat keluarga.
Ah, tapi sepertinya harapanku pada kakakku satu-satunya terlalu muluk-muluk. Kukira mempunyai kakak seorang PNS yang mendapat gaji tetap bisa sedikit menyelamatkan hidupku. Kukira tiap bulan akan dikirimi uang saku. Kukira aku akan dibelikan sepeda, supaya aku tak usah capek-capek jalan kaki ke sekolahku yang jauh. Nyatanya, tak ada sepeserpun kudapat. Seusai pendidikan, Mas Ganang meminang gadis pujaannya, tanpa sempat membahagiakan aku dan mamak. Tapi, lagi-lagi tak apa. Asal mamak tetap senang, asal mamak tetap bangga. Mungkin ukuran bahagia mamak tak sama sepertiku yang ingin dibelikan sepeda baru. Mungkin kebahagiaan mamak cukup dengan melihat anaknya berseragam, menikah dan mempunyai cucu.
Mas Ganang menyantap masakan mamak dengan lahap, layaknya anak yang telah lama merindukan masakan ibunya. Tapi tidak dengan istrinya. Sedari tadi ia memegang pipinya. Katanya lagi sariawan dan tidak nafsu makan. Ia berusaha menyuapi Bagas, walau kenyataannya anak itu juga bolak balik menggelengkan kepala. Mamak sedikit khawatir, tapi Mas Ganang bilang memang Bagas sedang agak rewel karena kelelahan.
“Tenang, Mak. Nanti kalau lapar juga minta makan.”
Setelah sedikit berbincang dan melepas rindu, mereka bertiga beristirahat di kamar tamu. Dulu kamar itu adalah kamar Mas Ganang. Walaupun kamar itu sudah bertahun-tahun kosong, tapi mamak tak pernah terlewat membersihkannya barang sehari saja. Tiap seminggu sekali spreinya diganti. Setelah mengganti sprei, sering kudapati mamak mengusap-usap kasur itu. Kadang pula mamak kelelahan dan terlelap di sana. Pasti rasa rindu itu begitu menyiksanya.
Mas Ganang memanggilku saat aku menuju kamar sebab ingin beristirahat sebentar. Aih, apakah aku akan dibelikan sepeda baru? Aku sedikit gugup.
“Kamu tahu di mana pel dan sapu?” aku ternganga saat mendengar pertanyaannya. Aku ingin bertanya untuk apa, tapi urung kuucap. Aku menunjuk sudut dapur dan ia bergegas mengambil sapu rayung beserta pel yang berjajar di samping pintu.
Didorong rasa ingin tahu, aku menempelkan telingaku ke dinding kamar tamu yang bersebelahan dengan kamarku. Sayup-sayup kudengar kakak iparku mengeluh kamar itu kotor. Dia dan Bagas merasa tak nyaman. Sesaat kemudian mamak datang dan bertanya mengenai pemandangan aneh itu. Mas Ganang hanya menjawab kalau Bagas menumpahkan makanan hingga ia harus membersihkan lantai kamar. Sejak saat itu aku berpikir pasti ada yang tidak beres dengan kakak iparku.
Malam harinya, Bagas kembali rewel. Aku dipanggil mamak untuk ikut membantu. Aku cukup terkejut saat mendapati sprei kuning bermotif batik beserta sarung bantalnya sudah tergulung di depan pintu. Kini di kasur tergelar sprei berwarna putih bersih yang bukan milik kami.
“Sudahlah, Mak. Anak kecil memang biasa seperti itu. Kalau bukan di rumahnya suka rewel dan enggak bisa tidur,” aku mencoba menenangkan mamak yang sedang menaruh sprei itu ke dalam ember.
“Besok saja, Mak,” aku mencegahnya mencuci sprei itu karena sudah malam. Air muka mamak sulit kugambarkan. Segera kutuntun mamak beristirahat di kamar. Jika mendengar bisik-bisik kakak iparku tadi, rasanya sulit untuk tak berprasangka buruk. Sejak tadi ia tak makan, mengeluh kamarnya kotor padahal aku tahu setiap hari mamak membersihkan kamar itu, hingga dengan sengaja membawa sprei ganti yang tak ku ketahui entah untuk Bagas atau untuk dirinya sendiri.
Setelah memastikan mamak sudah beristirahat, akupun bergegas menutup mata. Rasanya hari ini begitu melelahkan. Tak sampai lima menit aku sudah terlelap. Namun sekitar dua jam kemudian, suara berisik kembali terdengar dari kamar tamu. Beberapa saat setelahnya mereka sudah berdiri canggung di depan pintu.
“Kalian mau kemana malam-malam begini?” tanpa ragu mamak bertanya, terlebih saat melihat Mas Ganang menenteng tas besarnya.
“Maaf, Mak. Sepertinya kami mau menginap di hotel. Bagas rewel sekali kalau tidur tanpa AC,” jawab Mas Ganang sedikit ragu. “Besok kami kesini lagi, Mak,” lanjutnya.
Tepat pukul sebelas, mobil hitam itu pergi ditelan pekat malam. Aku tak berani menatap wajah mamak dan segera beringsut ke kamar. Entahlah, padahal bukan aku yang berbuat salah.
***
Mamak masuk ke dapur. Bau asap menyengat seketika memenuhi ruangan.
“Kenapa dibakar, Mak?” tanyaku memberanikan diri.
“Kau sudah bangun rupanya,” mamak tak menjawab pertanyaanku. “Sudah azan. Mamak mau siap-siap ke musala,” hanya itu yang dikatakan mamak, disusul dengan langkah kecilnya menuju kamar mandi. Aku cukup lega karena isi kepala mamak tak sepanas air yang baru saja mendidih ini.
Aku segera menyeduh dua gelas teh hangat seperti kebiasaan kami tiap pagi, lantas bersiap-siap untuk salat dan mandi. Saat melewati kamar mamak, aku tergerak untuk mengintip ponselnya yang masih menyala. Walau ponsel itu buram dan pinggirannya retak, namun pesan yang tertulis di layarnya begitu terlihat jelas.
Maaf, Mak. Ganang lanjut pulang ke Jakarta.
Seketika terlintas wajah mamak yang begitu semangat menyiapkan opor ayam dan membersihkan rumah untuk menyambut anak kebanggaannya. Seketika terlintas wajah mamak yang ingin menggendong cucunya ke balai desa. Seketika terlintas wajah mamak yang tiap hari merindukan anak lanangnya hingga terlelap di atas kasurnya. Lututku lemas, aku tak sanggup membayangkan jadi mamak.
Mungkin kalau aku jadi mereka, aku hanya perlu sedikit berpura-pura. Kita tidak pernah tahu bahwa hati seorang ibu begitu rapuh, sedikit salah ucapan saja bisa menyakiti hati lembutnya. Orang memang mudah berubah. Mungkin mereka berubah karena keadaan atau karena pasangan. Tapi disakiti orang yang paling kita rindukan kehadirannya, rasanya tak bisa terbayangkan.
Aku mengintip dari jendela kamar yang mulai berlubang dimakan rayap. Sprei kuning bermotif batik itu sudah lenyap bersama rindu yang belum tuntas. Api di sana memang telah padam, tapi kurasakan asap di kepala mamak masih begitu pekat.
*) Image by istockphoto.com












Bagus
Bagus banget cara ngegambarin rapuhnya hati seorang ibu, bikin aduk-aduk emosi.